Saturday, February 12, 2011

Cita-Cita

“Bagus ya,” kataku membuka bincang.

“Spek juga bagus, seperti yang kamu idamkan.”

Hening menemani jeda berselang.

“Kamu suka?” tanyaku sekali lagi.

“Ingin  memulainya lagi? Bersamaku?" kutatap dirinya disampingku.


“Enggak.” Indra menjawab dan mengakhiri perbincangan kami.


Menghela napas. Tak bersuara.

Perbincangan sore yang penat selepas pulang kerja. Indra sudah tiba lebih dahulu. Seperti biasanya.

Kutemui dia sore itu bersama sebuah majalah foto yang disukainya.


Aku telah memilihnya dan bersamanya. Tujuh tahun pernikahan kami. Aku mengenalnya dan cita-citanya.  Seorang Fotografer.

Lima tahun yang lalu dia seorang fotografer. Kami berhasil mewujudkan sebuah cita-cita. Layaknya  bayi yang kami hanya bisa dambakan.


Masih mungkinkah kami melanjutkan cita-cita itu.

Dua tahun lalu kecelakaan itu merenggut kedua tangannya.


untuk jejakubikel

No comments:

Post a Comment