Wednesday, March 16, 2011

Lampiran Surat

Sayangku, kekasihku

Siang yang terik tadi aku datang di kafe tempat kita biasa bertemu, seperti janji  semalam untuk bertemu lagi. Janji memadu kasih, mengurai simpul kerinduan di hati kita.

Aku menemukan dirimu, tapi kamu tak sendiri. Ada seorang perempuan satu lagi. Istrimu.

Sakit sayang, kamu hanya memandangku dari jauh. Matamu setajam pisau bedah yang mengiris jantungku. Mengiris kecil-kecil hingga serpihan terakhir layaknya seonggok daging cacah.

Kamu tak pernah tahu, ada sebilah pisau di dalam tasku. Ingin kuhancurkan wajah perempuan dan kamu. Kuambil jantung kalian dan kucacah.

Sakitkah sayang?

Jangan kuatir sayang. Jika kamu membaca ini, kulampirkan sebongkah daging cacah untukmu dan istrimu. Entah jantung siapa. Mungkin milikku.


Yang tersakiti

perempuanmu lain


No comments:

Post a Comment