by Te@embunbeningpagi
Rosa menanti kelahiran bayinya. Kurang seminggu menurut dokter. Danny sang suami sangat menantikan kelahiran ini. Seorang bayi dari pernikahan bersama Rosa yang telah ditunggu selama sembilan tahun.
Sembilan tahun penantian dengan segala usaha dan doa. Kehadiran sang bayi sangat ditunggu.
Seorang laki-laki atau perempuan saat ini biarlah menjadi misteri bagi mereka, meski hasil USG sudah menyatakan jenis kelamin bayi tapi mereka saling berjanji apa pun itu semua adalah anugerah luar biasa. Biarlah nanti terjawab dan menjadi hadiah terindah bagi perkawinan mereka.
“Danny, aku ingin anakku jika perempuan kuberi nama dia Arum. Pasti cantik ya...,” dengan manja Rosa memeluk lengan suaminya.
“Hmmm... terserah kamu, dia anak kita. Kalau laki-laki?”
“Entahlah Dan, aku belum menemukan sebuah nama. Aku hanya merasa anakku ini perempuan. Mungkin jika laki-laki kuberikan nama Rangga.”
Danny tercekat mendengar nama itu. Seperti ada sesuatu yang tak setuju. Danny hanya bisa mengangguk menyetujui. Rosa tersenyum melihat anggukan Danny suaminya, dan kembali mengelus perutnya, seolah berbicara dengan anaknya.
****
Tiga hari menjelang kelahiran. Hari itu Rosa sedang duduk saja, perutnya mulas. Danny suaminya telah berangkat ke kantor. Mulas datang dan pergi. Gelisah mungkin sudah saatnya.
Rosa sedang merencanakan sesuatu dan harus diselesaikan hari ini. Dibuka laptopnya. Power dinyalakan. Internet telah tersambung. Hendak ditulisnya sebuah email.
Berpikir dan menimbang. Bercampur resah dan gelisah. Jari-jarinya di atas tuts keyboard. Sebuah kata “Hi” diketiknya. Tiba-tiba Rosa mengaduh, mulasnya datang lagi dan lebih sering. Segera dimatikan laptop, dan diraih telpon genggam. Memanggil Danny.
****
Pagi itu Danny mencium Rosa istrinya sebelum berangkat kerja. Sebuah pesan berhati-hati dan segera menelepon jika terjadi sesuatu.
Menggantung sebuah resah. Dan cemburu.
Ketika nama Rangga disebut oleh Rosa sebagai calon nama bayi mereka.
Danny tahu siapa Rangga. Nama seorang laki-laki yang sudah tidak ingin diingatnya lagi.
Sebuah masa lalu.
Siang yang tak sibuk, Danny menunda telepon ke Rosa, berharap semua baik saja. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk. Rosa.
****
Bayi perempuan. Mengusap peluh dan air mata tak henti diciuminya Rosa yang nampak tersenyum dan kelelahan. Saling memeluk dan menangis. Inilah hadiah terindah di pernikahan mereka. Arum.
Danny menggendong Arum, sederet doa diucapkan di telinga Arum yang kemerahan menangis kencang. Bayi perempuan yang cantik, sehat, dan kuat.
****
Esok hari air susu Rosa sudah keluar. Hari ini dia akan mencoba menyusui Arum untuk pertama kalinya. Kerinduan seorang ibu.
Perawat sudah datang membawa Arum. Nama yang cantik, secantik bayi perempuan. Digendongnya Arum dengan penuh kasih. Disusuin. Dipandangi wajah Arum.
Teringat sesuatu. Rosa bergegas mengambil smartphonenya. Masih sambil menyusui, Rosa berpikir untuk menulis sebuah pesan.
~Rangga yang baik.
Pukul 13.11 tanggal 01 November 2010 telah lahir Arum. Anak perempuan, anakku, anak kita. Sehat dan berambut ikal.
Benih cinta yang kau tinggalkan untukku sembilan bulan lalu. Kini kunamai dia sama seperti keinginan kita saat itu.
Dia selalu bersamaku. Kamu hanya perlu tahu ini.
Dan dia berambut ikal dan bermata coklat. Mirip kamu.
Seorang Ibu yang berbahagia
Rosa
Selesai. Belum terkirim.
Melamun. Mempertimbangkan segalanya. Semua sudah terjadi.
****
Save as draft
Hanya ini yang Rosa lakukan.
Kembali dipandangi dengan kasih Arum yang masih menyusu.
“Arum, apa pun yang terjadi, selamanya kamu milik Ibu.”
untuk jejakubikel
No comments:
Post a Comment