Thursday, September 29, 2011

Ndoro Kakung


Orang tua itu semestinya bagi Kinah pantas dipanggil kakek atau mbah kakung atau eyang kakung seperti mereka, seperti para cucu memanggilnya jika berkunjung saat liburan.

Tetapi simboknya lebih suka dia memanggil orang tua itu Ndoro Kakung, sebagai panggilan penghormatan tertinggi majikan mereka. Dan jika para keluarga besar Ndoro Kakung berkumpul, maka panggilan terhormat disebut Ndoro Sepuh Kakung, dan berurut kepada mereka para anak Ndoro Kakung dan Ndoro Putri. Para cucu pun memiliki panggilan terhormat Den Mas dan Den Putri.

Simbok selalu berwanti-wanti keras terhadap Kinah, Sakinah nama panjangnya, anak semata wayangnya. Semua ini karena mereka hidup, bekerja dan bernaung di rumah tua megah Ndoro Sepuh Kakung Sukaca.

Simbok Kinah bernama Warsinem. Sedari gadis telah bekerja di rumah besar itu sebagai pembantu. Ayah Sakinah entah kemana. Sakinah tak pernah mengenalnya. Simboknya pun tak pernah memberitahu, bahkan memilih diam dan pura-pura sibuk kembali pada pekerjaannya.

Kinah pun menghormati Ndoro Kakung sebagai majikan yang baik. Meski sewaktu kecil pernah terlontar pertanyaan lugu bocah kepada Simbok. Betapa senangnya jika Beliau menjadi kakeknya sungguhan. Dan terbersit pula keinginan untuk ikut memanggil panggilan yang sama seperti para cucu itu. Tetapi Simbok pasti marah besar. Keinginan Sakinah ini sempat menjadi iri jika melihat para cucu berkunjung. Ingin pula dipeluk, dicium, disayang. Seperti sebuah kerinduan yang ikut menghentak.

Kinah segera membuang jauh keinginan itu. Simbok telah mengingatkan betapa beruntungnya mereka bekerja pada Ndoro Kakung.

**

Hari selepas siang. Sakinah pulang bekerja sebagai buruh pabrik. Rumah besar Ndoro Kakung terlihat ramai. Bendera putih tanda kematian di ujung jalan membuat tercekat.

Di belakang rumah dia tak menemukan Simbok. Pertanyaan besar menggantung. Mengintip keheranan ke dalam ruang tengah, Simbok sedang menangis, dan dihibur banyak tetangga, juga para Ndoro, anak majikan Ndoro Sepuh.

“Simbok,” perlahan memamggil dan beringsut menghampiri.

“Oalah, Nduk, Ndoro Sepuh sudah meninggal, tadi pagi,” di sela isak tertahan Simbok berusaha menjelaskan.

Tercekat hati Kinah, segera menggenang di sudut mata kesedihan.

“Nduk,” perlahan Ndoro Putri Woro, putri ketiga Ndoro Sepuh menghampiri dan menepuk bahu Kinah.

“Ada yang ingin kusampaikan padamu, jangan kaget. Sebenarnya Kinah, kamu itu anak ragil, saudara bungsu kami. Ya, Pak Sukaca itu sesungguhnya Bapakmu kandung, sesuatu aib keluarga yang terdahulu harus ditutup oleh keluarga ini. Warsinem memang ibu kandungmu, dan bukan istri sesungguhnya.”

Seolah petir mengagetkan memecah buncah kesedihan. Kinah hanya sanggup bersimpuh.

“Kalau mau berikan maafmu, Kinah dan penghormatan terakhirmu pada Beliau, Bapakmu,” Ndoro Putri Woro lembut berkata.

Beringsut  masih bersimpuh Kinah mendekati jenasah Bapaknya. Entah, dia harus memanggil bagaimana.

Hanya dalam hati dia sanggup berkata, “Siapa pun engkau Ndoro, terima kasih telah memberi kami kebahagiaan, jika diijinkan aku ingin menciummu sebagai tanda sayang dan hormat, dan pertama kali menciummu sebagai anakmu.”

Kinah pun sebentar memejam mata, masih menggenang mencium jari kaki Ndoro Kakung, dalam dan hormat.


#15harimenulisdiblog

Wednesday, September 21, 2011

Tini dan Warti


Selendang batik harum beraroma malam dan klerak. Pemberian Bapak ketika aku berumur 12 tahun. Aku bangga dengan selendang ini, seperti aku bangga dengan Bapakku.

Masih saja harum beraroma malam dan klerak.

Tiga hari lalu anak lelaki kami lahir. Thole, begitu nanti kami akan menyebutnya. Anak yang telah dinantikan dua tahun berlalu perkawinan kami. Tetapi kebahagian sekaligus duka bagiku, istriku tercinta pun telah meninggal dunia saat melahirkan Thole.

“Kasihan kamu Thole, tapi jangan khawatir Nak, Bapak siap menjagamu, karena akulah juga Ibumu kini.”

Kelak selendang batik ini kuberikan pada anak lelakiku. Semoga dia selalu bangga pada bapaknya dan kakeknya. Pernah diusia muda menjadi bintang sinden panggung ludruk. Sebagai Tini dan Warti.

untuk jejakubikel

Tuesday, September 20, 2011

Tegar


“Semua sudah siap Ma. Baju Kurung, kain panjang, celana dalam, dan BH. Obat-obatan sudah masuk koper. Mama hati-hati ya.” Suprapto dengan setia seperti biasanya membantu Nunik istrinya yang seorang aktivis feminis. Besok dia menjadi pembicara di satu seminar di Jakarta.

“Terima kasih, Pa.”

Satu ucapan terima kasih langka dari Nunik, yang nyaris jarang diucapkan kepada suaminya.

Siang yang penat selepas menjadi pembicara, Nunik menerima seluler dari asistennya. Sebuah kabar buruk menjadi kepulangan bersegera. Belahan jiwa yang telah tiada.

“Papa,” isak tertahan dari seorang perempuan yang tegar. Ada hati terlecut. Sebagai manusia tetap ada cinta yang patah dan air mata. Sekuat diri sebagai perempuan, dia tetap seorang istri Suprapto.


untuk jejakubikel

Bukan Itu


“Say, aku sudah di apotek. Duh, aku bingung terlalu banyak pilihan. Semestinya tadi sama kamu jadi kita bisa memilih yang cocok.” Indra berbisik pada selulernya hati-hati. Takut pembicaraannya didengar para penjaga dan pengunjung lain.

Waktu hampir menunjukkan tengah malam. Indra secara rahasia hendak membeli kondom demi keinginan bersama Dawi, kekasihnya. Bukan kekasih pertama, tapi kekasih yang disembunyikan.

Indra masih terlihat bingung memilih. Bercinta bukanlah pertama kali baginya. Tetapi memakai kondom adalah kali pertama baginya.

“Jadi Say, aku membeli yang mana?” Indra mendesak.

“Sayang, kamu tak perlu membelinya, percuma. Toh, 3 bulan lalu kita sudah melakukan, dan kini kamu hanya perlu membeli sebuah test pack saja. Aku terlambat bulan.”


untuk jejakubikel

Saturday, September 3, 2011

pasar malam itu

~ hanya kerinduan kelak membawaku pulang~

22 Juli 2011
Dear adik. Ada pasar malam di desa sebelah. Ingatkah kita pernah membeli gula kapas? Dan kita memakannya saat pulang berjalan kaki. Pelan-pelan. Habis. Sebelum sampai rumah agar kita tak dimarahi Ibu karena membeli dan memakan gula kapas itu.

23 Juli 2011
Dear Adik. Ada pasar malam di desa sebelah. Tadi melihat balon Nemo si ikan badut. Hanya saja dia bersirip sama besar. Kamu ingat kisah ini. Sama seperti kita yang dengan segala kekurangan pergi dari rumah demi melihat dunia yang lebih luas. Dan kembali demi sujud terima kasih pada Ibu dan Bapak.

24 Juli 2011
Dear adik . Ada pasar malam di desa sebelah. Kembali ramai setelah waktu lalu sebagai tempat penampungan para pengungsi dari Merapi . Kini kehidupan terus berjalan. Sebuah cita-cita menjadi tujuan.

26 Juli 2011
Dear Adik. Ada pasar malam di desa sebelah.
Donat, untir-untir, tahu petis banyak makanan dipersiapkan untuk dijajakan nanti malam.
Dulu kita sering hanya dapat melihat dan menghirup kelezatan. Tak mungkin kita dapat membelinya. Adzan berkumandang bergegas kembali ke rumah. Masakan Ibu pasti lebih lezat. Yang terbaik.

28 Juli 2011
Dear Adik. Ada pasar malam di desa sebelah. Ingatkah kita diam-diam membeli sepasang kelinci setelah tangisanmu semalam merengek ingin membeli mereka? Kemudian kita beri nama Plendas dan Plendus. Lucu.

30 Juli 2011
Dear Adik. Tak ada lagi pasar malam di desa sebelah. Besok memasuki bulan Ramadhan. Satu bulan lagi. Semoga kelak Idul Fitri dan kerinduan membawaku pulang.


untuk kompasiana

Thursday, August 18, 2011

akhiri saja


Om Yoris. Demikian mereka memanggil adik iparku. Dia adalah adik yang bukan sebenarnya dari suamiku. Yoris adalah anak angkat mertuaku yang mereka temukan didepan pintu rumah 38 tahun lalu, hingga kini menjadi adik bagi Indra, suamiku.

Masih ada satu lagi adik iparku perempuan, kali ini adik kandung suamiku. Anin namanya, usia 37 tahun, memiliki seorang putri yang cantik, Kania usia 11 tahun, sebaya dengan putraku Abi.

Sebenarnya satu rahasia besar di keluarga kami. Kania adalah anak hubungan tak dikehendaki Yoris dan Anin, tetapi Anin tak pernah mau dinikahkan dengan Yoris. Hingga kini kami pun masih menyimpan rahasia ini bahkan kepada Kania sebagai anak kandung mereka. Sampai kapan kami menyimpan hanya Tuhan yang menghendaki.

Yoris berusia 42 tahun, terbaring di ruang ICU. Sakit parah. Entah namanya. Saat ini kritis dan tak pernah sadar dari koma yang panjang. Hampir satu bulan. Hanya aku dan Indra saja bergantian menjaganya. Pernah kami meminta Anin untuk ikut berjaga. Ani selalu menolak. Selalu disertai marah.


Hari itu kami menghadap dokter. Kekalutan kami yang lalu, ketika tim dokter menyatakan menyerah terhadap Yoris. Bahkan menyarankan euthanasia. Satu kata yang ingin mengakhiri segalanya.

***

“Tidak. Aku bilang tidak. Aku tak bisa menjaga mas Yoris, mbak tentu mengerti,” Anin berkata keras kepadaku. Anin yang biasanya lemah lembut.

“Sehari saja Anin. Satu hari. Aku dan mas Indra sudah tak bisa menyesuaikan jadwal.” Aku masih merayunya. “Aku mengerti Anin, kamu tak perlu banyak bercakap, diam sajalah, dalam koma dia tetap tahu jika ada orang lain bersamanya. Anin, dia masih mengharapmu.”

“Andai kamu tahu mbak, yang lebih menyakitkan.” Anin membuang hembus kekesalan dan meninggalkanku.

Aku menghela menahan kecewa.

“Sudahlah jika dia tak mau, tak perlu kita memaksanya,” nada kecewa juga samar terdengar dari mas Indra. “Nanti aku beritahu dia bahwa Yoris butuh persetujuan dari kelurga untuk euthanasia. Kasihan Yoris.”

Aku hanya mengangguk selepas aduanku kepada mas Indra.

****

Dua minggu berlalu. Yoris pun belum menampakkan kemajuan yang terbaik. Dokter berulang kali telah mengingatkan keputusan kami. Mas Indra masih tak tahu harus bagaimana. Anin? Saat ini baginya mungkin lebih baik Yoris mati.

“Bude, om Yoris tak kan pernah sembuhkah? Kapan dia akan meninggal?” Kania menggelendot  di lenganku sambil bertanya. Wajahnya datar, seperti hilang kekanakannya.

“Bude tidak tahu, Kania. Mengapa kamu sekian lama tak pernah mau ikut bersama Bude menjaga om Yoris?
Bukankah dia selalu membelikanmu banyak mainan selama ini, dia baik kan Kania.” Aku menyimpan terkejut.

Tatap mata Kania berubah. Aku tak mengerti.

“Ada apa Kania? Mau cerita sama Bude?”

“Bude janji enggak marah?” Suara Kania makin berbisik. Aku mengangguk dan berjanji padanya.

“Bude, tahun lalu ulang tahun Kania. Selesai pesta, Om Yoris menggendong Kania, katanya mau bacain cerita dan kelonin Kania. Tapi Bude, Om Yoris itu mematikan lampu, dan dia nakal, melepas piamaku, lalu meremas dada, perutku. Sakit sekali Bude, ketika jari Om Yoris berusaha masuk di tempat pipisku.”

Seketika aku merasa gelap. Kuangkat wajah. Kulihat Anin dengan mata seperti sebilah pisau tajam.

“Jangan marah Bude, Mama sudah tahu dan sangat marah pada Om Yoris.”

Semua makin gelap. Aku tak tahu lagi.


untuk jejakubikel

Monday, June 27, 2011

Aku Rindu

Suara panggilan mesra dari sang Kuasa berkumandang lagi senja itu.

Aku masih menunggu Indra. Pulang dan membersihkan diri segera. Mengambilku dan mengibaskan. Menggelar. Ada harum mulutnya menguar. Berbisik lembut. Sujud doa syukur menjawab panggilanNya. Elok bercahaya di atasku.

Senja telah hilang. Indra belum juga pulang. “Mungkin nanti malam, dia akan datang.” Angin malam berhembus membelai dari celah jendela kamar ini.

Hari berganti. Panggilan subuh berkumandang lagi. “Ah, Indra belum kembali. Seminggu tanpa kucium lembut harumnya. Aku rindu.”

Siang menyeruak. Dua orang memasuki kamar ini. Ryan, adik Indra, dan ibunya.
“Lihat Ibu, ini sajadah Indra. Kamar Indra akan kubersihkan saja. Sajadah ini untukku saja. Indra takkan pernah memerlukan lagi.”

untuk jejakubikel

Thursday, June 23, 2011

Saksi Beringin

by Te@embunbeningpagi


Berempat kami tumbuh bersama. Terpisahkan jarak dan jeda. Waktu dan kisah berbeda.

Orangtua kami? Tak pernah kami mengenalnya. Sejak kecil kami berempat bersaudara. Ketika kami mulai tumbuh dan kuat. Segera kami dipindahkan.

Aku di daerah pertigaan Kronggahan. Dua saudara kami di daerah pertigaan Cebongan Utara dan Cebongan Selatan. Terakhir bertempat di perempatan Seyegan.

Jaman terus berubah dengan sejuta kisah tentang kehidupan. Kelahiran hingga kematian. Panas, hujan, angin ribut, gempa bumi, hujan abu. Perang dan kemerdekaan. Panen dan kegagalan.

Kamilah saksi mereka dan kehidupan yang terus bertumbuh dan menua.

Hanya kepada angin berhembus kami saling sampaikan kabar. Suka dan duka. Menitipkan sebuah pelukan kerinduan. Hingga kelak berakhir tugas kami di tanah ini.

untuk jejakubikel

LAYAK

Tuan yang terhormat,

Sekiranya Tuan dapat membaca pesan ini, tentu pada saat itu aku sudah tak berada di sini lagi.

Aku budakmu. Apa pun perintahmu kuturuti. Kuanggap saat itu engkau sangat sayang padaku. Meski tanpa belaian, elusan, bahkan sebuah mandi yang harum. Hanya sepiring nasi basi setiap hari.

Kan kucari seekor tikus, hama bagi sawah kita. Seekor ular pun kulawan agar si Kecil tak digigit saat bermain.

Tak pantas aku mengeluh.

Kukais tanah halaman. Kubuat ceruk melingkar rumahmu. Hujan semakin deras. Tadi kulihat air sungai mulai naik. Semoga banjir tak datang tiba-tiba sebelum selesai kubuat.

Kan kujaga kalian dengan segenap sayangku dan sekuat tubuhku ini.


Seekor budakmu
yang layak disebut ANJING.

Wednesday, June 22, 2011

Dasar Bocah

“Nak, jangan main di luar. Berbahaya. Tunggu Emak di sini,” mendesis sayang si Emak pada Bocah Ular dengan menggesekkan tubuhnya.

“Iya Mak, aku tunggu di sini,” membalas sayang.

Si Emak pun keluar mencari makan.

“Meong... ” Si Hitam, seekor anak kucing keluar dari rumah.

Bocah Ular pun tanggap. Mendesis keluar sarang. Si Hitam melihatnya, begitu juga Bocah Ular itu.

Mendesis, mengeong. Berulang kali.

HAP!

Leher Bocah Ular di mulut Si Hitam, dan tubuh Si Hitam terbelit Bocah Ular.

Si Emak yang baru kembali mendesis terkejut. Segera mereka saling melepaskan diri. Si Hitam kembali ke rumah.

“Emak jangan marah... itu hanya bercanda. Dia teman bermainku selama Emak pergi.”



untuk jejakubikel

Sunday, June 19, 2011

Jejakubikel dan Ketagihanku


Cubiculum Notatum
Kata apa itu? Dari bahasa negara mana? Apa arti sebenarnya? Semua berputar di kepalaku, ketika Daniel dan Mumu menjelaskan tentang Cubiculum Notatum pada Java Mini Gath di Yogyakarta, Oktober 2010.

Akhirnya hari itu yang aku tahu bahwa akan ada bacaan nanti diwaktu senggang di kantor, lumayan lah...

Hanya saja, satu kesalahanku. Cubiculum Notatum itu alamatnya apa ya? Aku lupa mencatat. Dan keputusanku hari itu, LUPAKAN SAJA.

Mantra dan Sihir
Mungkin sedang berjodoh. Hari itu aku menemukan kicauan Daniel di linimasaku tentang sebuah tantangan menulis.

Whooolaaa.... jejakubikel.wordpress.com

Kumulai kunjungan pertamaku. Seperti dimantrai dan juga disihir. Sudah ada banyak bacaan yang bagus. 

Kutemukan pula  tantangan Pilihan Lagu Inspirasi, juga Dongeng Inspirasi, Film Inspirasi. Semua karya yang sudah tayang kubaca dengan lahap, habis.

Wow, banyak karya hebat dan penilis hebat.

Tantangan Pertama
Hmmm... mungkin akan kucoba dengan Pilihan Lagu Inspirasi.

Saat sulit dimulai. Kucoba berulang kali membaca petunjuk Rendra. Sumpah. Aku bingung.

“Bukan Perempuanmu Lagi” inspired by Selalu Cinta – Kotak adalah karya pertamaku di jejakubikel.  

Ketagihan
Belum sempurna? Mungkin. Tetapi setelah karya pertama aku makin ketagihan untuk menulis dan mengikuti tantangan setiap hari.

Makin sulit. Iya. Aku pun kewalahan jika harus kuikuti setiap hari.

Ide selalu menghampiri dan berputar mendesak menjadi sebuah gelisah yang harus dibebaskan.

Komentar
Harta Terindah bagiku sebagai penulis pemula. Komentar pujian bagiku sebagai hadiah untuk karya yang baik. Komentar pedas bagiku lecutan untuk membuat karya yang lebih baik.

Sebuah karya tanpa komentar? Sebuah karya yang tak dianggap. Semakin memicuku untuk membuktikan membuat karya yang layak.

Komentarku. Aku jarang berkomentar pada karya-karya Cubinoters. Bukan aku tak membaca. Aku terlalu takjub dengan karya mereka. LUAR BIASA.

Terima kasih untuk para Cubifans dan Cubilovers.

Daniel, Mumu, dan Rendra
Terima kasih telah memberi kesempatan untuk belajar.

Kini kubikelku makin berwarna.

Ada hari-hari bersama kalian.

Ada jejakubikel.com

Ada Surga Kecil Menulis

Ada tulisan yang telah dimulai dan harus diselesaikan.


~dalam kubikel, 18 Juni 2011~

Friday, June 10, 2011

Transaksi

by Te@embunbeningpagi

Lidya menghembuskan asap yang mengepul. Duduk di sofa merah. Posisi mengangkang lepas. Koper terbuka di atas meja berisi segepok bundel uang. Nilainya lebih dari harga-harga laku tubuhnya dimasa lalu. Perempuan anggun duduk hati-hati di sofa berhadapan.

“Cukupkah?” Perempuan anggun itu bertanya. “Kapan aku bisa membawanya?”

Asap tebal dari bibir merah Lidya makin menyesaki ruang itu. Seorang centheng membawa masuk keranjang besar.

“Bawalah,” kata Lidya. “Sampaikan pada Frid, suamimu, aku juga mencintainya. Ibu bayi itu sudah mati saat melahirkan. Terlalu muda. Dan Frid, pelanggan terbaiknya di sini.”

Melengos. Tanpa kata. Perempuan itu berlalu dengan keranjangnya. Kini juga anaknya, setelah sekian tahun perkawinan tanpa keturunan. Dibeli dari seorang germo.

Published with Blogger-droid v1.7.1

Thursday, June 9, 2011

Kubunuh Mereka

by Te@embunbeningpagi

Mbah Tardjo yang tinggal di kampung sebelah itu seorang veteran perang. Mengingat usia Beliau 83 tahun pastilah dia ikut berperang pada jaman penjajahan.

Beliau tinggal sendiri. Istrinya sudah lama meninggal sejak jaman penjajahan itu. Hingga kini dia tak menikah lagi tanpa anak . Tak ada yang merawat lagi. Hanya kebaikan seorang Mantri secara rutin mengunjunginya.

Akhir-akhir ini kesehatan Mbah Tardjo menurun. Beliau sekarang lebih sering mengomel panjang. Berbicara sendiri. Sepertinya kesadaran jiwa Mbah Tardjo makin menurun.

Kasihan. Dia pahlawan perang, banyak membunuh musuh.

Aku membunuh penjajah itu, juga istriku. Bukan orang itu yang hendak memperkosanya, tapi mereka yang berbohong.”

Gosip pun beredar. Mbah Tardjo hampir tak lagi dianggap seorang pahlawan.
Published with Blogger-droid v1.7.0

Friday, June 3, 2011

Telah Memilih

by Te@embunbeningpagi “Cindy!” sebuah teriakan keras memanggil dari dalam mobil yang melambat. Tersenyum dan melambai. Segera memasuki mobil yang telah dibukakan pintunya. Cindy dan seorang pria melaju menembus nafsu satu malam. *** Hari berganti. Siang yang penat seusai kuliah yang padat. Cindy bersiap untuk satu malam lagi. Pelanggan telah menanti. Rambut berwarna terpasang.  Lentik bulu mata buatan. Bibir memerah.  Rok  menutup sekedarnya. Dada penuh. Helaan nafas. Entah. Apakah sebuah doa memohon rejeki masih pantas dibisikkan. Perlahan memasuki  kamar sebelah. Dicium seorang perempuan tertidur. Ibunya sedang sakit.  Ranjang berikut, bocah perempuan 2 tahun, anaknya. *** Cindy, 22 tahun, asli perempuan. Memilih berdandan sebagai waria di pinggir jalan, karena lebih laku. Demi Ibu yang sakit dan anaknya.
Published with Blogger-droid v1.6.9

Monday, May 23, 2011

Aku yang Salah

“Yakin? Ini denah yang benar?” tanya Berto dengan ragu-ragu kepada Ega.

Mereka mendapat pekerjaan memotret acara perkawinan dan kini sedang menuju lokasi berbekal denah yang diberikan.

“Tapi rasanya kita dari tadi hanya putar kembali,  mengikuti lagi arah yang benar sesuai denah ini. Sebelah depan kita kan utara. Kita ada di sini. Seharusnya perjalanan pertama adalah ke kanan dulu. Lurus. Selanjutnya melewati jembatan. Ini sudah benar. Semestinya rumah yang punya hajat sudah terlewat. Tapi tidak ada tanda-tanda seperti tenda?” Kata Berto panjang lebar pada Ega yang mulai terlihat gugup.

“Berto,  maaf aku yang salah. Denah ini sudah benar. Tapi acara itu bukan hari ini, tapi dua minggu lagi.” Ega terbata berusaha menjelaskan.

untuk jejakubikel