Wednesday, December 29, 2010

Ebe

“Ting”

Pesan masuk.

Sammy: “ Di mana?”

Segera dibalas.

Lany : “Di suatu tempat, tapi kamu masih bisa mencariku”

Seperti kesal.

Lany hanya menghembuskan asap. Hampir satu jam lalu dia menyendiri di tempat ini. Kopi, buku, Netbook, dan sebungkus rokok.

Kebiasaan dari satu kegalauan dari seminggu lalu. Setelah 2 tahun berlalu tanpa Sammy. Kini Sammy berhasil mencarinya. Sebatas sebuah nomer komunikasi saja.

Resah.

“Ting”

Pesan dari Sammy, setelah cukup jeda.

Sammy : “Apa kabar?”

Pertanyaan sama.  Seminggu ini paling tidak.

Lany : “Baik.”

Jawaban sama. Seminggu ini paling tidak.

Kembali sebatang baru dihembuskan. Dikirimkan sebuah pesan lagi.

Lany: “Apa kabar Mama? Raka dan Bagas? Wei, istrimu?”

Menunggu jawab.

Tiga tahun lalu. Sammy sangat mencintai Lany, meski mereka tahu itu tak mungkin. Mereka bertemu begitu
saja dalam satu cerita indah.

Cinta yang indah. Pertemuan yang indah. Saling cinta.

“Ting”

Sammy : “Mama baik, Raka dan Bagas juga, Wei iya. Terima kasih.”

Kebekuan dalam pesan, terbaca lagi. Dingin.

Dibereskan barang-barang dan membayar. Cepat meninggalkan tempat itu. Pulang.

Sammy: “Boleh aku tahu, kamu sekarang di mana?”

Tak dihiraukan pesan itu.

Sammy : “Lan, mengapa? Aku ingin menemuimu.”

Seakan bertubi.

Sammy: “Lany, aku rindu. I love you.”

Sammy: “ Lany, aku tahu ada Ebe, milikku bersamamu. Aku ingin bertemu.”

Sammy: “Lan, Wei sudah tahu. Ebe milik kita. Kami ingin bertemu Ebe.”

Entahlah. Lany merasa sakit.


***


“Ebe, Bunda pulang sayang.”

Ebe, perempuan mungil 2 tahun, segera melepas diri dari gendongan pengasuhnya. Berlari ke arah cinta Bunda.

Dipeluknya penuh cinta.  Seakan hanya mereka berdua, saling memiliki. Lany dan Ebe.


untuk jejakubikel

Thursday, December 23, 2010

MAAFKAN AKU

Anna dan Wenny.  Mereka sepasang anak perempuan kembar. Sama-sama duduk di kelas 4 SD, bersekolah di tempat yang sama, dan di kelas yang sama.  Kata Bunda mereka,  Anna adalah kakak dari Wenny, karena lahir 5 menit sebelum Wenny.

Perbedaan mereka Anna memiliki tahi lalat di pundak kiri, dan Wenny memiliki tahi lalat di pundak kanan. Tentu saja yang bisa membedakan antara mereka adalah orangtua mereka. Mereka pun di beri gelang yang dapat memudahkan mengetahui Anna dan Wenny, terutama jika di sekolah. Cerdik ya Bunda mereka.

Anna mengenakan gelang berwarna merah di lengan kiri, sedang Wenny mengenakan gelang warna biru di lengan kanan.

Sebenarnya meski mereka kembar tidak selamanya serupa. Anna lebih penyabar dan perlu butuh waktu belajar yang lama jika itu tentang pelajaran di sekolah. Berbeda dengan Wenny yang selalu riang dan tidak butuh waktu lama untuk belajar pelajaran sekolah.  Mereka berdua sangat kompak dan saling sayang. Meski Wenny kerap mengganggu Anna jika jam belajar tiba.

Seminggu menjelang ulangan umum, malam hari mereka belajar bersama. Dan seperti biasa Wenny yang selalu lebih cepat selesai mulai menggoda Anna yang masih kesulitan dengan soal matematika. 

Tapi entah malam itu Anna sedang tak ingin diganggu, malam ini dia sangat serius belajar. Mungkin pelajaran kali ini baginya sangat membutuhkan konsentrasi tinggi.

“Wenny, tolong jangan ganggu aku,” tegur Anna mulai jengkel.

“Haha... ayolah jangan cemberut begitu, senyum dong... “ Wenny masih menggoda.

“Pelajaran itu sangat mudah, jangan cemberut...” goda Wenny lagi.

Tiba-tiba Anna berdiri, raut wajahnya memerah. Marah dan jengkel. Dia mendekati Wenny dan mendorongnya dengan keras hingga terjatuh duduk.

“Bagimu itu pelajaran mudah, tapi bagiku butuh waktu dan semua usahaku untuk mengerti semua pelajaran itu.” Duh, Anna marah.

“Suatu saat kamu akan merasakan ketika kamu lemah dan bahkan tidak bisa belajar dan mengerti itu semua,” lanjut Anna.

Anna pun pergi meninggalkan Wenny yang belum bangkit dari jatuhnya. Benar-benar marah kali ini. Wenny pun marah karena kesakitan telah di dorong. Malam itu mereka tidur dengan marah masing-masing.

Telah tiga hari mereka saling marah. Sebenarnya ada sedikit sesal dan kangen di antara mereka. Tapi mereka tak mau saling dulu meminta maaf.

Malam itu mereka belajar bersama, tanpa tegur sapa. Masih marahan. Wenny pun tidak biasanya dengan cepat menyelesaikan belajarnya. Gelisah. Badannya terasa seperti panas dan di tusuk-tusuk sesuatu.  Tiga hari yang lalu dia sudah merasa tidak enak badan. Dia tidak bilang ke Bunda.

“Uh... susah sekali ini,” dalam gelisah Wenny bergumam.

“Seperti inikah rasanya, yang dikatakan Anna...”

Tiba-tiba Wenny terjatuh. Pingsan.

****

“Bunda, Wenny sudah bangun...” Anna memanggil Bundanya.

“Kamu sudah bangun sayang? “ Bunda dengan lembut mengusap kepala Wenny.

“Kamu di rumah sakit sayang, kamu tiba-tiba pingsan.”

“Kata dokter kamu sakit demam berdarah.”

“Kamu tak bilang ke Bunda kan, kala sudah merasa sakit...”

Wenny pun hanya diam.

Anna juga diam.

Mereka berdua saling pandang. Dan tiba-tiba mereka saling peluk penuh kerinduan.

“Maafkan aku ya Anna, aku selalu mengejekmu. Kini aku tahu rasanya sulit belajar.”

“Aku juga minta maaf Wenny, aku yang mendorongmu waktu itu hingga sakit. Aku kurang sabar ya.”

Bunda pun tersenyum dan mengusap air mair mata.

“Nah, gitu dong... Bunda senang kalian bertegur sapa lagi. Kalian memang milik Bunda yang manis”

“Doa Bunda sudah dikabulkan. Amin.”

“Kami sayang Bunda....”

Mereka berpelukan  menangis dan saling memafkan. Berjanji lebih menghormati satu sama lain.


untuk jejakubikel
Mengucapkan :

SELAMAT NATAL
DAMAI DI BUMI


Moment Natal adalah waktu pilihan Tuhan untuk mengajarkan pada kita bahwa Natal adalah saatnya bagi kita untuk berdamai dengan Tuhan.

Natal adalah waktunya bagi Anda untuk bertemu dengan Kristus: "...sebab sudah waktunya untuk mencari TUHAN, sampai Ia datang dan menghujani kamu dengan keadilan." (Hosea 10:12)

Tuhan tidak hanya ingin Anda berdamai dengan-Nya, Dia juga ingin Anda memiliki kedamaian dan hubungan baik dengan orang lain juga.

Musim liburan biasanya justru lebih sering menjadi waktu konflik daripada waktu untuk  keharmonisan.
Semua keluarga mengalami kesulitan: ada kecemburuan, dendam, kebencian, dan kesalahpahaman.

Siapa yang Anda perlu jangkau di waktu Natal ini?
Siapa yang butuh untuk Anda kirimkan email atau telepon atau kunjungi untuk memulai proses rekonsiliasi?
Apakah ada seseorang yang perlu Anda ampuni?
Apakah ada seseorang yang Anda perlu melakukan pendekatan dan meminta maaf?

Alkitab mengatakan, "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa." (1 Yohanes 1:7)

Ketika Kristus ada di dalam saya dan Kristus ada di dalam Anda, maka kita akan mampu untuk berdamai satu dengan yang lain.
Kita tidak akan memiliki kedamaian di bumi sampai Raja Damai memerintah di hati semua orang dan itulah mengapa kita perlu berdamai dengan Tuhan dan dengan orang lain di moment Natal ini.

Tapi dimulai dengan Yesus dalam hatimu.
Tuhan memberi kita moment Natal sehingga kita bisa bertemu dengan Kristus: "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya.." (Galatia 4:4)

Hal ini berarti waktu kedatangan Kristus bukanlah kebetulan karena "segala sesuatu yang terjadi di dunia ini terjadi pada waktu yang Tuhan pilih." (Pengkhotbah 3:1)

Jangan buang-buang moment Natal tahun ini.
Sudah waktunya bagi Anda untuk berpaling kepada Tuhan. Tuhan berkata, "Sudah saatnya bagi kamu untuk berpaling kepada-Ku, Tuhanmu, dan Aku akan datang dan mencurahkan berkat kepadamu."
_______________________________________

Bacaan Alkitab Setahun :
Pengkhotbah 10-12; Galatia 3
________________________________________

Moment Natal adalah waktu yang dipilih Tuhan untuk rekonsiliasi hubungan kita dengan Dia dan dengan sesama.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

dari: Renungan pagi :
Copyright Christian Pocket guide 2010.

gambar : depz.blogdetik.com/tag/kartu-ucapan-natal/

Sunday, December 19, 2010

CERITA SENJA

Cangkir keramik putih. Dua sendok teh untuk kopi instan atau 1 sendok makan kopi tubruk. Seduh dengan air panas sebanyak 150ml. Gula sesuai selera.

****
Seorang wanita itu menyesap kopinya. Sedikit demi sedikit menikmati  tiap sesapan. Panas untuk suatu senja. Habis tandas tak bersisa. Bahkan bekas lipstik pun dia bersihkan dengan jarinya.

Seorang pria  meletakkan rokok dalam nyala di pinggir asbak. Disesapnya kopi panas itu. Nikmat dalam setiap tiupan menghalau panas, dan sesapan. Hingga tertinggal ampas.

****
Senja dingin, dalam satu meja, seorang wanita dan pria duduk berhadapan dengan cangkir kopinya masing-masing.

Bersamaan dalam sesapan terakhir. Hening.

Wanita itu berdiri, dan pergi.

Pria itu tinggal bersama ampas kopi, puntung rokok, dan sebuah cincin.

untuk jejakubikel

Friday, December 17, 2010

Tak Pernah Selesai

08.30
Secarik kertas dan pena. Telah tersedia setengah jam yang lalu.

Sepuluh menit, resah gelisah mulai menghampirinya dengan pikiran yang berkelana.

Semalam tadi bercinta dengan Wenny yang membirahi dan menggelora, yang merenggut akal dan kekuatan.

Dua malam lalu bersama Wenny, untuk berfoya-foya, dan nyaris menghabiskan uang saku sebulannya. Belanja di butik terbaik dan makan malam romantis.

Tiga malam sebelumnya. Pertama kali bertemu Wenny. Perempuan yang cantik menggoda dan seperti melepaskan satu tulang rusuknya.

Satu jam berlalu. Pandangan kosong ke arah kertas di hadapan. Pikiran pun terbang kemana tak diinginkan.

“Waktu habis.”
“Selesai tidak selesai dikumpulkan,”  suara penjaga ujian.

Yoris terbangun.

Secarik kertas masih kosong dengan pena yang tak tersentuh.

Gagal lagi.


untuk jejakubikel

STACCATO

Awal bulan
Uang di rekening.

Bangun pagi, mandi, berdandan.
Mengunci kamar. Menyapa tetangga kamar kanan kiri.
Berlari kecil menyambut pagi. Senyum ke kantor.

Tengah hari. Sibuk.
Sapaan ceria dunia maya.
Telepon kolega.
Makan siang bersama.

Sore hari.
Belanja.
Telepon seorang teman. Hang Out.
Hingga malam terseyum. Tanpa beban.

***

Tengah bulan
Masih ada uang di rekening.

Bangun pagi, mandi, berdandan, sarapan.
Mengunci kamar.
Berjalan kaki menyambut pagi ke kantor.

Tengah hari. Sibuk.
Membayar tagihan
Marah. Dahi berlipat.
Makan siang sendiri.

Sore hari. Lelah. Penat
Tanpa teman.

***

Akhir Bulan.
Kosong.

Tidak sarapan tidak berdandan.
Tidak ada senyuman.

Tidak sibuk.
Tidak makan siang

Semakin lelah
Gontai dan penat.
Bertekun dalam doa sebelum tidur.
Menunggu.

untuk jejakubikel

Wednesday, December 15, 2010

ADA SISA CINTA

“Sudah?” tanyamu ketika masih dalam pelukmu.

“Hmm...?” hanya menggeliat. Kamu mengelusku mesra.

Tanpa kata menikmati berdua menghabiskan malam. Setelah segala cumbu rindu kita yang hebat.

“Ada tissue?” pintamu.

“Hanya sapu tangan. Kubersihkan sekarang ya?” pintaku.

Kuseka lembut sisa cinta yang tertumpah milikmu dengan sapu tangan biru, warna kesayangan kita. Perlahan dan berpindah ke sapu tanganku.

“Pulang?”

Aku mengangguk, melepaskan diri. Kamu menciumku. Sapu tangan kugenggam erat.

****

“Di mana?”

“Sudah di kereta,” balasku.

“Oh...”

“I love you” katamu lagi.

Hanya hening, aku tak menjawab.

“Aku ingin bersamamu lagi, suatu saat nanti,” kamu memohon.

“Tak mungkin,” akhirnya aku menjawab.

Menggugu sendiri menggenggam sapu tangan erat. Ada sisa cinta yang tumpah di sana. Kuciumi.


untuk jejakubikel

PRASANGKA

Anna memandangi lagi semua saserahan tanda pengikat dari calon suaminya di atas tempat tidurnya. Semua masih terbungkus plastik dalam keranjang cantik.


“Tas tangan, dompet, sepatu, sandal.”
“Kebaya, kain, bra, celana dalam...”
“Hmm... Bedak, pembersih, penyegar, pemulas pipi, eye-shadow, pelembab, alas bedak, maskara.”
“Lipstik, kok tidak ada. Mengapa?”

Anna bingung, ragu menyeruak penuh tanda tanya. Mengapa tidak ada lipstik dalam saserahanan ini.

“Ya sayang?” terdengar suara Yoris menjawab teleponnya.

“Yoris, tidak ada lipstik di keranjang yang ini?”

Sejenak tak ada suara.

“Anna sayang...” Suara Mama, calon mertua.
“Lipstiknya ada, sayang. Kemasannya  yang seperti maskara, ada kuas, berbentuk cair.”
“Mama tidak memberi maskara, karena bulu matamu sudah lentik.”

Anna pun hanya menahan malu.


untuk jejakubikel

Tuesday, December 14, 2010

MEMBISU

Esi membuka lagi dompetnya. Dikeluarkan lagi hapenya. Ditengok kembali.

Mendesah saja.

Seperti bergetar tapi tak berdenyut.
Seperti berlagu tapi tak bersuara.

Kini ditatapnya layar hapenya. Tak ada panggilan. Kosong.

Dan dingin.
Gelisah.  Rindu.  Kembali mendesah.

“Yoris, kamu di mana sih?” lirih dalam desahnya.

“Aku rindu.”

Esi kembali mengambil hapenya, di tulisnya sebuah pesan.

| Aku tahu, kamu punya hape baru. Canggih. Bahkan lebih canggih dari punyaku. Tak ada kabar?  Tak ada kalimat rindu lagi? |

Dikirimnya pesan itu.
Tak terkirim.  Gagal.

Dicoba lagi mengirim sebuah pesan.

|Yoris, ternyata tehnologi canggih pun masih belum dapat menyatukan  kita lagi.|

Tak dapat terkirim.
Gagal lagi.

Esi mendesah marah.

“Sudahlah, aku memang tak punya pulsa.”


untuk jejakubikel

Sunday, December 12, 2010

HANTU CERMIN

29 Desember yang akan datang.

Aku telah menyiapkan sebuah hadiah untukmu saat ulang tahunmu. Kubungkus kertas indah dan pita biru warna kesukaanmu.

Kubayangkan saat kau membukanya nanti. Isinya berupa cermin besar istimewa dengan bingkai tembaga berukir indah.

Saat kau bercermin nanti, kau memandang bayanganmu sendiri yang tampan dan elok. Jangan terkejut pula jika kau jumpai aku di dalamnya bersama bayanganmu.

Aku yang berbaju putih tipis, berambut terurai yang selalu membirahi seperti kagummu padaku.

Ya. Selamanya aku dalam cermin itu dan hadir bersama bayanganmu setiap kamu bercermin. Aku yang bahagia meski bersama bayangmu.

Kamu yang menendangku, menyakitiku, membunuhku, dan menanamku dalam lemari bercermin antik disimpan di ruang bawah rumahmu.  Enam bulan lalu.

untuk jejakubikel

Friday, December 10, 2010

Harapan

Resolusiku tahun 2010?

G A G A L

Bahkan aku kehilangan sahabatku. Aku sudah dibuangnya.

Resolusiku tahun 2011?

B E R H A R A P

Bagiku kamu masih sahabatku. Apapun dirimu, dulu, sekarang, dan nanti kamu tetap sahabatku.

Saturday, December 4, 2010

SUAKA


“Bundaaa!!” teriakku lepas siang sepulang sekolah.
“Tas sekolahku sobek, beliin baru Bunda, nanti sore,” paksaku

Bunda dari dapur buru-bur u keluar mendengar teriakku.

“Ya sayang, Bunda masih harus selesaikan pesanan Tante Ambar dan Tante Kiky.”
“Tiga hari lagi harus selesai.”
 Sabar ya Nak.”

Bunda membujukku.

“Gantilah baju, basuh muka, tangan, dan kaki, makan, dan segeralah istirahat.”

Dengan enggan aku lempar tas sekolah, sepatu, dan baju begitu saja. Bunda dengan segera mengemasi semua yang aku lempar.

Sudah 3 hari, Bunda belum juga membicarakan janji membelikan tas sekolah baru.  Aku kesal dan marah dengan Bundaku seperti 3 hari lalu.

“Bunda, dah gak sayang lagi,” batinku.
“Lebih aku pergi diam-diam, biar Bunda mengerti dan sayang lagi.”

Aku diam-diam pergi dari rumah itu ketika Bunda sedang asyik dengan pekerjaan jahitannya. Bundaku memang penjahit. Bapakku sudah lama meninggal. Aku berdua dengan Bunda, dan aku kelas 5 SD.

Perjalanan siang itu sangat panas, aku lapar dan haus.  Dan ternyata aku berada di jalan ke rumah sahabatku Anti. Aku menuju rumah Anti, siapa tahu dia mau kuajak bicara tentang kekesalanku pada Bunda.

“Hai Lia,” sapa Anti ketika aku sudah di depan rumahnya.
“Masuklah, dan duduk, tunggu sebentar ya.”

Aku duduk di ruang tamu itu. Kursinya sederhana sekali, dari plastik. Rumahnya kecil dan sempit. Sama dengan rumahku.

“Tumben Lia?”
“Ayo minum dulu.”

Aku segera minum.

“Iya, aku mau coba catat beberapa pelajaran yang kayaknya sih aku tertinggal tadi.” Aku beralasan.
“Aku pinjam, aku catat di sini saja ya.”

“Boleh Lia.” Jawab Anti.
“Kita di dalam kamar saja ya, tapi kamarku sempit,  aku harus berbagi dengan 3 adikku.”

Diajaknya aku masuk kamar Anti.

Sempit, dan ada 2 tempat tidur yang kecil pula. Lalu di sudut kamar ada meja belajar yang digunakan Anti berdua dengan adiknya.

“Ini Lia, catatlah yang kamu perlukan. Aku tinggal sebentar ya. “
“Aku mencuci baju dulu, lalu menyuapi 2 adikku lagi”
“Ibuku masih sibuk menggoreng gorengan untuk dijual nanti sore.”

Aku hanya mengangguk.

Kuamati kamar Anti yang kecil dan harus berbagi dengan saudaranya. Beda sekali dengan kamarku, meski kecil tapi aku tak perlu berbagi. Dan kamar Anti rapi, tidak seperti kamarku. Berantakan. Bunda yang selalu membereskan barang-barangku.

Dari kamar terdengar suara 2 adik Anti menangis keras. Berebut mainan. Terdengar pula suara Anti yang sabar berusaha melerai.

Kembali aku mencatat. Terdengar lagi suara Anti meminta adiknya untuk membantu membersihkan rumah.
Sibuk dan ramai rumah ini. Anti mengasuh dan memperhatikan kebutuhan adik-adiknya. Anti sabar dan tak mengeluh.

Beda sekali dengan aku. Bunda sangat memperhatikan aku. Padahal Bunda sibuk, tapi masih sabar memperhatikan kebutuhanku.

“Ah Bunda, pasti sedih tiba-tiba aku menghilang dari kamar.” Tersentak aku.

Padahal aku berencana ingin mengobrol seru dengan Anti, di kamarnya, bercanda, dan kalau mungkin aku ingin menginap di rumahnya. Tapi melihat kesibukan Anti, juga kamar yang sempit dan harus berbagi, aku merasa itu tidak mungkin.  Kasihan Anti.

“Sudah Lia?” tiba-tiba Anti masuk kamar.
“Jika sudah kita makan yuk,”
“Masih ada sedikit, bisa kita bagi aku, kamu, dan Ibuku. Adik-adikku sudah makan kok.”

Aku tersenyum.

“Anti, aku sudah selesai kok.”
“Terima kasih. Aku pamit pulang saja, Bunda pasti menungguku. Maaf ya Lia”

Buru-buru aku pamit.

Sampai rumahku sepi sekali, Bunda pasti di ruang kerjanya. Diam-diam aku masuk kamarku dan berbaring.

“Lia, kamu sudah bangun nak? Makan dulu sayang.” Bunda memanggilku dari ruang kerjanya.

Aku keluar dan ke ruang kerja Bunda. Kulihat Bunda masih menjahit dengan tekun.

“Aku sayang Bunda.” Pelukku dari belakang, dan kucium Bunda.
“Maafkan Lia, Bunda.”

Bunda berbalik dan menciumku.

“Bunda selalu sayang Lia. Kamu milik Bunda satu-satunya.”
“Kita makan yuk, Bunda sudah menunggu kamu bangun tadi.”

Dan kami pun makan bersama lagi. Aku bersyukur punya Bunda yang sabar dan baik. Bunda yang kumiliki. Aku pun tak lagi menagih tas baru pada Bunda.

untuk jejakubikel

Thursday, December 2, 2010

HAPE

Namaku Sati, kelas 4 SD, dan anak kedua dari 2 bersaudara. Samy itu kakakku. Dia mahasiswa semester satu. Keren ya.

Aku mau cerita tentang Kakakku ini. Kata orang jarak umurku sangat jauh, dan Kakak terlanjur menjadi anak kesayangan, manja, maunya menang sendiri. Apa sih ini artinya, aku tidak pernah tahu, yang aku tahu Kakak adalah seorang yang hebat meski kadang-kadang aku yang banyak diam.

Sudah lama Kakak menginginkan sebuah hape yang sangat canggih yang katanya sih bisa segala macam, muter lagu, main internet, facebook, twitter, baca buku, pokoknya canggih deh. Itu juga kata kakakku. Tapi Mama belum mau belikan kakak hape baru, karena punya kakak yang lama pun masih bagus dan masih dapat digunakan.

“Mama pelit dan gak gaul”

Kakak ngambek.

Ssst…. Kakakku tuh kalau ngambek bisa berhari-hari, bisa lamaaa dan puanjaaannng. Pokoknya, kakak harus ganti hape titik. Kasihan mamaku ya teman-teman.

Keluarga kami sebenarnya bukan keluarga kaya, Papa seorang pegawai negeri, Mama seorang guru. Buatku Mama Papa bukan orang pelit. Cuman Kakak saja yang keterlaluan.
Suatu hari akhirnya kakak pun mendapatkan hape yang diiinginkan. Kakak berusaha sendiri untuk dapat membeli hape ini. Kakakku hebat ya.

Masalah hape ini bukan berarti selesai masalah Kakak. Timbul masalah karena kini kakak menjadi jauh dengan kami. Kakak sangat sibuk dengan hape barunya. Pagi hari, siang, malam, sibuk selalu dengan hape-nya. Mama mulai marah. Padahal Mama tuh enggak pernah marah lho.

Akhirnya pada suatu malam Mama dan aku masuk kamar Kakak, dan dengan diam-diam mencoba mengambil hape dari genggaman Kakak. Selama ini tidurpun Kakak selalu menggenggam hape nya. Tetapi Mama kesulitan mengambil hape itu, kakak terlalu erat menggenggamnya, dan makin dipaksa makin erat, dan tiba-tiba aku melihat telapak tangan menyatu dengan hape itu dan tangan kakak berubah menjadi hape.

“Aah Mama!!”
“Kakak, Ma!!”

Menjerit aku memanggil Mama, dan seketika aku bangun ketika Mama memelukku. Kiranya itu mimpi.

Kakak dan Mama hanya tertawa saja ketika mereka mendengar cerita mimpiku. Kini Kakak sudah sadar, dan tidak terlalu sibuk lagi dengan hape barunya. Aku punya Kakak lagi yang hebat.

u/ jejakubikel