Tuesday, September 20, 2011

Tegar


“Semua sudah siap Ma. Baju Kurung, kain panjang, celana dalam, dan BH. Obat-obatan sudah masuk koper. Mama hati-hati ya.” Suprapto dengan setia seperti biasanya membantu Nunik istrinya yang seorang aktivis feminis. Besok dia menjadi pembicara di satu seminar di Jakarta.

“Terima kasih, Pa.”

Satu ucapan terima kasih langka dari Nunik, yang nyaris jarang diucapkan kepada suaminya.

Siang yang penat selepas menjadi pembicara, Nunik menerima seluler dari asistennya. Sebuah kabar buruk menjadi kepulangan bersegera. Belahan jiwa yang telah tiada.

“Papa,” isak tertahan dari seorang perempuan yang tegar. Ada hati terlecut. Sebagai manusia tetap ada cinta yang patah dan air mata. Sekuat diri sebagai perempuan, dia tetap seorang istri Suprapto.


untuk jejakubikel

No comments:

Post a Comment