Bau harum menggoda tercium dari dapur. Paduan irisan kecil
bawang merah dan satu butir telur dikocok dan digoreng.
Menyeruak lambung kosong hingga membangunkan bagi yang tidur belum terlalu lama.
Isya menggeliat dari tidurnya yang
belum delapan berlalu. Dingin semilir dari dinding bambu kamar
tidurnya. Ibu sudah bangun lebih dulu, ketika di sebelahnya kosong
tertinggal selimut tipis mereka berdua. Kuliah pagi hingga sore,
berlanjut kerja hingga malam larut sangat menguras tenaganya.
Hidungnya membaui sarapan. Isya pun
segera turun dari tempat tidurnya dan mandi.
Ibu telah menunggunya di meja makan.
Bukan. Ini meja serba guna di rumah ini. Satu-satunya meja yang
mereka miliki. Mereka pun duduk bersebelahan. Satu lembar telur dadar
yang lezat di atas piringnya. Tipis dengan banyak irisan bawang
goreng. Isya pun membagi separuh telur itu, dan menaruh di atas
piring kosong di hadapan ibunya.
Sang Ibu kemudian mengiris separuh lagi
telur dadarnya dan menaruh di atas piring Isya kembali, “Kamu lebih
banyak membutuhkan tenaga daripada Ibu, Nak.”
Isya hanya mengangguk. Ritual setiap
pagi bersama Ibunya. Dia tak membantah. Ibu selalu begitu.
Mereka segera menyelesaikan sarapan
hangat dengan cerita riang Isya. Dan waktu berangkat pun tiba, Isya
mencium tangan Ibu. Dan janji kembali sehat malam nanti.
***
Tujuh hari sudah berlalu. Kini saatnya.
Isya pun segera bangkit dari tidurnya.
Masih ada waktu. Segera membuat sarapan kesukaannya, telur dadar
dengan irisan bawang merah di dalamnya. Diletakkan telur dadar itu di
piring kosongnya. Masih ada piring kosong lain di atas meja.
Telur dadar pun diirisnya separuh, dan
diletakkan di piring kosong lainnya. Dipandangi piring itu. Ada haru
di sana. Ibu telah tiada tujuh hari lalu.
Menyelesaikan sarapan dengan perlahan. Tak ada cerita ceria yang dibagi. Tak ada lagi godaan keriput Ibunya. Sendirian.
“Ibu, aku harus pergi. Kini aku tak
memiliki siapa pun lagi. Aku harus meninggalkan rumah ini menuju kota
besar. Terima kasih Ibu, untuk semua doa dan semangat. Juga sarapan
kita. Kelak aku akan kembali ke rumah ini. Aku janji.”
Piring Ibu masih ada separuh telur dadar.
#15harimenulisdiblog #7
No comments:
Post a Comment