Wednesday, April 6, 2011

TAKDIR

“Aku benci boneka ini.”

Dini melempar boneka anak perempuan. Raut wajahnya penuh kebencian, mata bocah itu menyala penuh dendam. Ina, mamanya seperti tak terkejut melihat nyala merah kemarahan Dini. Dipungutnya boneka anak perempuan itu, dirapikan gaunnya yang berwarna merah, serta rambutnya yang berwarna keemasan terurai panjang, Bulu matanya lentik serta bisa membuka dan mengatup. Ina juga membetulkan letak kepala serta tangan dan kaki, diputar sedemikian rupa. Rapi. Dini masih mengamati Ina yang memperbaiki boneka yang dibencinya itu. Lalu Ina memberikan boneka yang telah rapi kepada Dini yang masih menyalang merah. Dini menerima tanpa ekspresi. Pergi.

Ina hanya menghela nafas. Teringat 4 tahun lalu, bocah itu ditinggalkan di depan pintu rumahnya. Hujan yang deras, petir menyambar, bersahutan dengan tangis seorang bocah perempuan sedang menggendong boneka. Matanya tajam merah, badannya panas. Ina yang menemukannya segera memeluk dan menggendong.
Seolah memerintah, gadis kecil itu berhenti menangis dan mengacungkan bonekanya ke atas, seketika hujan dan petir berhenti. Ina hanya menyimpan semua ini dalam hati dan kelak. Ada sesuatu pada diri gadis kecil ini. Ina terusik dan berjanji menyayanginya seperti anaknya sendiri.

***

“Tidak. Aku tak mau ada sepasang anak kecil menjadi pendamping di pelaminanku nanti. Merepotkan!” Dini berteriak kepada Ina. Hanya napas panjang. Sempat dilihatnya lagi sorot nyalang memerah dari mata Dini. Sungguh-sungguh marah.

Semua belum berubah, kasih sayang yang dilimpahkan dengan sabar dan tulus, tak dapat melunakkan hati Dini jika sedang tinggi peringainya. Ada saja yang tidak dimaui dengan segera. Ina pun pernah menemukan boneka Dini rusak, kepala yang dipuntir, dan dengan rambut keemasan dijambak dan dibentur-benturkan ke dinding. Dini menangis keras.

Sekali lagi kesabaran Ina yang mencoba menenangkan Dini, tak selalu berhasil. Tapi Ina sangat sayang kepada anak semata wayangnya ini meski bukan anak kandungnya. Entah siapakah ibu kandungnya. Ina tak pernah berusaha mencari tahu.

Hari itu tibalah jenjang Ina sebagai orangtua, dan jenjang Dini menuju tahap dewasa selanjutnya. “Semoga pernikahan ini menyelamatkan hidup Dini. Kasih sayang Anton semoga sabar dan berlimpah,” ada titik air dan doa di sudut mata seorang ibu.

***

“Dini, jangan lagi kau sakiti dirimu sayang,” Anton berusaha sabar, telah dua kali dalam 2 tahun pernikahannya menemukan test pack yang dibuang. Semuanya bergaris dua merah, tapi Dini selalu menggugurkan kandungannya, seperti tak sengaja. Anton tahu. Kali ini dia tak mau kali ketiga gagal lagi. “Sudah berapa bulan sayang?”

“Tiga bulan,” dingin jawab Dini. Matanya memerah. Anton tak tahu.

***

“Mama, ini sudah yang ketiga, aku tak mau menyakiti Dini juga calon anakku,” Anton melaporkan kepada Ina perbuatan Dini.

Sedih. Ina juga baru mengetahui kegagalan itu. Ina masih tak mengerti Dini begitu membenci anak kecil, apalagi jika anak kecil itu menangis, jika Dini tahu pasti akan semakin disakiti.

***

Suatu sore Anton dan Ina sibuk, hari itu mereka merencanakan sesuatu untuk menyelamatkan Dini serta calon bayi mereka, sebelum semuanya semakin menjadi.

“Tidaaak Mama, aku tidak mau, tolong mama, aku janji Mama, Anton tolong aku,” Ina tak mempedulikan raungan Dini. Sekuat tenaga pula mereka membawa Dini ke halaman belakang rumah, ada sebuah gubuk. Di sana Dini akan tinggal.

Terpasung.

Keputusan yang terbaik yang diambil demi kebaikan semua. Pintu telah tertutup. Raungan dan teriakan minta tolong masih terdengar. Ina melihat lagi sorot mata merah itu.

***

Ina panjang menghela, malam ini saatnya. Dini tiba waktunya. Anton telah pergi meninggalkan mereka. Hanya Ina yang merawat Dini seorang diri.

Hujan deras, angin menderu, petir menyambar Ina telah berada di gubuk Dini. Dia sendiri yang akan menolong kelahiran itu. Dini mulai kesakitan, meraung berteriak tak pernah ada lelah. Satu yang dipanggilnya Mama. Dini masih mengingat Ina adalah mamanya. Ina mencoba kuat, sabar menenangkan Dini.

“Mamaaaaaaa….” teriakan terakhir Dini bersamaan dengan sang bayi perempuan. Petir makin menggelegar.

Disambutnya bayi itu, segera diselimuti. Dini terkulai tangan dan kakinya masih terpasung. Ina menyadari Dini telah pergi seperti menyerahkan sebuah nyawa kepada anaknya.

Bayi perempuan mungil itu dipeluknya, digendongnya. Ditimangnya. Tiba-tiba Ina melihat sorot memerah dari mata bayi itu.

“Jangan lagi… jangan lagi….” Ina berlari keluar dalam derasnya hujan, tanpa henti sepanjang jalan sepi malam itu. Hingga kelelahan dia berhenti di suatu rumah tanpa pikir lagi, diletakan begitu saja bayi itu. Ina pun melanjutkan pelariannya.

“Semoga kelak kamu menjadi anak yang baik,” sesisip doa Ina



untuk jejakubikel

Sunday, April 3, 2011

Pulang


Bapak Ibu, aku pulang....

Masih 5-6 jam lagi perjalanan ini kembali dimulai. Wiwik menghela nafas panjang. Baru saja menempati bangku kereta api pagi ini yang akan membawanya. Pulang.

Hampir  tujuh tahun sejak kepergiannya untuk membebaskan gelisah diri yang terus mendesak. Tanpa pamit Wiwik pergi meninggalkan orangtuanya dan rumah yang telah melindunginya sekian lama.

Pergi ke kota yang akan ditinggalkannya ini,  tanpa bekal uang yang cukup, hanya sebuah alamat dan nomer telepon seseorang yang telah berjanji untuk membebaskannya dari gelisah itu. Indra.

Seseorang itu bernama Indra, sosok yang dikenalnya lewat sebuah iklan lowongan kerja di koran. Mencoba melamar, dan dijawab oleh Indra, yang bekerja sebagai HRD di perusahaan itu. Wiwik akan pergi menemuinya meski belum pernah melihatnya.

Indra sungguh-sungguh memenuhi janji, hingga satu setengah tahun saling mengenal Wiwik pun rela satu tempat tinggal bersamanya. Meski tanpa ikatan pernikahan. Mereka saling membutuhkan dan itu cukup. Hidup memang keras di kota ini, Indra sebenarnya telah memiliki keluarga yang bahagia, tapi Indra masih menginginkan Wiwik. 

Wiwik tak pernah menuntut Indra. Dia hanya butuh pembebasan gelisah dirinya, sebuah pembuktian cita-cita kepada orangtuanya.

Bapak Ibu, aku rindu...

Kereta telah berjalan 2 jam lalu. Untung saja bangku sebelah tak berpenumpang. Gerbong ini sepi, tak penuh, bukan musim libur. Menghela nafas lagi, melanjutkan bayangan kelu kerinduan.

Bagi seorang yang tak pernah pulang 7 tahun itu waktu yang sangat lama untuk melewatkan kenangan, bahkan sebuah restu tiap tahun dari orangtua. Wiwik memang tak pernah pulang. Ada banyak alasan yang menghentikan semua keinginan pulangnya. Jika itu alasan uang, mungkin sedikit benar, bagi Wiwik takkan pernah cukup, meski bagi beberapa orang uang yang dimiliki Wiwik saat ini sangat cukup untuk bekal pulang.

Alasan pembuktian sebuah cita-cita mungkin tidak juga, toh Wiwik kini menjabat di bagian penting dari perusahaan itu.

Mungkin Indra sebagai alasan. Hubungannya dengan Indra adalah sebuah kegelisahan baru yang ingin ditutupinya. Setelah Indra meninggal setahun lalu, Wiwik baru menyadari bahwa sesungguhnya dia mencintai Indra.

Masih jelas tergambar saat menerima berita kepergian Indra. Ditutupnya pintu kamar, gelap tanpa lampu, seharian menangis tanpa suara, hingga sakit memeluk erat di hati. Dan keesokannya berkerudung hitam, mengenakan kacamata hitam, Wiwik ke tempat pemakaman Indra. Tanpa terlihat, dia melihat istri Indra dan 2 anak mereka. Wiwik menangis diam bersama mereka dari kejauhan. Lirih mengucapkan selamat jalan kepada Indra.

Kembali menghela nafas.

Dua jam lagi akan tiba.  Wiwik kelelahan dalam kesedihan dan memutuskan untuk tidur. Perjalanan masih panjang.

Ibu, aku memanggilmu dalam rinduku...

Menggeliat. Wiwik bangun dari kelelahan. Sebentar lagi kereta api akan tiba di stasiun Tugu. Wiwik pun bersiap, mengemasi bawaan. Menurut Harno sahabatnya dari desa, perjalanan Wiwik diteruskan dengan bis TransJogja menuju terminal Jombor.

Kini sudah ada bis TransJogja. Wiwik telah melewatkan banyak hal. Bahkan bencana gempa dan letusan gunung pun hanya dibacanya dari koran nasional. Tanpa ada keinginan pulang.

Kereta api telah tiba. Wiwik mencoba mencari halte yang dimaksud Harno, dia mendapatkan dan beruntung jalur bis yang dimaksud tepat waktu. Nyaman.

Ibu telah meninggal, 3 tahun setelah Wiwik meninggalkan desa itu. Harno yang memberi kabar, dan juga memohonnya untuk pulang. “Kasihan Bapak,” katanya kepada Wiwik. Bersikeras. Entah mengapa dia selalu saja menahan keinginan untuk pulang.

“Ibu, aku juga rindu tapi aku tak sanggup pulang dan bersujud mencium kaki ibu. Aku terlalu kotor dan tak layak sebagai anak Ibu,” lirih dalam hati.

Aku pulang....

Bis TransJogja telah sampai di terminal Jombor. Wiwik pun telah keluar dari pintu terminal itu. Hari semakin sore.

“Den Wiwik?” sebuah suara dari andong yang tepat berhenti di depannya.

“Pakde Tarjo?” Wiwik mengenali laki-laki tua didalam andong itu. Dia bapaknya Harno, sahabatnya.

“Naik Den, saya antar. Harno memberitahu saya bahwa den Wiwik akan pulang,” Pakde Tarjo berucap dalam bahasa jawa yang halus. Wiwik pun segera naik.

“Den, saya ikut berbela sungkawa ya, Bapak den Wiwik meski sudah hampir 40 hari lalu.” Wiwik hanya terkesiap. Dia sudah tahu Bapak telah meninggal, tapi ucapan bela sungkawa dari Pakde Tarjo seolah membuka duka Wiwik yang dikubur.

“Terima kasih Pakde. Maaf sudah merepotkan Pakde dan Bude Tarjo, juga Harno. Oya, Pakde Bude dapat sungkem dari Harno,” Wiwik berkata juga dalam bahasa Jawa halus.

Perjalanan masih 30 menit lagi. Sebentar lagi dia pulang. Andong Pakde Tarjo yang mengantarkan ke rumahnya.

Dusun Cimpling. Tinggal sedikit lagi jarak yang membawanya. Rumahnya sudah terlihat. Kecil di tengah hamparan sawah yang menguning. Rumahnya masih sendirian, tetangga terdekat hanya Pakde Tarjo, itu pun berjarak hampir 150 m. Puncak gunung Merapi masih terlihat. Cantik.

“Hoooop...”Pak Tarjo menghentikan andongnya. Wiwik segera turun dan segera mengucap teri ma kasih.

“Den Wiwik, tidak apa-apa sendirian? Nanti malam biar simboknya Harno yang menemani, agar besok dapat membantu persiapan 40 hari Bapak ya.”

“Iya Pakde, terima kasih.”

Pakde Tarjo segera berpamitan dan berbalik kembali ke rumah.

Wiwik memandangi rumah kecilnya. Berkelebatan semua bayang kenangan masa kecil, masa keras kepalanya. Memasuki rumah seperti tersedot dalam arus lorong waktu. Ditelusurinya setiap ruang, membelai tiap dinding. Disentuhnya pigura foto Bapak dan Ibunya. Air mata yang tertahan, menggenang mengalir dalam kerinduan.  

“Andai saja aku pulang sebelum semuanya pergi, pasti aku bersujud memohon restu. Andai saat itu...”

Suara Ilahi memanggil dari kejauhan. Wiwik bergegas mengambil air Wudhu. Di tengah ruangan rumah dibentang alas. Sholat yang pertama ketika dia kembali ke rumah ini. Ada doa kerinduan bagi Bapak Ibu, memohon ampun. Juga bagi Indra. Cinta yang tak dimiliki.

“Bapak Ibu, Wiwik sudah pulang.”

untuk jejakubikel

Saturday, April 2, 2011

Dawai yang Membisu


Jika para dawai bergesek menyanyikan kemerduan dari hati, apakah yang terjadi?

“Hai Ella,” sebuah suara menyapa.

Terkejut. “Iya… Indra?”

Indra hanya tersenyum dan segera mengambil tempat disamping Ella. Sedikit beringsut. Bukan risih, tapi ada sesuatu yang yang harus dijaga.

Sambil meletakkan kotak biola Indra mencoba membuka percakapan. “Ikut serta latihan hari ini, Mas Adi memanggilmu juga kan?” sambil melirik pada sebuah kotak biola juga di samping Ella.

Gugup. Ella hanya mengangguk.

****

“Ella,” Indra berteriak memanggil terburu-buru membereskan alat musiknya, setelah latihan hari itu selesai.

Ella sejenak berhenti. Kembali bergegas pergi. Dia harus pergi dari tempat ini, sebelum Frid di rumah memarahinya karena tak tepat waktu.

Indra hanya dapat memandang dari kejauhan. Panggilan kerasnya seperti tak menghentikan langka Ella.

Dawai terluka yang bernyanyi dalam gelisah kesendirian. Perih.

Ella menghela nafas panjang. Untunglah  segera mendapat angkot pulang latihan hari ini tidak terlambat.

Semoga Frid tidak marah lagi. Doanya dalam hati, sambil meraba lengan kanan yang membiru lebam tertutup kemeja. Sakit yang tersisa semalam.  Semoga tak ada yang melihatnya.

Frid berubah sejak PHK dari tempat kerjanya.Mudah tersinggung, dan lebih memilih botol-botolnya. Tak peduli lagi dengan Ella, istrinya. Semalam Frid mabuk lagi, kembali Ella menjadi sasaran pelampiasan, dihempas, dipukul. Ciuman pun menjadi nafsu jalang, terburu-buru, kasar, dan menyakiti. Dan ada perempuan lain. Lebih binal.

Sudut dapur yang gelap, sembab mengalir tanpa suara. Bukan karena perempuan binal itu. Semoga luka-luka ini tak mengganggu latihan, hari pertunjukan semakin dekat, Mas Adi pasti lebih keras menuntut sempurna. Harus bisa, karena ini pekerjaannya untuk mendapatkan uang yang tak mungkin dari Frid lagi.

Dawai pun bernyanyi dalam kerinduan memanggil kekasihnya yang membisu.

“Ah, perempuan itu…Ella…,” Indra mendesah kecewa, mungkin saja panggilannya kurang keras.

Indra mengenalnya di studio Mas Adi. Seorang senior, tapi 2 tahun yang lalu tak pernah ikut latihan, baru 3 bulan lalu bergabung kembali. Indra pernah memergokinya bermain sendiri, indah, gesekan yang lembut, mengalun tapi seperti terluka. Bahkan jika saat itu ada seorang balerina, pasti akan terhipnotis menari dengan alun dawai gesek yang indah itu. Luar biasa, gesekan seorang maestro.

Dua tahun menghilang dan kini bergabung kembali. Indra tahu Ella telah menikah dengan Frid, tapi bukan pernikahan yang seindah gesekan dawainya. Perempuan yang cantik dengan mata dan dawainya yang seperti menyimpan luka.

Selesai latihan tadi, Indra berharap dapat mengajaknya bercakap-cakap, sekedar berkabar yang menghilang. Serta sebuah tanya  tentang lebam di lengan kanan Ella saat mengangkat busur biola tadi. Bisa saja mungkin karena terjatuh. Semoga bukan.. aaah Indra pun kembali membereskan alatnya. Menyimpan kembali pertanyaan itu.

Busur itu takkan melukai dawai, dia hanya menggesek agar dapat memberi nada yang indah.

Sore itu Indra sengaja menunggu Ella di depan gedung tempat mereka berlatih. Indra melihatnya turun dari sebuah angkot. Wajah Ella pucat, nampak tak sehat.

“Hai, sendiri? Tidak diantar Frid?”

Ella menggeleng sambil meneruskan langkah. Indra pun bergegas berjalan disampingnya. Tak sulit, karena Ella tak berjalan cepat, malahan terlihat sedikit limbung. Benar saja, ketika menaiki tangga depan, Ella hampir terjatuh. Sigap Indra menolong, lengan kanan Ella ditangkapnya erat.

“Aduh,” Ella meringis menahan sakit, pegangan Indra terlalu kuat dan membuka lebam yang tertutup rapat oleh lengan baju.

“Ella…. Luka ini… Kamu terjatuh?” terbata Indra bertanya.

“Indra, tolong lepaskan…. sakit,” kemudian Ella segera merapikan lengan bajunya, menutup rapat kembali luka itu. “Jangan bilang ya, aku hanya terbentur kemarin di pintu angkot.”

Indra menatap Ella. Diangkatnya wajah itu. “Frid yang melukaimu?”

Ella tersenyum, “Aku mencintainya.”

Mereka pun berjalan memasuki gedung, Indra mencoba melindungi Ella, tangannya menyentuh punggung Ella. Tapi ditolak dengan tersenyum, “ Tolong, jangan.”

Indra tahu, pasti ada luka lagi disana.

Bolehkah dawai itu menolak memberikan nada yang indah, jika busur itu semakin menyakitinya?

“Ella!!” Indra menghentikan mobilnya ketika dilihatnya Ella sedang menunggu angkot.

“Mau kemana? Ayo kuantar.”

Terlihat ragu. Tapi akhirnya Ella pun bersedia.

“Dari mana, mau kemana?” Indra membuka tanya. Ella hanya diam tak menjawab. “Mmm… kulihat kamu membawa kotak biolamu, hari ini tak ada latihan, jadi ada apa?”

Tetap diam tanpa jawab. Sebuah titik basah mengalir di pipi. Indra melihatnya. Dan segera mengulurkan selembar tissue.

“Oh Ella, ada apa denganmu? Baiklah, kuharap kamu tidak keberatan, ini yang terdekat adalah ke apartemenku, kita ke sana.” Indra pun memacu secepat mungkin.

Memasuki  apartemen Indra. Ella menangis tanpa suara. Mereka duduk di sofa itu. Indra mencoba memeluk Ella.

Sedikit menjauh berusaha menolak. Mereka saling berpandang. Indra memegang wajah Ella, menghapus air mata.  Ella tak menolak.

Ella perlahan melepas  pashmina yang menutup tubuhnya. Kemudian berbalik memunggungi Indra, diangkatnya geraian rambut panjangnya. “Indra, bukalah gaunku.”

“Tapi Ella….”

“Bukalah kau akan tahu,” suara Ella memohon dengan punggung menghadap Indra.

Indra pun menurut. Perlahan. Restliting itu dibuka. Ella hanya memejamkan mata, dan air mata yang semakin deras.

“Oh Ella… Fridkah yang melakukan ini?” terbelalak Indra, melihat semua parutan luka dipunggung Ella. Bekas luka, luka baru, luka akan sembuh, bahkan ada yang bernanah. Dibaliknya segera tubuh Ella, direngkuhnya dengan hati-hati tubuh itu ke dadanya, dan diciuminya rambut dan wajah Ella.

“Aku mencintainya Indra, aku sangat cinta. Apapun yang dia lakukan terhadapku aku terima, karena aku mencintainya,” dalam gugu Ella berusaha menjelaskan.

Indra menahan keinginan merengkuhnya lebih dalam . Ingin melindungi perempuan ini. Perempuan yang 2 tahun lalu dicintainya diam-diam.

Dalam diam jeda panjang mereka hanya berbincang dalam hati.

“Ella, di mana Frid sekarang?” tanya Indra masih memeluk Ella.

“Aku… aku mencintainya Indra, tapi aku harus melakukannya, aku harus pergi.”

Ella melepaskan diri. Digapainya kotak biolanya itu dan dibukanya. Sebuah biola Ella yang biasa dimainkan, tapi kini biola  itu retak, dan masih ada bercak darah segar serta beberapa lembar rambut yang tersangkut di retakan itu.

“Ada seorang bayi disini, dan itu cinta kami yang harus diselamatkan.”

Dawai pun tak sakit, tapi tak ada nada indah lagi. Membisu.


untuk jejakubikel