Friday, January 28, 2011

Andai Dia Tahu...

by te@embunbeningpagi

Pak Yoris. Beliau salah satu manajer di kantor kami, tempat aku bekerja. Lebih sering kami memanggil beliau “Papi”.

Asal usul panggilan “PAPI” ini karena seringnya beliau menerima telpon pribadi dari sang istri. Posesif? Kami juga tidak tahu. Itu hanya dugaan dan gosip seru kami diantara para karyawan.

Pak Yoris ini  bukan manajer divisi kami. Beliau  adalah Manajer Divisi Finance dan Accounting merangkap HRD, merangkap General Affair. Mentereng ya. Aku sendiri berada di divisi Marketing. Bersama 6 orang lainnya.

Mas Heri, kami memanggilnya. Beliau manajer Divisi Marketing. Bagi kami para karyawan, Mas Heri pribadi yang menarik, sangat perhatian kepada kami. Ya, beliau manajer favorit kami. Hidup mas Heri!!

Nah, kalau Pak Yoris ini. Eh, Papi ini.

Kita sebut saja dia PAPI saja ya, biar enak ceritanya.

Papi ini bukan idola diantara kami, dari seluruh divisi di kantor ini, bahkan divisi beliau sendiri. Bolehlah kita sebut beliau sebagai sosok POPULER. Hanya saja dalam hal ini POPULER ini bukan hal yang baik.

Seperti diawal ceritaku tadi. Memiliki istri yang POSESIF. Menimbulkan gosip dan  menjadikan POPULER di semua divisi kantor kami.

Oya, Papi ini perutnya membuncit, dengan berat badan berlebih. Sebut saja GENDUT. Terlihat dari tumpukan lemak di perutnya. Hobinya pun MAKAN.

Sayang hobi makan ini disertai dengan PELIT yang luar biasa. Biasanya diantara kami selalu bergiliran membawa jajanan sebagai bekal, dan itu pasti kami saling berbagi.

Biasanya juga Papi selalu tahu dan muncul begitu saja disaat kami mulai berbagi makanan. Tidak tanggung-tanggung. Dua tangan kanan dan kiri selalu pegang makanan.

Sudah sering kami rubah jadwal berbagi makanan. Tetap saja Papi selalu tahu. Hidungnya sangat sensitif mungkin ya.

Pernah seorang teman menegur Papi.

“Papi ini, sekali-sekali bawa makanan buat kami. Ikut berbagi juga dong”

“Iya Papi ini. Masak minta ke karyawan rendahan seperti kami”

Dasar Papi. Terlalu tebal kulit dan lemak. Tak pernah menghiraukan teguran itu. Dan setiap kami punya makanan selalu saja tahu.

Kerakusan Papi ini bukan melulu makanan. Selalu saja tanpa malu bahkan setiap siang di jam istirahat menyempatkan diri pergi ke mejaku.

“Bagi rokok!”

Duh, kena palak lagi deh.


***


Sebulan lalu Papi memiliki BB baru.

Sibuk. Bertanya kesana kemari. Dari meja ke meja.

“Bagi PIN”

“Add aku di grup”

Populer kan. Memaksa setiap orang memiliki PIN BB nya.


Hingga suatu ketika, mas Heri manajer Marketing kami berteriak kesal,

“Siapa ini yang mengundang Yoris ke group kita?”

Kami hanya saling pandang.


Sejak itu satu per satu kami keluar dari group BBM marketing. Sehingga tertinggal Papi dan seorang rekan yang sudah mengundurkan diri.

Mas Heri pun segera membuat grup BBM baru, tanpa Papi. Kembali kami bebas ber-BBM seperti sebelum Papi masuk dalam grup kami.

Kemarin ketika kami sedang berbagi makanan sambil berbincang ringan tentang pekerjaan, Papi masuk begitu saja, seolah tahu ada makanan terhidang. Seperti kebiasaannya tangan kanan dan kiri pegang makanan. Ringan menikmati sambil duduk di kursiku.

“He, aku baru sadar lho, ternyata kalian sudah keluar dari grup marketing ya.” Papi memulai pembicaraan.

“Apakah karena ada Heri dalam grup itu ya, takut pembicaraan kalian bisa mendapatkan SP ya?” terbahak- bahak Papi setelah menyampaikan hal ini.

Kami pun terbahak-bahak, saling lempar pandang satu sama lain juga dengan Mas Heri. Penuh rahasia.

Bisa ditebak. Begitu Papi keluar dari ruangan kami. Meledak suara kami tertawa, hingga sakit perut dan mengusap air mata.

Kelak kami mengingat kelucuan ini.

Ah Papi, andai kamu tahu.


untuk jejakubikel

No comments:

Post a Comment