Orang tua
itu semestinya bagi Kinah pantas
dipanggil kakek atau mbah kakung atau eyang kakung seperti mereka, seperti para cucu memanggilnya jika berkunjung saat
liburan.
Tetapi
simboknya lebih suka dia memanggil orang tua itu Ndoro Kakung, sebagai
panggilan penghormatan tertinggi majikan mereka. Dan jika para keluarga besar
Ndoro Kakung berkumpul, maka panggilan terhormat disebut Ndoro Sepuh Kakung,
dan berurut kepada mereka para anak Ndoro Kakung dan Ndoro Putri. Para cucu pun
memiliki panggilan terhormat Den Mas dan Den Putri.
Simbok
selalu berwanti-wanti keras terhadap Kinah, Sakinah nama panjangnya, anak
semata wayangnya. Semua ini karena mereka hidup, bekerja dan bernaung di rumah
tua megah Ndoro Sepuh Kakung Sukaca.
Simbok Kinah bernama Warsinem. Sedari gadis
telah bekerja di rumah besar itu sebagai pembantu. Ayah Sakinah entah kemana.
Sakinah tak pernah mengenalnya. Simboknya pun tak pernah memberitahu, bahkan
memilih diam dan pura-pura sibuk kembali pada pekerjaannya.
Kinah pun menghormati Ndoro Kakung sebagai majikan yang baik. Meski sewaktu
kecil pernah terlontar pertanyaan lugu bocah kepada Simbok. Betapa senangnya
jika Beliau menjadi kakeknya sungguhan. Dan terbersit pula keinginan untuk ikut
memanggil panggilan yang sama seperti para cucu itu. Tetapi Simbok pasti marah
besar. Keinginan Sakinah ini sempat menjadi iri jika melihat para cucu
berkunjung. Ingin pula dipeluk, dicium, disayang. Seperti sebuah kerinduan yang
ikut menghentak.
Kinah segera membuang jauh keinginan itu. Simbok telah mengingatkan betapa
beruntungnya mereka bekerja pada Ndoro Kakung.
**
Hari selepas siang. Sakinah pulang bekerja sebagai buruh pabrik. Rumah
besar Ndoro Kakung terlihat ramai. Bendera putih tanda kematian di ujung jalan
membuat tercekat.
Di belakang rumah dia tak menemukan Simbok. Pertanyaan besar menggantung. Mengintip
keheranan ke dalam ruang tengah, Simbok sedang menangis, dan dihibur banyak
tetangga, juga para Ndoro, anak majikan Ndoro Sepuh.
“Simbok,” perlahan memamggil dan beringsut menghampiri.
“Oalah, Nduk, Ndoro Sepuh sudah meninggal, tadi pagi,” di sela isak
tertahan Simbok berusaha menjelaskan.
Tercekat hati Kinah, segera menggenang di sudut mata kesedihan.
“Nduk,” perlahan Ndoro Putri Woro, putri ketiga Ndoro Sepuh menghampiri dan
menepuk bahu Kinah.
“Ada yang
ingin kusampaikan padamu, jangan kaget. Sebenarnya Kinah, kamu itu anak ragil,
saudara bungsu kami. Ya, Pak Sukaca itu sesungguhnya Bapakmu kandung, sesuatu
aib keluarga yang terdahulu harus ditutup oleh keluarga ini. Warsinem memang
ibu kandungmu, dan bukan istri sesungguhnya.”
Seolah petir
mengagetkan memecah buncah kesedihan. Kinah hanya sanggup bersimpuh.
“Kalau mau
berikan maafmu, Kinah dan penghormatan terakhirmu pada Beliau, Bapakmu,” Ndoro
Putri Woro lembut berkata.
Beringsut masih bersimpuh Kinah mendekati jenasah
Bapaknya. Entah, dia harus memanggil bagaimana.
Hanya dalam
hati dia sanggup berkata, “Siapa pun engkau Ndoro, terima kasih telah memberi
kami kebahagiaan, jika diijinkan aku ingin menciummu sebagai tanda sayang dan
hormat, dan pertama kali menciummu sebagai anakmu.”
Kinah pun
sebentar memejam mata, masih menggenang mencium jari kaki Ndoro Kakung, dalam
dan hormat.
#15harimenulisdiblog