Thursday, October 6, 2011

terima kasih Ibu


Bau harum menggoda tercium dari dapur. Paduan irisan kecil bawang merah dan satu butir telur dikocok dan digoreng. Menyeruak lambung kosong hingga membangunkan bagi yang tidur belum terlalu lama.

Isya menggeliat dari tidurnya yang belum delapan berlalu. Dingin semilir dari dinding bambu kamar tidurnya. Ibu sudah bangun lebih dulu, ketika di sebelahnya kosong tertinggal selimut tipis mereka berdua. Kuliah pagi hingga sore, berlanjut kerja hingga malam larut sangat menguras tenaganya.

Hidungnya membaui sarapan. Isya pun segera turun dari tempat tidurnya dan mandi.

Ibu telah menunggunya di meja makan. Bukan. Ini meja serba guna di rumah ini. Satu-satunya meja yang mereka miliki. Mereka pun duduk bersebelahan. Satu lembar telur dadar yang lezat di atas piringnya. Tipis dengan banyak irisan bawang goreng. Isya pun membagi separuh telur itu, dan menaruh di atas piring kosong di hadapan ibunya.

Sang Ibu kemudian mengiris separuh lagi telur dadarnya dan menaruh di atas piring Isya kembali, “Kamu lebih banyak membutuhkan tenaga daripada Ibu, Nak.”

Isya hanya mengangguk. Ritual setiap pagi bersama Ibunya. Dia tak membantah. Ibu selalu begitu.
Mereka segera menyelesaikan sarapan hangat dengan cerita riang Isya. Dan waktu berangkat pun tiba, Isya mencium tangan Ibu. Dan janji kembali sehat malam nanti.

***

Tujuh hari sudah berlalu. Kini saatnya.

Isya pun segera bangkit dari tidurnya. Masih ada waktu. Segera membuat sarapan kesukaannya, telur dadar dengan irisan bawang merah di dalamnya. Diletakkan telur dadar itu di piring kosongnya. Masih ada piring kosong lain di atas meja.

Telur dadar pun diirisnya separuh, dan diletakkan di piring kosong lainnya. Dipandangi piring itu. Ada haru di sana. Ibu telah tiada tujuh hari lalu.

Menyelesaikan sarapan dengan perlahan. Tak ada cerita ceria yang dibagi. Tak ada lagi godaan keriput Ibunya. Sendirian. 

“Ibu, aku harus pergi. Kini aku tak memiliki siapa pun lagi. Aku harus meninggalkan rumah ini menuju kota besar. Terima kasih Ibu, untuk semua doa dan semangat. Juga sarapan kita. Kelak aku akan kembali ke rumah ini. Aku janji.”

Piring Ibu masih ada separuh telur dadar.


#15harimenulisdiblog #7

No comments:

Post a Comment