“Semua sudah siap Ma. Baju Kurung,
kain panjang, celana dalam, dan BH. Obat-obatan sudah masuk koper.
Mama hati-hati ya.” Suprapto dengan setia seperti biasanya membantu
Nunik istrinya yang seorang aktivis feminis. Besok dia menjadi
pembicara di satu seminar di Jakarta.
“Terima kasih, Pa.”
Satu ucapan terima kasih langka dari
Nunik, yang nyaris jarang diucapkan kepada suaminya.
Siang yang penat selepas menjadi
pembicara, Nunik menerima seluler dari asistennya. Sebuah kabar buruk
menjadi kepulangan bersegera. Belahan jiwa yang telah tiada.
“Papa,” isak tertahan dari seorang
perempuan yang tegar. Ada hati terlecut. Sebagai manusia tetap ada
cinta yang patah dan air mata. Sekuat diri sebagai perempuan, dia
tetap seorang istri Suprapto.
untuk jejakubikel
No comments:
Post a Comment