Om Yoris. Demikian mereka memanggil adik iparku. Dia adalah adik yang bukan sebenarnya dari suamiku. Yoris adalah anak angkat mertuaku yang mereka temukan didepan pintu rumah 38 tahun lalu, hingga kini menjadi adik bagi Indra, suamiku.
Masih ada satu lagi adik iparku perempuan, kali ini adik kandung suamiku. Anin namanya, usia 37 tahun, memiliki seorang putri yang cantik, Kania usia 11 tahun, sebaya dengan putraku Abi.
Sebenarnya satu rahasia besar di keluarga kami. Kania adalah anak hubungan tak dikehendaki Yoris dan Anin, tetapi Anin tak pernah mau dinikahkan dengan Yoris. Hingga kini kami pun masih menyimpan rahasia ini bahkan kepada Kania sebagai anak kandung mereka. Sampai kapan kami menyimpan hanya Tuhan yang menghendaki.
Yoris berusia 42 tahun, terbaring di ruang ICU. Sakit parah. Entah namanya. Saat ini kritis dan tak pernah sadar dari koma yang panjang. Hampir satu bulan. Hanya aku dan Indra saja bergantian menjaganya. Pernah kami meminta Anin untuk ikut berjaga. Ani selalu menolak. Selalu disertai marah.
Hari itu kami menghadap dokter. Kekalutan kami yang lalu, ketika tim dokter menyatakan menyerah terhadap Yoris. Bahkan menyarankan euthanasia. Satu kata yang ingin mengakhiri segalanya.
***
“Tidak. Aku bilang tidak. Aku tak bisa menjaga mas Yoris, mbak tentu mengerti,” Anin berkata keras kepadaku. Anin yang biasanya lemah lembut.
“Sehari saja Anin. Satu hari. Aku dan mas Indra sudah tak bisa menyesuaikan jadwal.” Aku masih merayunya. “Aku mengerti Anin, kamu tak perlu banyak bercakap, diam sajalah, dalam koma dia tetap tahu jika ada orang lain bersamanya. Anin, dia masih mengharapmu.”
“Andai kamu tahu mbak, yang lebih menyakitkan.” Anin membuang hembus kekesalan dan meninggalkanku.
Aku menghela menahan kecewa.
“Sudahlah jika dia tak mau, tak perlu kita memaksanya,” nada kecewa juga samar terdengar dari mas Indra. “Nanti aku beritahu dia bahwa Yoris butuh persetujuan dari kelurga untuk euthanasia. Kasihan Yoris.”
Aku hanya mengangguk selepas aduanku kepada mas Indra.
****
Dua minggu berlalu. Yoris pun belum menampakkan kemajuan yang terbaik. Dokter berulang kali telah mengingatkan keputusan kami. Mas Indra masih tak tahu harus bagaimana. Anin? Saat ini baginya mungkin lebih baik Yoris mati.
“Bude, om Yoris tak kan pernah sembuhkah? Kapan dia akan meninggal?” Kania menggelendot di lenganku sambil bertanya. Wajahnya datar, seperti hilang kekanakannya.
“Bude tidak tahu, Kania. Mengapa kamu sekian lama tak pernah mau ikut bersama Bude menjaga om Yoris?
Bukankah dia selalu membelikanmu banyak mainan selama ini, dia baik kan Kania.” Aku menyimpan terkejut.
Tatap mata Kania berubah. Aku tak mengerti.
“Ada apa Kania? Mau cerita sama Bude?”
“Bude janji enggak marah?” Suara Kania makin berbisik. Aku mengangguk dan berjanji padanya.
“Bude, tahun lalu ulang tahun Kania. Selesai pesta, Om Yoris menggendong Kania, katanya mau bacain cerita dan kelonin Kania. Tapi Bude, Om Yoris itu mematikan lampu, dan dia nakal, melepas piamaku, lalu meremas dada, perutku. Sakit sekali Bude, ketika jari Om Yoris berusaha masuk di tempat pipisku.”
Seketika aku merasa gelap. Kuangkat wajah. Kulihat Anin dengan mata seperti sebilah pisau tajam.
“Jangan marah Bude, Mama sudah tahu dan sangat marah pada Om Yoris.”
Semua makin gelap. Aku tak tahu lagi.
untuk jejakubikel
No comments:
Post a Comment