Showing posts with label jejakubikel#111kata. Show all posts
Showing posts with label jejakubikel#111kata. Show all posts

Tuesday, October 11, 2011

Tak Kesunyian


Ayi tersenyum menahan tawa melihat tingkah Gembil yang mulai memutar kepalanya. Menganggukkan kepala, menggoyangkan badan ke kanan ke kiri. Kaki diangkat menggaruk jambul kuningnya. 

Gembil seekor kakak tua kecil berjambul kuning yang didipelihara dan di ditempatkan tepat depan jendela kamarnya.  Teman bermainnya sejak kecil hadiah kakak tersayang yang telah tiada.

Ayi tak pernah mengerti setiap orang di rumah ini seperti merasa terganggu. Mereka terlihat menutup telinga setiap Ayi bercanda dengan Gembil.

“Biarlah dengannya aku tak kesunyian.”

Angin sepoi sore membawa Ibu Ayi memasuki kamarnya. Menepuk bahu Ayi.

Tersenyum teduh Ibu dengan kasih, Ayi pun tersenyum. Mengangguk. Kala jemari Ibu memberikan bahasa 
isyarat. Ayi pun membalas dengan bahasa isyarat penuh terima kasih.



untuk jejakubikel #JKOne

Wednesday, September 21, 2011

Tini dan Warti


Selendang batik harum beraroma malam dan klerak. Pemberian Bapak ketika aku berumur 12 tahun. Aku bangga dengan selendang ini, seperti aku bangga dengan Bapakku.

Masih saja harum beraroma malam dan klerak.

Tiga hari lalu anak lelaki kami lahir. Thole, begitu nanti kami akan menyebutnya. Anak yang telah dinantikan dua tahun berlalu perkawinan kami. Tetapi kebahagian sekaligus duka bagiku, istriku tercinta pun telah meninggal dunia saat melahirkan Thole.

“Kasihan kamu Thole, tapi jangan khawatir Nak, Bapak siap menjagamu, karena akulah juga Ibumu kini.”

Kelak selendang batik ini kuberikan pada anak lelakiku. Semoga dia selalu bangga pada bapaknya dan kakeknya. Pernah diusia muda menjadi bintang sinden panggung ludruk. Sebagai Tini dan Warti.

untuk jejakubikel

Tuesday, September 20, 2011

Tegar


“Semua sudah siap Ma. Baju Kurung, kain panjang, celana dalam, dan BH. Obat-obatan sudah masuk koper. Mama hati-hati ya.” Suprapto dengan setia seperti biasanya membantu Nunik istrinya yang seorang aktivis feminis. Besok dia menjadi pembicara di satu seminar di Jakarta.

“Terima kasih, Pa.”

Satu ucapan terima kasih langka dari Nunik, yang nyaris jarang diucapkan kepada suaminya.

Siang yang penat selepas menjadi pembicara, Nunik menerima seluler dari asistennya. Sebuah kabar buruk menjadi kepulangan bersegera. Belahan jiwa yang telah tiada.

“Papa,” isak tertahan dari seorang perempuan yang tegar. Ada hati terlecut. Sebagai manusia tetap ada cinta yang patah dan air mata. Sekuat diri sebagai perempuan, dia tetap seorang istri Suprapto.


untuk jejakubikel

Bukan Itu


“Say, aku sudah di apotek. Duh, aku bingung terlalu banyak pilihan. Semestinya tadi sama kamu jadi kita bisa memilih yang cocok.” Indra berbisik pada selulernya hati-hati. Takut pembicaraannya didengar para penjaga dan pengunjung lain.

Waktu hampir menunjukkan tengah malam. Indra secara rahasia hendak membeli kondom demi keinginan bersama Dawi, kekasihnya. Bukan kekasih pertama, tapi kekasih yang disembunyikan.

Indra masih terlihat bingung memilih. Bercinta bukanlah pertama kali baginya. Tetapi memakai kondom adalah kali pertama baginya.

“Jadi Say, aku membeli yang mana?” Indra mendesak.

“Sayang, kamu tak perlu membelinya, percuma. Toh, 3 bulan lalu kita sudah melakukan, dan kini kamu hanya perlu membeli sebuah test pack saja. Aku terlambat bulan.”


untuk jejakubikel

Monday, June 27, 2011

Aku Rindu

Suara panggilan mesra dari sang Kuasa berkumandang lagi senja itu.

Aku masih menunggu Indra. Pulang dan membersihkan diri segera. Mengambilku dan mengibaskan. Menggelar. Ada harum mulutnya menguar. Berbisik lembut. Sujud doa syukur menjawab panggilanNya. Elok bercahaya di atasku.

Senja telah hilang. Indra belum juga pulang. “Mungkin nanti malam, dia akan datang.” Angin malam berhembus membelai dari celah jendela kamar ini.

Hari berganti. Panggilan subuh berkumandang lagi. “Ah, Indra belum kembali. Seminggu tanpa kucium lembut harumnya. Aku rindu.”

Siang menyeruak. Dua orang memasuki kamar ini. Ryan, adik Indra, dan ibunya.
“Lihat Ibu, ini sajadah Indra. Kamar Indra akan kubersihkan saja. Sajadah ini untukku saja. Indra takkan pernah memerlukan lagi.”

untuk jejakubikel

Thursday, June 23, 2011

Saksi Beringin

by Te@embunbeningpagi


Berempat kami tumbuh bersama. Terpisahkan jarak dan jeda. Waktu dan kisah berbeda.

Orangtua kami? Tak pernah kami mengenalnya. Sejak kecil kami berempat bersaudara. Ketika kami mulai tumbuh dan kuat. Segera kami dipindahkan.

Aku di daerah pertigaan Kronggahan. Dua saudara kami di daerah pertigaan Cebongan Utara dan Cebongan Selatan. Terakhir bertempat di perempatan Seyegan.

Jaman terus berubah dengan sejuta kisah tentang kehidupan. Kelahiran hingga kematian. Panas, hujan, angin ribut, gempa bumi, hujan abu. Perang dan kemerdekaan. Panen dan kegagalan.

Kamilah saksi mereka dan kehidupan yang terus bertumbuh dan menua.

Hanya kepada angin berhembus kami saling sampaikan kabar. Suka dan duka. Menitipkan sebuah pelukan kerinduan. Hingga kelak berakhir tugas kami di tanah ini.

untuk jejakubikel

LAYAK

Tuan yang terhormat,

Sekiranya Tuan dapat membaca pesan ini, tentu pada saat itu aku sudah tak berada di sini lagi.

Aku budakmu. Apa pun perintahmu kuturuti. Kuanggap saat itu engkau sangat sayang padaku. Meski tanpa belaian, elusan, bahkan sebuah mandi yang harum. Hanya sepiring nasi basi setiap hari.

Kan kucari seekor tikus, hama bagi sawah kita. Seekor ular pun kulawan agar si Kecil tak digigit saat bermain.

Tak pantas aku mengeluh.

Kukais tanah halaman. Kubuat ceruk melingkar rumahmu. Hujan semakin deras. Tadi kulihat air sungai mulai naik. Semoga banjir tak datang tiba-tiba sebelum selesai kubuat.

Kan kujaga kalian dengan segenap sayangku dan sekuat tubuhku ini.


Seekor budakmu
yang layak disebut ANJING.

Wednesday, June 22, 2011

Dasar Bocah

“Nak, jangan main di luar. Berbahaya. Tunggu Emak di sini,” mendesis sayang si Emak pada Bocah Ular dengan menggesekkan tubuhnya.

“Iya Mak, aku tunggu di sini,” membalas sayang.

Si Emak pun keluar mencari makan.

“Meong... ” Si Hitam, seekor anak kucing keluar dari rumah.

Bocah Ular pun tanggap. Mendesis keluar sarang. Si Hitam melihatnya, begitu juga Bocah Ular itu.

Mendesis, mengeong. Berulang kali.

HAP!

Leher Bocah Ular di mulut Si Hitam, dan tubuh Si Hitam terbelit Bocah Ular.

Si Emak yang baru kembali mendesis terkejut. Segera mereka saling melepaskan diri. Si Hitam kembali ke rumah.

“Emak jangan marah... itu hanya bercanda. Dia teman bermainku selama Emak pergi.”



untuk jejakubikel

Friday, June 10, 2011

Transaksi

by Te@embunbeningpagi

Lidya menghembuskan asap yang mengepul. Duduk di sofa merah. Posisi mengangkang lepas. Koper terbuka di atas meja berisi segepok bundel uang. Nilainya lebih dari harga-harga laku tubuhnya dimasa lalu. Perempuan anggun duduk hati-hati di sofa berhadapan.

“Cukupkah?” Perempuan anggun itu bertanya. “Kapan aku bisa membawanya?”

Asap tebal dari bibir merah Lidya makin menyesaki ruang itu. Seorang centheng membawa masuk keranjang besar.

“Bawalah,” kata Lidya. “Sampaikan pada Frid, suamimu, aku juga mencintainya. Ibu bayi itu sudah mati saat melahirkan. Terlalu muda. Dan Frid, pelanggan terbaiknya di sini.”

Melengos. Tanpa kata. Perempuan itu berlalu dengan keranjangnya. Kini juga anaknya, setelah sekian tahun perkawinan tanpa keturunan. Dibeli dari seorang germo.

Published with Blogger-droid v1.7.1