“Eko, sudah pulang nak? Ada undangan kondangan untukmu lagi,
di meja depan kamarmu. Siapa lagi yang menikah, masih temanmu? Malam minggu
ini?” suara Ibu dari dapur disela kesibukannya setelah mendengar kedatangan
Eko, anaknya
Eko menghela napas. Penat sepulang kerja, juga lelah
mendengar berita yang sama diantara teman-teman kerja. Bukan mantan yang akan
menikah, tapi sudahlah...
Eko mengambil undangan itu dengan enggan, dan melemparkan
begitu saja di dalam kamar, dan membaringkan tubuh dan pikirannya dengan resah.
“Empat hari lagi...” sambil mengambil selularnya dan
menghubungi seseorang.
***
“Kondangan lagi, tuh di meja kamu, malam minggu lagi,” goda
Eni pada Mumu teman kostnya, ketika dilihatnya pulang kerja dengan wajah
cemberut dan lelah.
“Huuu... iya aku tahu, teman-teman di kantor sudah
membicarakan. Malas rasanya...,” keluh Mumu sambil meletakkan pantatnya di
tempat tidur. Napas pun terhela keras.
“Empat hari lagi...” sambil mengambil selularnya dan
menghubungi seseorang.
***
“Nih, undangan kondangan lagi untukmu, malam minggu ini, “
tiba-tiba suara Nina dari balik punggung Indri yang masih berkutat dengan netbook dan setumpuk pekerjaannya. Nina
pun segera meletakkan undangan itu di meja Indri setelah tanpa sambutan dan
meninggalkan Indri.
“Terima kasih, Nin,” seru Indri dan sepuluh jarinya pun tak
lepas dari papan ketik. Matanya sempat melirik undangan itu.
Dihentikannya pekerjaan dan undangan itu diambil. Ada hembus
napas resah sedikit keras setelah membaca.
“Empat hari lagi...” sambil mengambil selularnya dan
menghubungi seseorang.
***
Empat hari kemudian. Kafe belumlah terlalu ramai pengunjung,
hari pun belum terlalu gelap, masih pukul
16.30.
Sudut kafe. Eko menjentikkan abu pada asbak. Satu hembusan
asap mengumbar, sesekali melirik jam tangan seperti ada yang yang
ditunggu.
“Hai, di sini,” sambil melambaikan tangan ketika teman yang
ditunggu pun datang. Berjabat tangan, berpeluk, perbincangan kerinduan para
sahabat.
Satu meja di tengah ruang kafe terdengar riuh rendah membahana, para perempuan sebaya.
Berbisik, dan tertawa keras tiba-tiba. Rona merah ceria penuh tawa melepas
penat kerja enam hari.
“Mumu, kamu tak datang kondangan?” tepuk Eni di bahu Mumu.
“Dan aku ketinggalan keceriaan ini? Oooh... tidak bisa...,” sambil
tertawa Mumu menjelaskan.
Mereka pun larut dalam tawa dan cerita seru.
Sudut kafe lain, Indri ditemani netbook, secangkir kopi
pekat, dan novel tebal. Sepertinya dia tak menunggu seseorang. Novel tebal
masih terbuka, kopi pun belum habis panas.
“Ting,” terdengar suara permintaan percakapan dari netbook yang terbuka.
Aha, rupanya Indri sedang menunggu seseorang dari dunia
maya. Segera Indri pun asyik masyuk, bercekikik, tersenyum, menahan tawa.
Kerinduan dari jarak yang tak sebentang lengan pelukan.
***
Malam minggu pun masih terlena dalam panjang hari hingga
nanti.
#15harimenulisdiblog #2