Saturday, March 19, 2011

Pesanan Emak

Kaki kecilnya setengah berlari, tersaruk di jalanan berdebu,  terik menyengat. Sesekali menoleh ke belakang. Aman.

Nafas memburu, berpeluh. Tangannya membekap bungkusan bubuk putih pesanan Emak  dibeli dari Babah Ang. Teringat pesan untuk berhati-hati dengan orang tak dikenal.

Merasa diikuti. Ketakutan. Untung rumah semakin dekat. Emak pasti menunggu.

****

Lelaki itu berusaha mengikuti langkah gadis kecil itu. “Sial, kemana dia tadi?” Lelaki itu mengatur nafas. Dari kejauhan kembali melihat bayang gadis kecil itu. “Hah, sama saja  akhirnya ke rumah si pembuat tahu itu, tak perlu mengejarnya.”

****

Mereka terkejut seorang laki-laki sudah didepan pintu rumah.

“Ini, kembalian yang tertinggal,” terengah-engah sambil menyerahkan uang. “Saya pesuruh Babah Ang.”

untuk jejakubikel

Thursday, March 17, 2011

Tetap Begini

"Indra, jika kelak aku meninggalkanmu lebih dahulu, apalagi dengan sakitku ini yang tak mungkin dapat disembuhkan, kuharap engkau mau memenuhi permintaanku ini. Dengar baik-baik ya, catatlah jika memang diperlukan."

Indra hanya mengangguk mengiyakan. Dia tahu temannya sakit keras, dan mungkin sebentar lagi dirinya pun akan sakit yang sama.

"Aku ingin kamu yang memandikan aku. Tak perlu buru-buru memberitahu keluargaku tentang kematianku, bahkan mengapa aku mati. Jika saatnya mereka tahu aku mati, jangan biarkan mereka melakukan otopsi atas diriku. Itulah aku menginginkan kamu yang memandikan aku, mendandaniku secantik seperti yang kau kagumi sebelum aku sakit."

Indra berusaha menahan air matanya.

"Satu lagi, di batu nisanku tetap tertatah Janiza Yuliwati, bukan Jaka Yuliawan."

untuk jejakubikel

Wednesday, March 16, 2011

Lampiran Surat

Sayangku, kekasihku

Siang yang terik tadi aku datang di kafe tempat kita biasa bertemu, seperti janji  semalam untuk bertemu lagi. Janji memadu kasih, mengurai simpul kerinduan di hati kita.

Aku menemukan dirimu, tapi kamu tak sendiri. Ada seorang perempuan satu lagi. Istrimu.

Sakit sayang, kamu hanya memandangku dari jauh. Matamu setajam pisau bedah yang mengiris jantungku. Mengiris kecil-kecil hingga serpihan terakhir layaknya seonggok daging cacah.

Kamu tak pernah tahu, ada sebilah pisau di dalam tasku. Ingin kuhancurkan wajah perempuan dan kamu. Kuambil jantung kalian dan kucacah.

Sakitkah sayang?

Jangan kuatir sayang. Jika kamu membaca ini, kulampirkan sebongkah daging cacah untukmu dan istrimu. Entah jantung siapa. Mungkin milikku.


Yang tersakiti

perempuanmu lain


Thursday, March 10, 2011

(sebuah) Kegagalan atau Keberhasilan

Hanya satu yang kuinginkan. Aku tak ingin mengenalmu lagi. Dan dia. Selamanya.


Sakit.
Ruri memutuskan untuk meninggalkan dari rumah harapan mereka, bunga-bunga koleksinya, kehangatan keluarga besar, dan dari Yoyo suaminya. Serta semua kenyamanan.

Pergi.
Satu keputusannya. Setelah Yoyo lebih memilih perempuan itu dan janin. Cukup. Ruri memilih pergi setelah semua pertengkaran, dan semua kesalahan kegagalan pernikahan dibebankan kepadanya.

Jika saja...
Ruri lebih cantik, Ruri lebih menarik, Ruri lebih bisa berdiskusi, Ruri lebih mengerti, Ruri lebih... lebih... Ruri lebih segalanya dari perempuan itu. Bahkan mempunyai anak. Ruri kembali menyalahkan diri sendiri.

****

Yoyo menghentakkan rambutnya, buku jarinya mengeras. Bodoh, bodoh berulang kali diucapkan. Pertengkaran sekaligus perpisahan dengan Ruri, perempuan yang dinikahinya selama 5 tahun. Tanpa keturunan.

Kini ada Wenny bersama bayi. Milik mereka. Bukan dari sebuah pernikahan dengan Ruri. Wenny yang diinginkannya. Dia mencintainya. Bahkan berharap selamanya.

Dua perempuan. Juga janin dari satu perempuan.

****
Wenny terpekur.
Test Pack telah menjadi bukti. Yoyo. Mereka saling cinta dan menginginkan. Tapi ada Ruri, perempuan lain. Istri Yoyo.

Aku juga perempuan.
Dan aku juga mencintai Yoyo. Berulang kali dilafalkan dari sebesar rasa bersalah di sebuah pernikahan. Dialah duri itu. Kini ada kehidupan di rahimnya, buah cintanya bersama Yoyo, suami Ruri.

****

Harapan.
Siapakah pemenangnya. Pernikahan atau seorang bayi?

untuk jejakubikel

Wednesday, March 9, 2011

Sebuah Rahasia

by Te@embunbeningpagi


Rosa menanti kelahiran bayinya. Kurang seminggu menurut dokter. Danny sang suami sangat menantikan kelahiran ini. Seorang bayi dari pernikahan bersama Rosa yang telah ditunggu selama sembilan tahun.

Sembilan tahun penantian dengan segala usaha dan doa. Kehadiran sang bayi sangat ditunggu.

Seorang laki-laki atau perempuan saat ini biarlah menjadi misteri bagi mereka, meski hasil USG sudah menyatakan jenis kelamin bayi tapi mereka saling berjanji apa pun itu semua adalah anugerah luar biasa. Biarlah nanti terjawab dan menjadi hadiah terindah bagi perkawinan mereka.

“Danny, aku ingin anakku jika perempuan kuberi nama dia Arum. Pasti cantik ya...,” dengan manja Rosa memeluk lengan suaminya.

“Hmmm... terserah kamu, dia anak kita. Kalau laki-laki?”

“Entahlah Dan, aku belum menemukan sebuah nama. Aku hanya merasa anakku ini perempuan. Mungkin jika laki-laki kuberikan nama Rangga.”

Danny tercekat mendengar nama itu. Seperti ada sesuatu yang tak setuju. Danny hanya bisa mengangguk menyetujui. Rosa tersenyum melihat anggukan Danny suaminya, dan kembali mengelus perutnya, seolah berbicara dengan anaknya.

 ****

Tiga hari menjelang kelahiran. Hari itu Rosa sedang duduk saja, perutnya mulas. Danny suaminya telah berangkat ke kantor. Mulas datang dan pergi. Gelisah mungkin sudah  saatnya.

Rosa sedang merencanakan sesuatu dan harus diselesaikan hari ini. Dibuka laptopnya. Power dinyalakan. Internet telah tersambung. Hendak ditulisnya sebuah email.

Berpikir dan menimbang. Bercampur resah dan gelisah. Jari-jarinya di atas tuts keyboard.  Sebuah kata “Hi” diketiknya. Tiba-tiba Rosa mengaduh, mulasnya datang lagi dan lebih sering. Segera dimatikan laptop, dan diraih telpon genggam. Memanggil Danny.

****

Pagi itu Danny mencium Rosa istrinya sebelum berangkat kerja. Sebuah pesan berhati-hati dan segera menelepon jika terjadi sesuatu.

Menggantung sebuah resah. Dan cemburu.

Ketika nama Rangga disebut oleh Rosa sebagai calon nama bayi mereka.

Danny tahu siapa Rangga. Nama seorang laki-laki yang sudah tidak ingin diingatnya lagi.

Sebuah masa lalu.

Siang yang tak sibuk, Danny menunda telepon ke Rosa, berharap semua baik saja. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk. Rosa.

****

Bayi perempuan. Mengusap peluh dan air mata tak henti diciuminya Rosa yang nampak tersenyum dan kelelahan. Saling memeluk dan menangis. Inilah hadiah terindah di pernikahan mereka. Arum.

Danny menggendong Arum, sederet doa diucapkan di telinga Arum yang kemerahan menangis kencang. Bayi perempuan yang cantik, sehat, dan kuat.

****

Esok hari air susu Rosa sudah keluar. Hari ini dia akan mencoba menyusui Arum untuk pertama kalinya. Kerinduan seorang ibu.

Perawat sudah datang membawa Arum. Nama yang cantik, secantik bayi perempuan. Digendongnya Arum dengan penuh kasih. Disusuin. Dipandangi wajah Arum.

Teringat sesuatu. Rosa bergegas mengambil  smartphonenya. Masih sambil menyusui, Rosa berpikir untuk menulis sebuah pesan.

~Rangga yang baik.

Pukul 13.11 tanggal 01 November 2010 telah lahir Arum. Anak perempuan, anakku, anak kita. Sehat dan berambut ikal.

Benih cinta yang kau tinggalkan untukku sembilan bulan lalu. Kini kunamai dia sama seperti keinginan kita saat itu.

Dia selalu bersamaku. Kamu hanya perlu tahu ini.

Dan dia berambut ikal dan bermata coklat. Mirip kamu.

Seorang Ibu yang berbahagia

Rosa


Selesai. Belum terkirim.

Melamun. Mempertimbangkan segalanya. Semua sudah terjadi.

****

Save as draft
Hanya ini yang Rosa lakukan.

Kembali dipandangi dengan kasih Arum yang masih menyusu.

“Arum, apa pun yang terjadi, selamanya kamu milik Ibu.”

untuk jejakubikel

Sunday, February 27, 2011

Saling Memiliki

by Te@embunbeningpagi

Malam yang biasa mereka tidur berpelukan. Dewi memeluknya lebih dulu hingga mereka tertidur. Pagi menjelang bangun, Budi yang memeluk Dewi. Mesra.

Hanya mereka berdua. Tanpa anak dan cucu. Tak pernah ada diantara mereka. Bukan mereka tak menginginkan atau mereka mandul tapi beginilah perkawinan mereka. Apa adanya. Mereka saling menerima dan tanpa syarat.

Tiga puluh sembilan tahun menjalani pernikahan. Sempurna? Mereka tak pernah tahu yang disebut pernikahan sempurna. Beginilah pernikahan mereka selama ini. Saling memiliki. Budi sudah pensiun sebagai seorang dosen dan peneliti. Dewi, istrinya selisih 4 tahun lebih muda, setelah pensiun dini sebagai karyawan swasta kini mengelola sebuah usaha laundry.

Apa adanya. Meski ada juga gejolak dan gelombang sepanjang pernikahan mereka tetapi cinta mereka terlalu kuat dan melalui selama ini. Pagi ini kurang dari sebulan mereka akan merayakan empat puluh tahun pernikahan, tak ada rencana pesta. Cukup mereka saja.

Ah cinta, begitu perkasakah engkau ada diantara mereka.

Siang yang sibuk. Hari ini adalah saat pemeriksaan jantung Budi ke dokter terpercaya di rumah sakit umum. Budi sendiri saja berangkat dengan angkutan umum. Dewi sedang sibuk dengan karyawan laundrynya. Budi pun telah pamit. Sejak diketahui mengalami kelainan jantung, Budi tak boleh lagi menyetir mobil.

Sesampai di rumah sakit, panas dan terik, dan antrian mulai memanjang. Budi pun sabar ikut mengantri. Tak sendiri karena di sini ada banyak kawan pensiunan dari berbagai instansi. Pemeriksaan kesehatan rutin. Hampir 2 jam lebih Budi menunggu. Lupa membawa botol minum yang disediakan Dewi. Untunglah namanya segera dipanggil.

Dokter Ario. Bukan Dokter Anas, dokter ahli jantung yang biasa memeriksa Budi. Rupanya Dokter Anas sedang bepergian, dan sementara digantikan dokter Ario. Masih muda. Lebih cocok disebut anak bagi Budi.

“Selamat siang Bapak Budi,” senyum ramah seorang dokter muda.

“Selamat siang, Dokter. Pengganti sementara Dokter Anas ya?” tanya Budi.

“Iya, beliau sedang bepergian. Saya baca dulu catatan yang ditinggalkan Dokter Anas ya, Pak Budi.”

“Silakan dokter. Jantung saya memang sakit dan berbeda dengan yang lain. Mohon jangan kaget,” masih sempat Budi melemparkan canda.

Dua menit kemudian.

“Mari Bapak, saya periksa dulu.”

Stetoskop pun ditempelkan. Dingin.

“Hmmm... hmmm...hmmm...,” ketiga kalinya sebuah hmmm digumamkan Dokter Ario.

Budi hanya memandang mencoba membaca raut wajah dokter itu.

“Bapak Budi, sebaiknya berbaring dulu ya, jangan bergerak, sabar ya Pak.”

Budi hanya mengiyakan. Dokter Ario bergegas memanggil seorang perawat. Berbincang sesuatu. Sesekali memandang Budi yang berbaring. Perawat keluar ruangan. Sejeda. Masuk kembali.

“Pak Budi, mohon sabar ya Pak, kami carikan kamar. Bapak, anggota Askes pemerintah ya?” tanya perawat itu.

Kembali Budi mengiyakan. Suasana pun tiba-tiba menjadi cepat, dan seperti ada suatu kepanikan saja. Budi masih berbaring seperti yang dikatakan Dokter Ario. Seorang perawat memasangkan jarum infus.

Heran. Budi hanya bisa bertanya dalam hati saja. Ada apa dengan dirinya. Budi menurut saja kepada dokter dan perawat itu. Hanya satu yang dikuatirkannya. Dewi.

****

Hari ini Dewi sangat sibuk sekali. Rejeki mengalir. Usaha laundry sedang laris manis. Tak hentinya order masuk. Pembantunya hanya seorang dan hampir kewalahan. Dewi ingat hari ini adalah jadwal Budi kontrol ke dokter. Tadi pagi dia meminta maaf tak dapat menemani seperti biasanya. Budi pun memaafkan, memahami kesibukan Dewi.

Meski sibuk, tapi Dewi gelisah memikirkan Budi. Dia tahu Budi mandiri, tapi hati resah sebagai istri tetap menghampiri.

Sudah siang terik matahari meninggi Budi pun belum pulang, belum ada kabar. Mungkin antrian sangat panjang. Hanya membatin saja. Dewi pun menunda kembali untuk menelepon Budi. Sebentar lagi.

Kriiiiiiiiing...

Kriiiiiiiiing....

“Ah, pasti Budi.” Dewi bergegas.

“Selamat siang, bisa berbicara dengan Ibu Dewi, kami dari Rumah Sakit Umum.”

Dewi terhenyak. Berusaha tenang dan sabar.

“Saya sendiri?”

“Oh, begini Ibu, kami mengabarkan bahwa Bapak Budi berada di rumah sakit kami, sekarang Beliau berada di kamar Dahlia 301. Sesuai petunjuk Dokter Ario bahwa Bapak Budi dimohon untuk beristirahat.”

“Baiklah, saya segera ke rumah sakit. Terima kasih.” Dewi pun menutup pembicaraan.

Tanpa suara Dewi hanya mengusap air mata.

“Oh Budi, bertahanlah demi aku,” berkata dalam desahnya.

Dewi pun segera memesan sebuah taxi dan segera mempersiapkan segala yang diperlukan Budi selama di rumah sakit. Entah untuk berapa lama. Dewi hanya pasrah.

Sepanjang perjalanan, sepanjang doa diucapkan untuk Budi, untuk mereka.

“Budi bertahanlah,” desah Dewi.

****

“Aku ini baik-baik saja. Dokter itu pengganti Dokter Anas, sudah kukatakan jantungku ini memang sakit. Jika diperiksa pasti berbeda dengan yang lain,” bersungut-sungut Budi menjelaskan kepada Dewi segera setelah tiba.

Dewi tersenyum mendengar penjelasan Budi sambil mengelusnya. Menyimpan kembali sebuah kekuatiran dan air matanya.

****

Hari ke-5 Budi di rumah sakit. Dewi masih menjaganya. Sabar. Budi terkadang bertingkah seperti anak kecil. Besok Budi sudah boleh pulang. Dokter Anas akhirnya kembali dari bepergiannya dan sudah memeriksa hasil Budi. Semua “baik”, dokter pun mengijinkan besok sudah boleh pulang.

Malam terakhir di rumah sakit.

“Dewi, tidurlah di ranjang bersamaku. Pasti masih muat untuk kita berdua. Aku ingin dipeluk.”

“Eh, mana boleh. Nanti ketahuan perawat bisa kena tegur. Malu kan.”

“Aku ingin sekali dipeluk sampai aku tertidur nanti,” sambil bergeser posisi ke tepi.

“Aku elus-elus saja ya, seperti kemarin.”

“Dipeluk. Naiklah. “ berkeras Budi meminta.

Dewi akhirnya menuruti keinginan Budi. Ada sedikit berdesir di hatinya. Sebuah kekuatiran menyergap yang tidak ingin dipikirkan malam itu.

Dewi pun tidur disamping dan memeluk hingga Budi tertidur. Gelisah masih menjaganya, tak lekas tidur. Hingga kelelahan hati dan firasat datang, Dewi pun tertidur.

Hingga subuh berlangit suara mesra panggilan dari Tuhan.

Dewi terjaga, dan mendapati dirinya dalam pelukan Budi. Dengkur perlahan di telinganya. Lega. Budi diciumnya perlahan.

Budi terbangun. Dewi baru saja selesai menjalankan ibadahnya dan segera mendapati Budi sedang tersenyum memandang. Mereka berpelukan.

Selamanya saling memiliki.


untuk jejakubikel

Monday, February 21, 2011

Genap Setahun

Badannya tegap, atletis, masih muda. Dia sedang duduk di sana menunggu pesawatnya. Bawaannya tak banyak. Sebuah tas ransel besar. Kelihatannya berat.

Dan dia sedang asyik membaca buku.

Banyak sudah orang lalu lalang tapi tak satu pun melihatnya. Bahkan menghiraukannya. Tapi mereka hanya bisa melihat ada setangkai mawar merah di bangku tempat lelaki muda itu berada.


****

Seorang ibu sudah berumur dan seorang perempuan muda turun dari sebuah taxi. Berjalan bersama. Mereka tak terlihat buru-buru. Hanya raut sedih terlihat. Mereka menuju bangku tempat lelaki itu berada. Duduk. Ketika panggilan pesawat terdengar mereka segera beranjak dan meninggalkan setangkai mawar merah di sana.

Hari itu genap setahun lelaki muda itu pergi dan tak kembali selamanya.


untuk jejakubikel

Selalu Arah Barat

“Jadi arahnya dari gapura terminal ke barat. Terus saja ke barat. Ada pertigaan yang di tengahnya pohon beringin. Ambil ke arah kanan. Terus saja ikutin jalan beraspal itu.” Nita menjelaskan lewat selulernya kepada Erwin.

Erwin menunggu lagi.

“Ada jembatan, mengikuti saja jalan beraspal itu. Selalu ke barat. Lihat saja kompas,” penjelasan Nita masih berlanjut.”

Erwin pun masih sabar mendengarkan.

“Bila bertemu sebuah perempatan yang ditengahnya ada patung kecil, kamu tetap saja lurus ke arah barat. Bertemu pertigaan pohon beringin lagi. Belok kanan, itu berarti ke utara. Dari situ hanya 1,8 km saja,” terengah Nita mengakhiri penjelasannya.”

“Nita, aku hanya mau kirim sebuah paket, bukan hendak ke rumahmu. Jadi alamatmu?” balas Erwin.

untuk jejakubikel

Friday, February 18, 2011

Malam Nanti

Paman Badut datang... Paman Badut datang....” sorak gembira anak-anak kecil menyambutnya.

Sulap lagi, Paman.”
Buat bunga lagi, Paman.”

Berebut anak-anak tertawa ceria bersama Paman Badut.

Wenny, 9 tahun. Tidak menikmati tawa itu. Dia juga penghuni panti asuhan ini.
Duduk diam di sudut ruang rekreasi. Raut mukanya memerah. Alis bertaut. Bibir bergetar.

Dia tak menyukai Paman Badut itu.
Paman Badut yang sama.

Wenny mengingatnya, melihatnya.
Paman Badut itu yang membunuh Ayah dan Bundanya.
Wenny pun diculik. Diserahkan ke panti asuhan ini.


Sejak malam itu Wenny selalu melihatnya di kamar Ibu Pengasuh. Paman Badut menindih.

Kini tak ada lagi Paman Badut yang lucu. Wenny siap dengan sebuah pisau.

Malam nanti.

untuk jejakubikel

Ibu Pulang

Reza, 8 tahun, putraku. Kutinggalkan 2 tahun lalu bersama Nenek dan Tantenya. Aku pergi ke kota besar untuk mencari nafkah.

Tak ada lelaki lagi. Reza adalah lelaki kecilku. Reza sudah mengerti bahwa Ibu pergi bekerja. Terpaksa meninggalkannya.

Rindu adalah sebuah doa Ibu dan Anak. Dipanjatkan setiap hari dari tempat berjauhan.
Awal tahun ini aku mudik. Kejutan manis untuk Reza.

Terlalu pagi aku sampai di rumah yang nyaman. Reza masih tidur. Kuletakkan bawaanku di kursi tamu. Ibu dan aku di teras depan.

“Ibu pulang!” tiba-tiba terdengar teriakan gembira Reza. “Ini kacamata hitam Ibu.” Dia mengenali.

Berlari kecil keluar mencariku. Kami bertemu dan berpeluk. Waktu yang terbatas. Kami saling memiliki.

untuk jejakubikel

Tentu Saja

“Mama....” teriak Wini memanggil Mamanya dari atas sepeda kecil.

“Ya sayang....” Mama pun tak kalah keras.

“Mengapa mereka bersorak dan bertepuk tangan jika melihat kita?” Wini menghentikan sepeda kecil itu tepat di depan Mama.

“Karena kita lucu, Sayang,” sang Mama berusaha menghibur Wini yang masih kecil.

“Tapi aku malu... Lihatlah Ma, mereka selalu mengejek kita. Apalagi jika aku sedang bersepeda begini atau saat aku bermain-main dan bergulingan dengan bola merahku.”

“Dan lihatlah lagi Ma, Mama pakai rompi Kuning, aku rompi merah, tanpa celana pendek”. Wini masih menggerutu.

“Wini sayang, tentu saja kita di atas sebuah panggung, karena kita adalah keluarga Beruang,” tergelak sang Mama.

untuk jejakubikel

Saturday, February 12, 2011

Cita-Cita

“Bagus ya,” kataku membuka bincang.

“Spek juga bagus, seperti yang kamu idamkan.”

Hening menemani jeda berselang.

“Kamu suka?” tanyaku sekali lagi.

“Ingin  memulainya lagi? Bersamaku?" kutatap dirinya disampingku.


“Enggak.” Indra menjawab dan mengakhiri perbincangan kami.


Menghela napas. Tak bersuara.

Perbincangan sore yang penat selepas pulang kerja. Indra sudah tiba lebih dahulu. Seperti biasanya.

Kutemui dia sore itu bersama sebuah majalah foto yang disukainya.


Aku telah memilihnya dan bersamanya. Tujuh tahun pernikahan kami. Aku mengenalnya dan cita-citanya.  Seorang Fotografer.

Lima tahun yang lalu dia seorang fotografer. Kami berhasil mewujudkan sebuah cita-cita. Layaknya  bayi yang kami hanya bisa dambakan.


Masih mungkinkah kami melanjutkan cita-cita itu.

Dua tahun lalu kecelakaan itu merenggut kedua tangannya.


untuk jejakubikel

Saturday, February 5, 2011

Tak Ada Pemenang

23 - 24 kedudukan sementara.

“Masuk.”

24 – 24

Tempik sorak bergema di stadion tertutup. Yuyun menutup mata. Kesal.

Lawan mengambil alih bola. Tim Petir bersiap. Yuyun kembali bersama semangat.

24 – 25

Angka bertambah. Bola kembali ke tim Petir. Yuyun kali yang melakukan servis. Tiga teman  bersiap posisi bertahan. Para pendukung bersorak. Bergema bunyi tabuhan. Seakan berpesta kemenangan. Satu angka lagi Tim Petir menjadi juara lagi.

Pandangan lurus ke depan ke arah lawan yang bersiap. Yuyun menatap bola di tangan yang terentang di depan. Peluit berbunyi. Dilambungkan bola, diangkat tubuhnya, ringan. Saat hiperbola menurun diayun lengan kanan kuatnya memukul bola kuning biru itu. Keras.

Bola melambung tajam ke arah lawan, diterima manis, passing, dan spike. Tim Petir bertahan, blocking. Lolos. Masih bertahan passing, dan spike keras tajam. Lawan masih bertahan. Bola pun dikembalikan, dengan manis Tim Petir bertahan. Sudah perpindahan 4 kali, bola masih dimainkan. Penonton hanya bersuara oh dan uh mengikuti arah bola. Menanti. Kematian? Bukan. Kemenangan sekali lagi.

“MASUK!” tegas hakim keras.

Membahana. Tim Petir kembali meraih kemenangan. Anggota tim berpelukan dan toss. Bersalaman dengan tim lawan, serta wasit, hakim garis, menghormat ke arah penonton dan pendukung. Pesta selesai.

****

Enam panggilan tak terjawab dari nomer yang sama. Menghela nafas. Yuyun keluar menenteng tas besarnya menuju parkir mobil. Seorang lelaki di pintu depan melambai. Yuyun bergegas mendekat.

“Nih,” sebuah amplop tebal dari lelaki itu.

Yuyun segera menyelipkan dalam tas, dan segera pergi dari tempat itu. Uang taruhan.

Sebuah panggilan masuk. Nomer yang sama. Hanya menatap nanar.

****

Edwin terdiam. Panggilannya tak terjawab.

“Perempuan sial. Jalang,” teriaknya menendang ban mobil.

Jalanan sepi. Edwin kehabisan uang. Bangkrut. Seperti biasanya. Dia butuh perempuan itu. Bukan. Uang perempuan itu tepatnya.

Berusaha keras. Bekerja keras. Telah dilakukan. Pembuktian kepada perempuan itu. Tapi selalu gagal. Bangkrut lagi.

Masih ada satu botol di mobil. Tak ada mabuk dan pesta lagi. Dia harus mendapat uang segera. Juga perempuan itu. Dan Kinar buah hati mereka.

****

Yuyun memasuki ke ruangan itu. Ada sebuah surat pengunduran diri. Dia tak lagi dalam klub Petir. Cukup. Ada rencana lebih baik lagi daripada menjadi atlit. Meski banyak tawaran menjadi pelatih, dia menolak. Ada rencana lebih baik. Dan ada Kinar di sana.

****

Tak ada pertandingan lagi. Kini tinggal pertandingan antara Yuyun dan Edwin. Entah siapa pemenangnya. Bukan Yuyun, pula Edwin. Kinar juga tidak. Tak ada yang tahu pula kapan ini berakhir.

untuk jejakubikel

Friday, January 28, 2011

Andai Dia Tahu...

by te@embunbeningpagi

Pak Yoris. Beliau salah satu manajer di kantor kami, tempat aku bekerja. Lebih sering kami memanggil beliau “Papi”.

Asal usul panggilan “PAPI” ini karena seringnya beliau menerima telpon pribadi dari sang istri. Posesif? Kami juga tidak tahu. Itu hanya dugaan dan gosip seru kami diantara para karyawan.

Pak Yoris ini  bukan manajer divisi kami. Beliau  adalah Manajer Divisi Finance dan Accounting merangkap HRD, merangkap General Affair. Mentereng ya. Aku sendiri berada di divisi Marketing. Bersama 6 orang lainnya.

Mas Heri, kami memanggilnya. Beliau manajer Divisi Marketing. Bagi kami para karyawan, Mas Heri pribadi yang menarik, sangat perhatian kepada kami. Ya, beliau manajer favorit kami. Hidup mas Heri!!

Nah, kalau Pak Yoris ini. Eh, Papi ini.

Kita sebut saja dia PAPI saja ya, biar enak ceritanya.

Papi ini bukan idola diantara kami, dari seluruh divisi di kantor ini, bahkan divisi beliau sendiri. Bolehlah kita sebut beliau sebagai sosok POPULER. Hanya saja dalam hal ini POPULER ini bukan hal yang baik.

Seperti diawal ceritaku tadi. Memiliki istri yang POSESIF. Menimbulkan gosip dan  menjadikan POPULER di semua divisi kantor kami.

Oya, Papi ini perutnya membuncit, dengan berat badan berlebih. Sebut saja GENDUT. Terlihat dari tumpukan lemak di perutnya. Hobinya pun MAKAN.

Sayang hobi makan ini disertai dengan PELIT yang luar biasa. Biasanya diantara kami selalu bergiliran membawa jajanan sebagai bekal, dan itu pasti kami saling berbagi.

Biasanya juga Papi selalu tahu dan muncul begitu saja disaat kami mulai berbagi makanan. Tidak tanggung-tanggung. Dua tangan kanan dan kiri selalu pegang makanan.

Sudah sering kami rubah jadwal berbagi makanan. Tetap saja Papi selalu tahu. Hidungnya sangat sensitif mungkin ya.

Pernah seorang teman menegur Papi.

“Papi ini, sekali-sekali bawa makanan buat kami. Ikut berbagi juga dong”

“Iya Papi ini. Masak minta ke karyawan rendahan seperti kami”

Dasar Papi. Terlalu tebal kulit dan lemak. Tak pernah menghiraukan teguran itu. Dan setiap kami punya makanan selalu saja tahu.

Kerakusan Papi ini bukan melulu makanan. Selalu saja tanpa malu bahkan setiap siang di jam istirahat menyempatkan diri pergi ke mejaku.

“Bagi rokok!”

Duh, kena palak lagi deh.


***


Sebulan lalu Papi memiliki BB baru.

Sibuk. Bertanya kesana kemari. Dari meja ke meja.

“Bagi PIN”

“Add aku di grup”

Populer kan. Memaksa setiap orang memiliki PIN BB nya.


Hingga suatu ketika, mas Heri manajer Marketing kami berteriak kesal,

“Siapa ini yang mengundang Yoris ke group kita?”

Kami hanya saling pandang.


Sejak itu satu per satu kami keluar dari group BBM marketing. Sehingga tertinggal Papi dan seorang rekan yang sudah mengundurkan diri.

Mas Heri pun segera membuat grup BBM baru, tanpa Papi. Kembali kami bebas ber-BBM seperti sebelum Papi masuk dalam grup kami.

Kemarin ketika kami sedang berbagi makanan sambil berbincang ringan tentang pekerjaan, Papi masuk begitu saja, seolah tahu ada makanan terhidang. Seperti kebiasaannya tangan kanan dan kiri pegang makanan. Ringan menikmati sambil duduk di kursiku.

“He, aku baru sadar lho, ternyata kalian sudah keluar dari grup marketing ya.” Papi memulai pembicaraan.

“Apakah karena ada Heri dalam grup itu ya, takut pembicaraan kalian bisa mendapatkan SP ya?” terbahak- bahak Papi setelah menyampaikan hal ini.

Kami pun terbahak-bahak, saling lempar pandang satu sama lain juga dengan Mas Heri. Penuh rahasia.

Bisa ditebak. Begitu Papi keluar dari ruangan kami. Meledak suara kami tertawa, hingga sakit perut dan mengusap air mata.

Kelak kami mengingat kelucuan ini.

Ah Papi, andai kamu tahu.


untuk jejakubikel

Thursday, January 20, 2011

MITONI

Tujuh kain terhampar di tempat tidurnya.


    *      Sidomukti
    *      Sidoluhur
    *      Truntum
    *      Parangkusumo
    *      Semen Rama
    *      Udan Riris
    *      Cakar Ayam


Tujuh motif dengan makna yang berbeda. Persiapan untuk kelak upacara tujuh bulan kehamilan.


Novi membayangkan siraman, sungkem, suaminya melepaskan telor dalam kainnya. Kelapa gading muda bergambar Kamajaya dan Dewi Ratih.


Kain pertama dikenakan.


“Tidak pantas...” Para undangan pasti berteriak sama.


Kain kedua.


“Tidak pantas...”


Hingga nanti saat kain ke tujuh di kenakan.


“Pantas...” semua setuju.


Indahnya.


Novi masih berdiri di depan cermin besar.

Mematut. Tersenyum. Bahagia.


“Sayang, masih disitu?” Anto memanggil istrinya.


“Gantilah baju, kita makan ya Sayang”



Tujuh bulan itu tak pernah ada.

Mereka sudah kehilangan 4 bulan lalu.


untuk jejakubikel