Showing posts with label #15harimenulisdiblog. Show all posts
Showing posts with label #15harimenulisdiblog. Show all posts

Friday, October 14, 2011

tidak ada manusia yang sempurna

Dalam bentuk yang paling sederhana, mencintai diri sendiri berarti berani menerima diri apa adanya dan mengakui bahwa Anda telah mengusahakan yang terbaik, meskipun belum kunjung berhasil. Hentikanlah rasa bersalah karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

Rm. Agung Nugroho, PR

#15harimenulisdiblog #15

posted from Bloggeroid

Friday, October 7, 2011

keputusan terbaik


HBD Ryan,
Selamat tinggal yang pernah tercinta
satu hari.

love
lily


Selesai sudah.

Setahun lalu. Kertas kuning berperekat itu masih menempel di bingkai LCD monitorku. Aku masih menyimpannya.

Lily pergi. Tak ada yang salah. Demikian juga cinta kami. Tapi kami berpisah.

Keputusan terbaik.

Setahun lalu. Sehari saja aku memilikinya, sepenuhnya milikku. Cinta dan tubuh. Lily perempuanku.

Hanya satu hari. Selanjutnya aku mengembalikan Lily pada suaminya.


#15harimenulisdiblog #8

Thursday, October 6, 2011

terima kasih Ibu


Bau harum menggoda tercium dari dapur. Paduan irisan kecil bawang merah dan satu butir telur dikocok dan digoreng. Menyeruak lambung kosong hingga membangunkan bagi yang tidur belum terlalu lama.

Isya menggeliat dari tidurnya yang belum delapan berlalu. Dingin semilir dari dinding bambu kamar tidurnya. Ibu sudah bangun lebih dulu, ketika di sebelahnya kosong tertinggal selimut tipis mereka berdua. Kuliah pagi hingga sore, berlanjut kerja hingga malam larut sangat menguras tenaganya.

Hidungnya membaui sarapan. Isya pun segera turun dari tempat tidurnya dan mandi.

Ibu telah menunggunya di meja makan. Bukan. Ini meja serba guna di rumah ini. Satu-satunya meja yang mereka miliki. Mereka pun duduk bersebelahan. Satu lembar telur dadar yang lezat di atas piringnya. Tipis dengan banyak irisan bawang goreng. Isya pun membagi separuh telur itu, dan menaruh di atas piring kosong di hadapan ibunya.

Sang Ibu kemudian mengiris separuh lagi telur dadarnya dan menaruh di atas piring Isya kembali, “Kamu lebih banyak membutuhkan tenaga daripada Ibu, Nak.”

Isya hanya mengangguk. Ritual setiap pagi bersama Ibunya. Dia tak membantah. Ibu selalu begitu.
Mereka segera menyelesaikan sarapan hangat dengan cerita riang Isya. Dan waktu berangkat pun tiba, Isya mencium tangan Ibu. Dan janji kembali sehat malam nanti.

***

Tujuh hari sudah berlalu. Kini saatnya.

Isya pun segera bangkit dari tidurnya. Masih ada waktu. Segera membuat sarapan kesukaannya, telur dadar dengan irisan bawang merah di dalamnya. Diletakkan telur dadar itu di piring kosongnya. Masih ada piring kosong lain di atas meja.

Telur dadar pun diirisnya separuh, dan diletakkan di piring kosong lainnya. Dipandangi piring itu. Ada haru di sana. Ibu telah tiada tujuh hari lalu.

Menyelesaikan sarapan dengan perlahan. Tak ada cerita ceria yang dibagi. Tak ada lagi godaan keriput Ibunya. Sendirian. 

“Ibu, aku harus pergi. Kini aku tak memiliki siapa pun lagi. Aku harus meninggalkan rumah ini menuju kota besar. Terima kasih Ibu, untuk semua doa dan semangat. Juga sarapan kita. Kelak aku akan kembali ke rumah ini. Aku janji.”

Piring Ibu masih ada separuh telur dadar.


#15harimenulisdiblog #7

Wednesday, October 5, 2011

waktunya pulang


Bermain... Bermain...
Berlompat... Berlompat...
Berayun... Berayun...

Lagu yang berulang-ulang dari suara merdu Ibu Guru  yang cantik dan keibuan meski masih terlihat berusia muda. Nyanyian pun bersambut bersahut suara kanak-kanak yang polos murni. Nada riang disela tepuk tangan mengiring lagu sederhana.

Bernyanyi... Bernyanyi...
Berputar... Berputar...
Bertepuk... Bertepuk...

Dan gelak riang para bocah. Dua jam masa sekolah hampir berlalu saatnya pulang, ada Ibu, Bunda, Mama, Mbak, Suster, Mbok, menanti di ruang tunggu. Setelah doa penutup.  Berhambur riang diriuh celoteh mungil.

Menjumpai mereka dan memeluk. Cium haru gemas tenggelam pipi montok mereka harum bedak bayi, dan bau susu. Bergandeng menggenggam tanpa menghentikan cerita yang ria pulang ke rumah.

Seorang perempuan ikut berdiri dari duduk lamanya di bangku bawah pohon rindang. Matanya berputar ke segala arah. Seolah mencari seseorang setelah menanti lama. Sesekali tersenyum kepada setiap penjemput yang menyapanya. 

Masih mencari dan menunggu.

Taman kanak-kanak telah sepi, tak berpenghuni lagi. Perempuan itu kembali duduk di bangku bawah pohon rindang. Matanya kembali nanar menatap hampa.

“Marisa,” tiba-tiba sebuah skuter berhenti dan seorang laki-laki menepuk bahu perempuan itu dan menggamit lengannya. “Waktunya pulang.”

“Ryan tunggu, Cherry masih bermain, kita harus menunggunya,” Marisa mencoba bertahan.

“Cherry sudah menunggu kita di rumah, naiklah kita pulang,” dengan sabar menjawab. Ryan pun menghela napas sabar. Telah tiga tahun hal yang sama dilakukan Marisa sejak Cherry kecil belum sempat dilahirkan.

Tak banyak kata Marisa segera naik di boncengan skuter Ryan. Tangannya bergelung jaket mungil anak perempuan. Harum bedak bayi dan aroma susu. 

#15harimenulisdiblog #6

Tuesday, October 4, 2011

#hilang ingatan


“Di mana sih kacamataku?” sambil membongkar tumpukan koran dan majalah di atas meja, Wenny masih menggerutu.  “Sinyo! Kamu bantu mencari kacamataku, kemarilah,” panggil Wenny kepada pembantunya.

Terburu Sinyo meletakkan semua pekerjaannya dan mulai ikut mencari.

“Kacamatamu yang mana sih Wen, kamu sudah punya banyak, pakai yang lain kan bisa,” Anna saudari tirinya dari kamar baca ikut berteriak dan tanpa mengangkat kepala dari buku yang dibacanya.

 “Iya Nyah, tadi taruh mana sih, coba diingat-ingat dulu tadi diletakkan di mana?” Sinyo sang pembantu ikut berpendapat.

“Hah, kamu itu... bukannya membantu, kalau aku ingat diletakkan di mana, tak perlu aku menyuruhmu ikut mencari, “ Wenny makin jengkel.

“Iya Nyah....” Sinyo pun membungkuk.

**

Tiga jam berlalu dengan sia-sia, mereka tak jua menemukan kacamata yang dicari.

“Semestinya sih di sini, seperti biasa,” Wenny pun membongkar ulang untuk keempat kali meja pendek kesukaannya. “Huuft....” menghembus napas kebingungan panjang.

“Paling juga nangkring di kepalamu, tuh seperti biasanya dan kamu pun sering menemukan di sana jika lupa atau kehilangan kacamata itu, ” teriak Anna tanpa pula mengangkat wajahnya.

“Hahaha,” tawa Wenny keras. “Kali ini kamu salah Anna, gak ada kacamata itu di atas kepalaku, weeek...,” sambil menjulurkan lidahnya.

“Ribut sekali, mencari kacamata di dalam rumah saja,” Anna kini mengangkat wajahnya dan menggerakkan tubuhnya dengan malas keluar dari kamar baca. Dan terkejut.

“Aduh Wenny, rumah ini berantakan sekali, kalian benar-benar gila cara mencari kacamata itu,” berdecak takjub memandang seisi rumah.

Wenny hanya mengangkat bahunya. Lemas.

“Wenny, maka dari itu dan ingatlah akan kata-kataku ini kelak di kemudian hari ya... Pakailah kacamatamu sebelum mencari kacamatamu itu,” Anna kini berbalik jengkel sambil menahan senyum.

“Iyaa... aku kan sudah memak...,” kata-kata Wenny terputus kala meraba wajahnya sendiri.


#15harimenulisdiblog #5

Monday, October 3, 2011

singkat saja

29 Desember 2010
"Senin, Selasa, Rabu gerimis dan tirai hati."

Hari itu kausampaikan sebuah pesan.

29 Desember 2010
"at the simple way"

Singkat. Sesingkat sebuah kisah yang hendak tersampaikan.

Hingga kini tak berpesan. Engkau meninggalkan sebuah pesan. Jauh. Sebelum aku sempat pergi meninggalkanmu.

29 Desember 2010 kutulis :
"Sebuah hari ulang tahun tanpa kisah tak sepenggal pun tertinggal"

~ deactive account ~


#15harimenulisdiblog #4
posted from Bloggeroid

Sunday, October 2, 2011

kisah klasik

"Auw."

Terdengar suara lirih di balik punggung Thea. Hanya sekejap. Mungkin pendengaran yang salah. Thea pun melanjutkan candanya bersama teman-teman kuliahnya. Hari itu mereka bersepakat masuk dalam antrian bersama puluhan mahasiswa lain mendaftarkan proposal skripsi di ruang yang kecil dan panas itu.

"Auw."

Thea pun segera membalikkan punggungnya.

*

Teriakan berusaha tertahan dari pita suara Aris. Jempol kakinya memang besar. Tapi bukan untuk diinjak oleh perempuan itu.

Kalau bukan skripsi dan terancam sebagai mahasiswa abadi mungkin lebih baik baginya menghindari tempat ini. Tapi ia tetap melakukan.

Kembali meringis menahan sakit. Perempuan itu sepertinya menyadari sesuatu. Semoga saja. Mudah-mudahan cantik. Menatap dari punggungnya. Tinggi. Semampai. Rambutnya pasti panjang, sedang diikat ekor-ekoran.

Sekarang perempuan membalikkan badan. Menatapnya.

*
Thea terkejut didapatinya laki-laki itu meringis menahan sakit. Barulah dia menyadari mungkin berulangkali tanpa sadar menginjak jempol kakinya.

"Oh, maaf, sakit kah? Kakak baik-baik saja? Maaf sekali lagi gak sengaja."

Menahan malu. Thea kembali balik kanan lagi.

"Duh, semoga dia baik saja," mohonnya dalam hati.

*

Perempuan itu cantik. Dan mengucapkan maaf. Tapi pipinya memerah. Mungkin malu.

"Andai ia tahu aku menatap dan mengaguminya. Pun aku malu," dalam hati Aris.

*

"Hai, bolpenmu kau pegangi saja, aku pinjam sini."

Aris. Terkejut. Diserahkan bolpen itu.

"Perempuan tadi...," Aris segera menyadari. Ditunggunya bolpennya. Bukan. Lebih tepat perempuan itu. Mengagumi.

Tiba-tiba perempuan itu beranjak begitu saja. Pergi.

Membawa hatinya. Bukan. Membawa bolpennya.

*

Tepok jidat.

Thea baru menyadari. Bolpen pinjaman lelaki tadi yang duduk di hadapannya masih bersamanya.

"Itu kan lelaki yang kuinjak tadi...," gumamnya sambil menatap bolpen di genggamannya.

"Siapa namanya tadi?"

*

Tepok jidat.

Aris seperti mengutuki dirinya sendiri berulang kali.

"Hah! Siapa namanya perempuan tadi?"
posted from Bloggeroid

Saturday, October 1, 2011

(melupakan) kondangan


“Eko, sudah pulang nak? Ada undangan kondangan untukmu lagi, di meja depan kamarmu. Siapa lagi yang menikah, masih temanmu? Malam minggu ini?” suara Ibu dari dapur disela kesibukannya setelah mendengar kedatangan Eko, anaknya

Eko menghela napas. Penat sepulang kerja, juga lelah mendengar berita yang sama diantara teman-teman kerja. Bukan mantan yang akan menikah, tapi sudahlah...

Eko mengambil undangan itu dengan enggan, dan melemparkan begitu saja di dalam kamar, dan membaringkan tubuh dan pikirannya dengan resah.

“Empat hari lagi...” sambil mengambil selularnya dan menghubungi seseorang.

***

“Kondangan lagi, tuh di meja kamu, malam minggu lagi,” goda Eni pada Mumu teman kostnya, ketika dilihatnya pulang kerja dengan wajah cemberut dan lelah.

“Huuu... iya aku tahu, teman-teman di kantor sudah membicarakan. Malas rasanya...,” keluh Mumu sambil meletakkan pantatnya di tempat tidur. Napas pun terhela keras.

“Empat hari lagi...” sambil mengambil selularnya dan menghubungi seseorang.

***

“Nih, undangan kondangan lagi untukmu, malam minggu ini, “ tiba-tiba suara Nina dari balik punggung Indri yang masih berkutat dengan netbook dan setumpuk pekerjaannya. Nina pun segera meletakkan undangan itu di meja Indri setelah tanpa sambutan dan meninggalkan Indri.

“Terima kasih, Nin,” seru Indri dan sepuluh jarinya pun tak lepas dari papan ketik. Matanya sempat melirik undangan itu.

Dihentikannya pekerjaan dan undangan itu diambil. Ada hembus napas resah sedikit keras setelah membaca.

“Empat hari lagi...” sambil mengambil selularnya dan menghubungi seseorang.

***

Empat hari kemudian. Kafe belumlah terlalu ramai pengunjung, hari pun belum terlalu gelap, masih pukul 
16.30.

Sudut kafe. Eko menjentikkan abu pada asbak. Satu hembusan asap mengumbar, sesekali melirik jam tangan seperti ada yang yang ditunggu. 

“Hai, di sini,” sambil melambaikan tangan ketika teman yang ditunggu pun datang. Berjabat tangan, berpeluk, perbincangan kerinduan para sahabat.

Satu meja di tengah ruang kafe terdengar  riuh rendah membahana, para perempuan sebaya. Berbisik, dan tertawa keras tiba-tiba. Rona merah ceria penuh tawa melepas penat kerja enam hari.

“Mumu, kamu tak datang kondangan?” tepuk Eni di bahu Mumu.

“Dan aku ketinggalan keceriaan ini? Oooh... tidak bisa...,” sambil tertawa Mumu menjelaskan.

Mereka pun larut dalam tawa dan cerita seru.

Sudut kafe lain, Indri ditemani netbook, secangkir kopi pekat, dan novel tebal. Sepertinya dia tak menunggu seseorang. Novel tebal masih terbuka, kopi pun belum habis panas.

“Ting,” terdengar suara permintaan percakapan dari netbook yang terbuka.

Aha, rupanya Indri sedang menunggu seseorang dari dunia maya. Segera Indri pun asyik masyuk, bercekikik, tersenyum, menahan tawa.

Kerinduan dari jarak yang tak sebentang lengan pelukan.

***

Malam minggu pun masih terlena dalam panjang hari hingga nanti.

#15harimenulisdiblog #2

Thursday, September 29, 2011

Ndoro Kakung


Orang tua itu semestinya bagi Kinah pantas dipanggil kakek atau mbah kakung atau eyang kakung seperti mereka, seperti para cucu memanggilnya jika berkunjung saat liburan.

Tetapi simboknya lebih suka dia memanggil orang tua itu Ndoro Kakung, sebagai panggilan penghormatan tertinggi majikan mereka. Dan jika para keluarga besar Ndoro Kakung berkumpul, maka panggilan terhormat disebut Ndoro Sepuh Kakung, dan berurut kepada mereka para anak Ndoro Kakung dan Ndoro Putri. Para cucu pun memiliki panggilan terhormat Den Mas dan Den Putri.

Simbok selalu berwanti-wanti keras terhadap Kinah, Sakinah nama panjangnya, anak semata wayangnya. Semua ini karena mereka hidup, bekerja dan bernaung di rumah tua megah Ndoro Sepuh Kakung Sukaca.

Simbok Kinah bernama Warsinem. Sedari gadis telah bekerja di rumah besar itu sebagai pembantu. Ayah Sakinah entah kemana. Sakinah tak pernah mengenalnya. Simboknya pun tak pernah memberitahu, bahkan memilih diam dan pura-pura sibuk kembali pada pekerjaannya.

Kinah pun menghormati Ndoro Kakung sebagai majikan yang baik. Meski sewaktu kecil pernah terlontar pertanyaan lugu bocah kepada Simbok. Betapa senangnya jika Beliau menjadi kakeknya sungguhan. Dan terbersit pula keinginan untuk ikut memanggil panggilan yang sama seperti para cucu itu. Tetapi Simbok pasti marah besar. Keinginan Sakinah ini sempat menjadi iri jika melihat para cucu berkunjung. Ingin pula dipeluk, dicium, disayang. Seperti sebuah kerinduan yang ikut menghentak.

Kinah segera membuang jauh keinginan itu. Simbok telah mengingatkan betapa beruntungnya mereka bekerja pada Ndoro Kakung.

**

Hari selepas siang. Sakinah pulang bekerja sebagai buruh pabrik. Rumah besar Ndoro Kakung terlihat ramai. Bendera putih tanda kematian di ujung jalan membuat tercekat.

Di belakang rumah dia tak menemukan Simbok. Pertanyaan besar menggantung. Mengintip keheranan ke dalam ruang tengah, Simbok sedang menangis, dan dihibur banyak tetangga, juga para Ndoro, anak majikan Ndoro Sepuh.

“Simbok,” perlahan memamggil dan beringsut menghampiri.

“Oalah, Nduk, Ndoro Sepuh sudah meninggal, tadi pagi,” di sela isak tertahan Simbok berusaha menjelaskan.

Tercekat hati Kinah, segera menggenang di sudut mata kesedihan.

“Nduk,” perlahan Ndoro Putri Woro, putri ketiga Ndoro Sepuh menghampiri dan menepuk bahu Kinah.

“Ada yang ingin kusampaikan padamu, jangan kaget. Sebenarnya Kinah, kamu itu anak ragil, saudara bungsu kami. Ya, Pak Sukaca itu sesungguhnya Bapakmu kandung, sesuatu aib keluarga yang terdahulu harus ditutup oleh keluarga ini. Warsinem memang ibu kandungmu, dan bukan istri sesungguhnya.”

Seolah petir mengagetkan memecah buncah kesedihan. Kinah hanya sanggup bersimpuh.

“Kalau mau berikan maafmu, Kinah dan penghormatan terakhirmu pada Beliau, Bapakmu,” Ndoro Putri Woro lembut berkata.

Beringsut  masih bersimpuh Kinah mendekati jenasah Bapaknya. Entah, dia harus memanggil bagaimana.

Hanya dalam hati dia sanggup berkata, “Siapa pun engkau Ndoro, terima kasih telah memberi kami kebahagiaan, jika diijinkan aku ingin menciummu sebagai tanda sayang dan hormat, dan pertama kali menciummu sebagai anakmu.”

Kinah pun sebentar memejam mata, masih menggenang mencium jari kaki Ndoro Kakung, dalam dan hormat.


#15harimenulisdiblog