Sunday, April 3, 2011

Pulang


Bapak Ibu, aku pulang....

Masih 5-6 jam lagi perjalanan ini kembali dimulai. Wiwik menghela nafas panjang. Baru saja menempati bangku kereta api pagi ini yang akan membawanya. Pulang.

Hampir  tujuh tahun sejak kepergiannya untuk membebaskan gelisah diri yang terus mendesak. Tanpa pamit Wiwik pergi meninggalkan orangtuanya dan rumah yang telah melindunginya sekian lama.

Pergi ke kota yang akan ditinggalkannya ini,  tanpa bekal uang yang cukup, hanya sebuah alamat dan nomer telepon seseorang yang telah berjanji untuk membebaskannya dari gelisah itu. Indra.

Seseorang itu bernama Indra, sosok yang dikenalnya lewat sebuah iklan lowongan kerja di koran. Mencoba melamar, dan dijawab oleh Indra, yang bekerja sebagai HRD di perusahaan itu. Wiwik akan pergi menemuinya meski belum pernah melihatnya.

Indra sungguh-sungguh memenuhi janji, hingga satu setengah tahun saling mengenal Wiwik pun rela satu tempat tinggal bersamanya. Meski tanpa ikatan pernikahan. Mereka saling membutuhkan dan itu cukup. Hidup memang keras di kota ini, Indra sebenarnya telah memiliki keluarga yang bahagia, tapi Indra masih menginginkan Wiwik. 

Wiwik tak pernah menuntut Indra. Dia hanya butuh pembebasan gelisah dirinya, sebuah pembuktian cita-cita kepada orangtuanya.

Bapak Ibu, aku rindu...

Kereta telah berjalan 2 jam lalu. Untung saja bangku sebelah tak berpenumpang. Gerbong ini sepi, tak penuh, bukan musim libur. Menghela nafas lagi, melanjutkan bayangan kelu kerinduan.

Bagi seorang yang tak pernah pulang 7 tahun itu waktu yang sangat lama untuk melewatkan kenangan, bahkan sebuah restu tiap tahun dari orangtua. Wiwik memang tak pernah pulang. Ada banyak alasan yang menghentikan semua keinginan pulangnya. Jika itu alasan uang, mungkin sedikit benar, bagi Wiwik takkan pernah cukup, meski bagi beberapa orang uang yang dimiliki Wiwik saat ini sangat cukup untuk bekal pulang.

Alasan pembuktian sebuah cita-cita mungkin tidak juga, toh Wiwik kini menjabat di bagian penting dari perusahaan itu.

Mungkin Indra sebagai alasan. Hubungannya dengan Indra adalah sebuah kegelisahan baru yang ingin ditutupinya. Setelah Indra meninggal setahun lalu, Wiwik baru menyadari bahwa sesungguhnya dia mencintai Indra.

Masih jelas tergambar saat menerima berita kepergian Indra. Ditutupnya pintu kamar, gelap tanpa lampu, seharian menangis tanpa suara, hingga sakit memeluk erat di hati. Dan keesokannya berkerudung hitam, mengenakan kacamata hitam, Wiwik ke tempat pemakaman Indra. Tanpa terlihat, dia melihat istri Indra dan 2 anak mereka. Wiwik menangis diam bersama mereka dari kejauhan. Lirih mengucapkan selamat jalan kepada Indra.

Kembali menghela nafas.

Dua jam lagi akan tiba.  Wiwik kelelahan dalam kesedihan dan memutuskan untuk tidur. Perjalanan masih panjang.

Ibu, aku memanggilmu dalam rinduku...

Menggeliat. Wiwik bangun dari kelelahan. Sebentar lagi kereta api akan tiba di stasiun Tugu. Wiwik pun bersiap, mengemasi bawaan. Menurut Harno sahabatnya dari desa, perjalanan Wiwik diteruskan dengan bis TransJogja menuju terminal Jombor.

Kini sudah ada bis TransJogja. Wiwik telah melewatkan banyak hal. Bahkan bencana gempa dan letusan gunung pun hanya dibacanya dari koran nasional. Tanpa ada keinginan pulang.

Kereta api telah tiba. Wiwik mencoba mencari halte yang dimaksud Harno, dia mendapatkan dan beruntung jalur bis yang dimaksud tepat waktu. Nyaman.

Ibu telah meninggal, 3 tahun setelah Wiwik meninggalkan desa itu. Harno yang memberi kabar, dan juga memohonnya untuk pulang. “Kasihan Bapak,” katanya kepada Wiwik. Bersikeras. Entah mengapa dia selalu saja menahan keinginan untuk pulang.

“Ibu, aku juga rindu tapi aku tak sanggup pulang dan bersujud mencium kaki ibu. Aku terlalu kotor dan tak layak sebagai anak Ibu,” lirih dalam hati.

Aku pulang....

Bis TransJogja telah sampai di terminal Jombor. Wiwik pun telah keluar dari pintu terminal itu. Hari semakin sore.

“Den Wiwik?” sebuah suara dari andong yang tepat berhenti di depannya.

“Pakde Tarjo?” Wiwik mengenali laki-laki tua didalam andong itu. Dia bapaknya Harno, sahabatnya.

“Naik Den, saya antar. Harno memberitahu saya bahwa den Wiwik akan pulang,” Pakde Tarjo berucap dalam bahasa jawa yang halus. Wiwik pun segera naik.

“Den, saya ikut berbela sungkawa ya, Bapak den Wiwik meski sudah hampir 40 hari lalu.” Wiwik hanya terkesiap. Dia sudah tahu Bapak telah meninggal, tapi ucapan bela sungkawa dari Pakde Tarjo seolah membuka duka Wiwik yang dikubur.

“Terima kasih Pakde. Maaf sudah merepotkan Pakde dan Bude Tarjo, juga Harno. Oya, Pakde Bude dapat sungkem dari Harno,” Wiwik berkata juga dalam bahasa Jawa halus.

Perjalanan masih 30 menit lagi. Sebentar lagi dia pulang. Andong Pakde Tarjo yang mengantarkan ke rumahnya.

Dusun Cimpling. Tinggal sedikit lagi jarak yang membawanya. Rumahnya sudah terlihat. Kecil di tengah hamparan sawah yang menguning. Rumahnya masih sendirian, tetangga terdekat hanya Pakde Tarjo, itu pun berjarak hampir 150 m. Puncak gunung Merapi masih terlihat. Cantik.

“Hoooop...”Pak Tarjo menghentikan andongnya. Wiwik segera turun dan segera mengucap teri ma kasih.

“Den Wiwik, tidak apa-apa sendirian? Nanti malam biar simboknya Harno yang menemani, agar besok dapat membantu persiapan 40 hari Bapak ya.”

“Iya Pakde, terima kasih.”

Pakde Tarjo segera berpamitan dan berbalik kembali ke rumah.

Wiwik memandangi rumah kecilnya. Berkelebatan semua bayang kenangan masa kecil, masa keras kepalanya. Memasuki rumah seperti tersedot dalam arus lorong waktu. Ditelusurinya setiap ruang, membelai tiap dinding. Disentuhnya pigura foto Bapak dan Ibunya. Air mata yang tertahan, menggenang mengalir dalam kerinduan.  

“Andai saja aku pulang sebelum semuanya pergi, pasti aku bersujud memohon restu. Andai saat itu...”

Suara Ilahi memanggil dari kejauhan. Wiwik bergegas mengambil air Wudhu. Di tengah ruangan rumah dibentang alas. Sholat yang pertama ketika dia kembali ke rumah ini. Ada doa kerinduan bagi Bapak Ibu, memohon ampun. Juga bagi Indra. Cinta yang tak dimiliki.

“Bapak Ibu, Wiwik sudah pulang.”

untuk jejakubikel

Saturday, April 2, 2011

Dawai yang Membisu


Jika para dawai bergesek menyanyikan kemerduan dari hati, apakah yang terjadi?

“Hai Ella,” sebuah suara menyapa.

Terkejut. “Iya… Indra?”

Indra hanya tersenyum dan segera mengambil tempat disamping Ella. Sedikit beringsut. Bukan risih, tapi ada sesuatu yang yang harus dijaga.

Sambil meletakkan kotak biola Indra mencoba membuka percakapan. “Ikut serta latihan hari ini, Mas Adi memanggilmu juga kan?” sambil melirik pada sebuah kotak biola juga di samping Ella.

Gugup. Ella hanya mengangguk.

****

“Ella,” Indra berteriak memanggil terburu-buru membereskan alat musiknya, setelah latihan hari itu selesai.

Ella sejenak berhenti. Kembali bergegas pergi. Dia harus pergi dari tempat ini, sebelum Frid di rumah memarahinya karena tak tepat waktu.

Indra hanya dapat memandang dari kejauhan. Panggilan kerasnya seperti tak menghentikan langka Ella.

Dawai terluka yang bernyanyi dalam gelisah kesendirian. Perih.

Ella menghela nafas panjang. Untunglah  segera mendapat angkot pulang latihan hari ini tidak terlambat.

Semoga Frid tidak marah lagi. Doanya dalam hati, sambil meraba lengan kanan yang membiru lebam tertutup kemeja. Sakit yang tersisa semalam.  Semoga tak ada yang melihatnya.

Frid berubah sejak PHK dari tempat kerjanya.Mudah tersinggung, dan lebih memilih botol-botolnya. Tak peduli lagi dengan Ella, istrinya. Semalam Frid mabuk lagi, kembali Ella menjadi sasaran pelampiasan, dihempas, dipukul. Ciuman pun menjadi nafsu jalang, terburu-buru, kasar, dan menyakiti. Dan ada perempuan lain. Lebih binal.

Sudut dapur yang gelap, sembab mengalir tanpa suara. Bukan karena perempuan binal itu. Semoga luka-luka ini tak mengganggu latihan, hari pertunjukan semakin dekat, Mas Adi pasti lebih keras menuntut sempurna. Harus bisa, karena ini pekerjaannya untuk mendapatkan uang yang tak mungkin dari Frid lagi.

Dawai pun bernyanyi dalam kerinduan memanggil kekasihnya yang membisu.

“Ah, perempuan itu…Ella…,” Indra mendesah kecewa, mungkin saja panggilannya kurang keras.

Indra mengenalnya di studio Mas Adi. Seorang senior, tapi 2 tahun yang lalu tak pernah ikut latihan, baru 3 bulan lalu bergabung kembali. Indra pernah memergokinya bermain sendiri, indah, gesekan yang lembut, mengalun tapi seperti terluka. Bahkan jika saat itu ada seorang balerina, pasti akan terhipnotis menari dengan alun dawai gesek yang indah itu. Luar biasa, gesekan seorang maestro.

Dua tahun menghilang dan kini bergabung kembali. Indra tahu Ella telah menikah dengan Frid, tapi bukan pernikahan yang seindah gesekan dawainya. Perempuan yang cantik dengan mata dan dawainya yang seperti menyimpan luka.

Selesai latihan tadi, Indra berharap dapat mengajaknya bercakap-cakap, sekedar berkabar yang menghilang. Serta sebuah tanya  tentang lebam di lengan kanan Ella saat mengangkat busur biola tadi. Bisa saja mungkin karena terjatuh. Semoga bukan.. aaah Indra pun kembali membereskan alatnya. Menyimpan kembali pertanyaan itu.

Busur itu takkan melukai dawai, dia hanya menggesek agar dapat memberi nada yang indah.

Sore itu Indra sengaja menunggu Ella di depan gedung tempat mereka berlatih. Indra melihatnya turun dari sebuah angkot. Wajah Ella pucat, nampak tak sehat.

“Hai, sendiri? Tidak diantar Frid?”

Ella menggeleng sambil meneruskan langkah. Indra pun bergegas berjalan disampingnya. Tak sulit, karena Ella tak berjalan cepat, malahan terlihat sedikit limbung. Benar saja, ketika menaiki tangga depan, Ella hampir terjatuh. Sigap Indra menolong, lengan kanan Ella ditangkapnya erat.

“Aduh,” Ella meringis menahan sakit, pegangan Indra terlalu kuat dan membuka lebam yang tertutup rapat oleh lengan baju.

“Ella…. Luka ini… Kamu terjatuh?” terbata Indra bertanya.

“Indra, tolong lepaskan…. sakit,” kemudian Ella segera merapikan lengan bajunya, menutup rapat kembali luka itu. “Jangan bilang ya, aku hanya terbentur kemarin di pintu angkot.”

Indra menatap Ella. Diangkatnya wajah itu. “Frid yang melukaimu?”

Ella tersenyum, “Aku mencintainya.”

Mereka pun berjalan memasuki gedung, Indra mencoba melindungi Ella, tangannya menyentuh punggung Ella. Tapi ditolak dengan tersenyum, “ Tolong, jangan.”

Indra tahu, pasti ada luka lagi disana.

Bolehkah dawai itu menolak memberikan nada yang indah, jika busur itu semakin menyakitinya?

“Ella!!” Indra menghentikan mobilnya ketika dilihatnya Ella sedang menunggu angkot.

“Mau kemana? Ayo kuantar.”

Terlihat ragu. Tapi akhirnya Ella pun bersedia.

“Dari mana, mau kemana?” Indra membuka tanya. Ella hanya diam tak menjawab. “Mmm… kulihat kamu membawa kotak biolamu, hari ini tak ada latihan, jadi ada apa?”

Tetap diam tanpa jawab. Sebuah titik basah mengalir di pipi. Indra melihatnya. Dan segera mengulurkan selembar tissue.

“Oh Ella, ada apa denganmu? Baiklah, kuharap kamu tidak keberatan, ini yang terdekat adalah ke apartemenku, kita ke sana.” Indra pun memacu secepat mungkin.

Memasuki  apartemen Indra. Ella menangis tanpa suara. Mereka duduk di sofa itu. Indra mencoba memeluk Ella.

Sedikit menjauh berusaha menolak. Mereka saling berpandang. Indra memegang wajah Ella, menghapus air mata.  Ella tak menolak.

Ella perlahan melepas  pashmina yang menutup tubuhnya. Kemudian berbalik memunggungi Indra, diangkatnya geraian rambut panjangnya. “Indra, bukalah gaunku.”

“Tapi Ella….”

“Bukalah kau akan tahu,” suara Ella memohon dengan punggung menghadap Indra.

Indra pun menurut. Perlahan. Restliting itu dibuka. Ella hanya memejamkan mata, dan air mata yang semakin deras.

“Oh Ella… Fridkah yang melakukan ini?” terbelalak Indra, melihat semua parutan luka dipunggung Ella. Bekas luka, luka baru, luka akan sembuh, bahkan ada yang bernanah. Dibaliknya segera tubuh Ella, direngkuhnya dengan hati-hati tubuh itu ke dadanya, dan diciuminya rambut dan wajah Ella.

“Aku mencintainya Indra, aku sangat cinta. Apapun yang dia lakukan terhadapku aku terima, karena aku mencintainya,” dalam gugu Ella berusaha menjelaskan.

Indra menahan keinginan merengkuhnya lebih dalam . Ingin melindungi perempuan ini. Perempuan yang 2 tahun lalu dicintainya diam-diam.

Dalam diam jeda panjang mereka hanya berbincang dalam hati.

“Ella, di mana Frid sekarang?” tanya Indra masih memeluk Ella.

“Aku… aku mencintainya Indra, tapi aku harus melakukannya, aku harus pergi.”

Ella melepaskan diri. Digapainya kotak biolanya itu dan dibukanya. Sebuah biola Ella yang biasa dimainkan, tapi kini biola  itu retak, dan masih ada bercak darah segar serta beberapa lembar rambut yang tersangkut di retakan itu.

“Ada seorang bayi disini, dan itu cinta kami yang harus diselamatkan.”

Dawai pun tak sakit, tapi tak ada nada indah lagi. Membisu.


untuk jejakubikel

Saturday, March 19, 2011

Pesanan Emak

Kaki kecilnya setengah berlari, tersaruk di jalanan berdebu,  terik menyengat. Sesekali menoleh ke belakang. Aman.

Nafas memburu, berpeluh. Tangannya membekap bungkusan bubuk putih pesanan Emak  dibeli dari Babah Ang. Teringat pesan untuk berhati-hati dengan orang tak dikenal.

Merasa diikuti. Ketakutan. Untung rumah semakin dekat. Emak pasti menunggu.

****

Lelaki itu berusaha mengikuti langkah gadis kecil itu. “Sial, kemana dia tadi?” Lelaki itu mengatur nafas. Dari kejauhan kembali melihat bayang gadis kecil itu. “Hah, sama saja  akhirnya ke rumah si pembuat tahu itu, tak perlu mengejarnya.”

****

Mereka terkejut seorang laki-laki sudah didepan pintu rumah.

“Ini, kembalian yang tertinggal,” terengah-engah sambil menyerahkan uang. “Saya pesuruh Babah Ang.”

untuk jejakubikel

Thursday, March 17, 2011

Tetap Begini

"Indra, jika kelak aku meninggalkanmu lebih dahulu, apalagi dengan sakitku ini yang tak mungkin dapat disembuhkan, kuharap engkau mau memenuhi permintaanku ini. Dengar baik-baik ya, catatlah jika memang diperlukan."

Indra hanya mengangguk mengiyakan. Dia tahu temannya sakit keras, dan mungkin sebentar lagi dirinya pun akan sakit yang sama.

"Aku ingin kamu yang memandikan aku. Tak perlu buru-buru memberitahu keluargaku tentang kematianku, bahkan mengapa aku mati. Jika saatnya mereka tahu aku mati, jangan biarkan mereka melakukan otopsi atas diriku. Itulah aku menginginkan kamu yang memandikan aku, mendandaniku secantik seperti yang kau kagumi sebelum aku sakit."

Indra berusaha menahan air matanya.

"Satu lagi, di batu nisanku tetap tertatah Janiza Yuliwati, bukan Jaka Yuliawan."

untuk jejakubikel

Wednesday, March 16, 2011

Lampiran Surat

Sayangku, kekasihku

Siang yang terik tadi aku datang di kafe tempat kita biasa bertemu, seperti janji  semalam untuk bertemu lagi. Janji memadu kasih, mengurai simpul kerinduan di hati kita.

Aku menemukan dirimu, tapi kamu tak sendiri. Ada seorang perempuan satu lagi. Istrimu.

Sakit sayang, kamu hanya memandangku dari jauh. Matamu setajam pisau bedah yang mengiris jantungku. Mengiris kecil-kecil hingga serpihan terakhir layaknya seonggok daging cacah.

Kamu tak pernah tahu, ada sebilah pisau di dalam tasku. Ingin kuhancurkan wajah perempuan dan kamu. Kuambil jantung kalian dan kucacah.

Sakitkah sayang?

Jangan kuatir sayang. Jika kamu membaca ini, kulampirkan sebongkah daging cacah untukmu dan istrimu. Entah jantung siapa. Mungkin milikku.


Yang tersakiti

perempuanmu lain


Thursday, March 10, 2011

(sebuah) Kegagalan atau Keberhasilan

Hanya satu yang kuinginkan. Aku tak ingin mengenalmu lagi. Dan dia. Selamanya.


Sakit.
Ruri memutuskan untuk meninggalkan dari rumah harapan mereka, bunga-bunga koleksinya, kehangatan keluarga besar, dan dari Yoyo suaminya. Serta semua kenyamanan.

Pergi.
Satu keputusannya. Setelah Yoyo lebih memilih perempuan itu dan janin. Cukup. Ruri memilih pergi setelah semua pertengkaran, dan semua kesalahan kegagalan pernikahan dibebankan kepadanya.

Jika saja...
Ruri lebih cantik, Ruri lebih menarik, Ruri lebih bisa berdiskusi, Ruri lebih mengerti, Ruri lebih... lebih... Ruri lebih segalanya dari perempuan itu. Bahkan mempunyai anak. Ruri kembali menyalahkan diri sendiri.

****

Yoyo menghentakkan rambutnya, buku jarinya mengeras. Bodoh, bodoh berulang kali diucapkan. Pertengkaran sekaligus perpisahan dengan Ruri, perempuan yang dinikahinya selama 5 tahun. Tanpa keturunan.

Kini ada Wenny bersama bayi. Milik mereka. Bukan dari sebuah pernikahan dengan Ruri. Wenny yang diinginkannya. Dia mencintainya. Bahkan berharap selamanya.

Dua perempuan. Juga janin dari satu perempuan.

****
Wenny terpekur.
Test Pack telah menjadi bukti. Yoyo. Mereka saling cinta dan menginginkan. Tapi ada Ruri, perempuan lain. Istri Yoyo.

Aku juga perempuan.
Dan aku juga mencintai Yoyo. Berulang kali dilafalkan dari sebesar rasa bersalah di sebuah pernikahan. Dialah duri itu. Kini ada kehidupan di rahimnya, buah cintanya bersama Yoyo, suami Ruri.

****

Harapan.
Siapakah pemenangnya. Pernikahan atau seorang bayi?

untuk jejakubikel

Wednesday, March 9, 2011

Sebuah Rahasia

by Te@embunbeningpagi


Rosa menanti kelahiran bayinya. Kurang seminggu menurut dokter. Danny sang suami sangat menantikan kelahiran ini. Seorang bayi dari pernikahan bersama Rosa yang telah ditunggu selama sembilan tahun.

Sembilan tahun penantian dengan segala usaha dan doa. Kehadiran sang bayi sangat ditunggu.

Seorang laki-laki atau perempuan saat ini biarlah menjadi misteri bagi mereka, meski hasil USG sudah menyatakan jenis kelamin bayi tapi mereka saling berjanji apa pun itu semua adalah anugerah luar biasa. Biarlah nanti terjawab dan menjadi hadiah terindah bagi perkawinan mereka.

“Danny, aku ingin anakku jika perempuan kuberi nama dia Arum. Pasti cantik ya...,” dengan manja Rosa memeluk lengan suaminya.

“Hmmm... terserah kamu, dia anak kita. Kalau laki-laki?”

“Entahlah Dan, aku belum menemukan sebuah nama. Aku hanya merasa anakku ini perempuan. Mungkin jika laki-laki kuberikan nama Rangga.”

Danny tercekat mendengar nama itu. Seperti ada sesuatu yang tak setuju. Danny hanya bisa mengangguk menyetujui. Rosa tersenyum melihat anggukan Danny suaminya, dan kembali mengelus perutnya, seolah berbicara dengan anaknya.

 ****

Tiga hari menjelang kelahiran. Hari itu Rosa sedang duduk saja, perutnya mulas. Danny suaminya telah berangkat ke kantor. Mulas datang dan pergi. Gelisah mungkin sudah  saatnya.

Rosa sedang merencanakan sesuatu dan harus diselesaikan hari ini. Dibuka laptopnya. Power dinyalakan. Internet telah tersambung. Hendak ditulisnya sebuah email.

Berpikir dan menimbang. Bercampur resah dan gelisah. Jari-jarinya di atas tuts keyboard.  Sebuah kata “Hi” diketiknya. Tiba-tiba Rosa mengaduh, mulasnya datang lagi dan lebih sering. Segera dimatikan laptop, dan diraih telpon genggam. Memanggil Danny.

****

Pagi itu Danny mencium Rosa istrinya sebelum berangkat kerja. Sebuah pesan berhati-hati dan segera menelepon jika terjadi sesuatu.

Menggantung sebuah resah. Dan cemburu.

Ketika nama Rangga disebut oleh Rosa sebagai calon nama bayi mereka.

Danny tahu siapa Rangga. Nama seorang laki-laki yang sudah tidak ingin diingatnya lagi.

Sebuah masa lalu.

Siang yang tak sibuk, Danny menunda telepon ke Rosa, berharap semua baik saja. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk. Rosa.

****

Bayi perempuan. Mengusap peluh dan air mata tak henti diciuminya Rosa yang nampak tersenyum dan kelelahan. Saling memeluk dan menangis. Inilah hadiah terindah di pernikahan mereka. Arum.

Danny menggendong Arum, sederet doa diucapkan di telinga Arum yang kemerahan menangis kencang. Bayi perempuan yang cantik, sehat, dan kuat.

****

Esok hari air susu Rosa sudah keluar. Hari ini dia akan mencoba menyusui Arum untuk pertama kalinya. Kerinduan seorang ibu.

Perawat sudah datang membawa Arum. Nama yang cantik, secantik bayi perempuan. Digendongnya Arum dengan penuh kasih. Disusuin. Dipandangi wajah Arum.

Teringat sesuatu. Rosa bergegas mengambil  smartphonenya. Masih sambil menyusui, Rosa berpikir untuk menulis sebuah pesan.

~Rangga yang baik.

Pukul 13.11 tanggal 01 November 2010 telah lahir Arum. Anak perempuan, anakku, anak kita. Sehat dan berambut ikal.

Benih cinta yang kau tinggalkan untukku sembilan bulan lalu. Kini kunamai dia sama seperti keinginan kita saat itu.

Dia selalu bersamaku. Kamu hanya perlu tahu ini.

Dan dia berambut ikal dan bermata coklat. Mirip kamu.

Seorang Ibu yang berbahagia

Rosa


Selesai. Belum terkirim.

Melamun. Mempertimbangkan segalanya. Semua sudah terjadi.

****

Save as draft
Hanya ini yang Rosa lakukan.

Kembali dipandangi dengan kasih Arum yang masih menyusu.

“Arum, apa pun yang terjadi, selamanya kamu milik Ibu.”

untuk jejakubikel

Sunday, February 27, 2011

Saling Memiliki

by Te@embunbeningpagi

Malam yang biasa mereka tidur berpelukan. Dewi memeluknya lebih dulu hingga mereka tertidur. Pagi menjelang bangun, Budi yang memeluk Dewi. Mesra.

Hanya mereka berdua. Tanpa anak dan cucu. Tak pernah ada diantara mereka. Bukan mereka tak menginginkan atau mereka mandul tapi beginilah perkawinan mereka. Apa adanya. Mereka saling menerima dan tanpa syarat.

Tiga puluh sembilan tahun menjalani pernikahan. Sempurna? Mereka tak pernah tahu yang disebut pernikahan sempurna. Beginilah pernikahan mereka selama ini. Saling memiliki. Budi sudah pensiun sebagai seorang dosen dan peneliti. Dewi, istrinya selisih 4 tahun lebih muda, setelah pensiun dini sebagai karyawan swasta kini mengelola sebuah usaha laundry.

Apa adanya. Meski ada juga gejolak dan gelombang sepanjang pernikahan mereka tetapi cinta mereka terlalu kuat dan melalui selama ini. Pagi ini kurang dari sebulan mereka akan merayakan empat puluh tahun pernikahan, tak ada rencana pesta. Cukup mereka saja.

Ah cinta, begitu perkasakah engkau ada diantara mereka.

Siang yang sibuk. Hari ini adalah saat pemeriksaan jantung Budi ke dokter terpercaya di rumah sakit umum. Budi sendiri saja berangkat dengan angkutan umum. Dewi sedang sibuk dengan karyawan laundrynya. Budi pun telah pamit. Sejak diketahui mengalami kelainan jantung, Budi tak boleh lagi menyetir mobil.

Sesampai di rumah sakit, panas dan terik, dan antrian mulai memanjang. Budi pun sabar ikut mengantri. Tak sendiri karena di sini ada banyak kawan pensiunan dari berbagai instansi. Pemeriksaan kesehatan rutin. Hampir 2 jam lebih Budi menunggu. Lupa membawa botol minum yang disediakan Dewi. Untunglah namanya segera dipanggil.

Dokter Ario. Bukan Dokter Anas, dokter ahli jantung yang biasa memeriksa Budi. Rupanya Dokter Anas sedang bepergian, dan sementara digantikan dokter Ario. Masih muda. Lebih cocok disebut anak bagi Budi.

“Selamat siang Bapak Budi,” senyum ramah seorang dokter muda.

“Selamat siang, Dokter. Pengganti sementara Dokter Anas ya?” tanya Budi.

“Iya, beliau sedang bepergian. Saya baca dulu catatan yang ditinggalkan Dokter Anas ya, Pak Budi.”

“Silakan dokter. Jantung saya memang sakit dan berbeda dengan yang lain. Mohon jangan kaget,” masih sempat Budi melemparkan canda.

Dua menit kemudian.

“Mari Bapak, saya periksa dulu.”

Stetoskop pun ditempelkan. Dingin.

“Hmmm... hmmm...hmmm...,” ketiga kalinya sebuah hmmm digumamkan Dokter Ario.

Budi hanya memandang mencoba membaca raut wajah dokter itu.

“Bapak Budi, sebaiknya berbaring dulu ya, jangan bergerak, sabar ya Pak.”

Budi hanya mengiyakan. Dokter Ario bergegas memanggil seorang perawat. Berbincang sesuatu. Sesekali memandang Budi yang berbaring. Perawat keluar ruangan. Sejeda. Masuk kembali.

“Pak Budi, mohon sabar ya Pak, kami carikan kamar. Bapak, anggota Askes pemerintah ya?” tanya perawat itu.

Kembali Budi mengiyakan. Suasana pun tiba-tiba menjadi cepat, dan seperti ada suatu kepanikan saja. Budi masih berbaring seperti yang dikatakan Dokter Ario. Seorang perawat memasangkan jarum infus.

Heran. Budi hanya bisa bertanya dalam hati saja. Ada apa dengan dirinya. Budi menurut saja kepada dokter dan perawat itu. Hanya satu yang dikuatirkannya. Dewi.

****

Hari ini Dewi sangat sibuk sekali. Rejeki mengalir. Usaha laundry sedang laris manis. Tak hentinya order masuk. Pembantunya hanya seorang dan hampir kewalahan. Dewi ingat hari ini adalah jadwal Budi kontrol ke dokter. Tadi pagi dia meminta maaf tak dapat menemani seperti biasanya. Budi pun memaafkan, memahami kesibukan Dewi.

Meski sibuk, tapi Dewi gelisah memikirkan Budi. Dia tahu Budi mandiri, tapi hati resah sebagai istri tetap menghampiri.

Sudah siang terik matahari meninggi Budi pun belum pulang, belum ada kabar. Mungkin antrian sangat panjang. Hanya membatin saja. Dewi pun menunda kembali untuk menelepon Budi. Sebentar lagi.

Kriiiiiiiiing...

Kriiiiiiiiing....

“Ah, pasti Budi.” Dewi bergegas.

“Selamat siang, bisa berbicara dengan Ibu Dewi, kami dari Rumah Sakit Umum.”

Dewi terhenyak. Berusaha tenang dan sabar.

“Saya sendiri?”

“Oh, begini Ibu, kami mengabarkan bahwa Bapak Budi berada di rumah sakit kami, sekarang Beliau berada di kamar Dahlia 301. Sesuai petunjuk Dokter Ario bahwa Bapak Budi dimohon untuk beristirahat.”

“Baiklah, saya segera ke rumah sakit. Terima kasih.” Dewi pun menutup pembicaraan.

Tanpa suara Dewi hanya mengusap air mata.

“Oh Budi, bertahanlah demi aku,” berkata dalam desahnya.

Dewi pun segera memesan sebuah taxi dan segera mempersiapkan segala yang diperlukan Budi selama di rumah sakit. Entah untuk berapa lama. Dewi hanya pasrah.

Sepanjang perjalanan, sepanjang doa diucapkan untuk Budi, untuk mereka.

“Budi bertahanlah,” desah Dewi.

****

“Aku ini baik-baik saja. Dokter itu pengganti Dokter Anas, sudah kukatakan jantungku ini memang sakit. Jika diperiksa pasti berbeda dengan yang lain,” bersungut-sungut Budi menjelaskan kepada Dewi segera setelah tiba.

Dewi tersenyum mendengar penjelasan Budi sambil mengelusnya. Menyimpan kembali sebuah kekuatiran dan air matanya.

****

Hari ke-5 Budi di rumah sakit. Dewi masih menjaganya. Sabar. Budi terkadang bertingkah seperti anak kecil. Besok Budi sudah boleh pulang. Dokter Anas akhirnya kembali dari bepergiannya dan sudah memeriksa hasil Budi. Semua “baik”, dokter pun mengijinkan besok sudah boleh pulang.

Malam terakhir di rumah sakit.

“Dewi, tidurlah di ranjang bersamaku. Pasti masih muat untuk kita berdua. Aku ingin dipeluk.”

“Eh, mana boleh. Nanti ketahuan perawat bisa kena tegur. Malu kan.”

“Aku ingin sekali dipeluk sampai aku tertidur nanti,” sambil bergeser posisi ke tepi.

“Aku elus-elus saja ya, seperti kemarin.”

“Dipeluk. Naiklah. “ berkeras Budi meminta.

Dewi akhirnya menuruti keinginan Budi. Ada sedikit berdesir di hatinya. Sebuah kekuatiran menyergap yang tidak ingin dipikirkan malam itu.

Dewi pun tidur disamping dan memeluk hingga Budi tertidur. Gelisah masih menjaganya, tak lekas tidur. Hingga kelelahan hati dan firasat datang, Dewi pun tertidur.

Hingga subuh berlangit suara mesra panggilan dari Tuhan.

Dewi terjaga, dan mendapati dirinya dalam pelukan Budi. Dengkur perlahan di telinganya. Lega. Budi diciumnya perlahan.

Budi terbangun. Dewi baru saja selesai menjalankan ibadahnya dan segera mendapati Budi sedang tersenyum memandang. Mereka berpelukan.

Selamanya saling memiliki.


untuk jejakubikel

Monday, February 21, 2011

Genap Setahun

Badannya tegap, atletis, masih muda. Dia sedang duduk di sana menunggu pesawatnya. Bawaannya tak banyak. Sebuah tas ransel besar. Kelihatannya berat.

Dan dia sedang asyik membaca buku.

Banyak sudah orang lalu lalang tapi tak satu pun melihatnya. Bahkan menghiraukannya. Tapi mereka hanya bisa melihat ada setangkai mawar merah di bangku tempat lelaki muda itu berada.


****

Seorang ibu sudah berumur dan seorang perempuan muda turun dari sebuah taxi. Berjalan bersama. Mereka tak terlihat buru-buru. Hanya raut sedih terlihat. Mereka menuju bangku tempat lelaki itu berada. Duduk. Ketika panggilan pesawat terdengar mereka segera beranjak dan meninggalkan setangkai mawar merah di sana.

Hari itu genap setahun lelaki muda itu pergi dan tak kembali selamanya.


untuk jejakubikel

Selalu Arah Barat

“Jadi arahnya dari gapura terminal ke barat. Terus saja ke barat. Ada pertigaan yang di tengahnya pohon beringin. Ambil ke arah kanan. Terus saja ikutin jalan beraspal itu.” Nita menjelaskan lewat selulernya kepada Erwin.

Erwin menunggu lagi.

“Ada jembatan, mengikuti saja jalan beraspal itu. Selalu ke barat. Lihat saja kompas,” penjelasan Nita masih berlanjut.”

Erwin pun masih sabar mendengarkan.

“Bila bertemu sebuah perempatan yang ditengahnya ada patung kecil, kamu tetap saja lurus ke arah barat. Bertemu pertigaan pohon beringin lagi. Belok kanan, itu berarti ke utara. Dari situ hanya 1,8 km saja,” terengah Nita mengakhiri penjelasannya.”

“Nita, aku hanya mau kirim sebuah paket, bukan hendak ke rumahmu. Jadi alamatmu?” balas Erwin.

untuk jejakubikel

Friday, February 18, 2011

Malam Nanti

Paman Badut datang... Paman Badut datang....” sorak gembira anak-anak kecil menyambutnya.

Sulap lagi, Paman.”
Buat bunga lagi, Paman.”

Berebut anak-anak tertawa ceria bersama Paman Badut.

Wenny, 9 tahun. Tidak menikmati tawa itu. Dia juga penghuni panti asuhan ini.
Duduk diam di sudut ruang rekreasi. Raut mukanya memerah. Alis bertaut. Bibir bergetar.

Dia tak menyukai Paman Badut itu.
Paman Badut yang sama.

Wenny mengingatnya, melihatnya.
Paman Badut itu yang membunuh Ayah dan Bundanya.
Wenny pun diculik. Diserahkan ke panti asuhan ini.


Sejak malam itu Wenny selalu melihatnya di kamar Ibu Pengasuh. Paman Badut menindih.

Kini tak ada lagi Paman Badut yang lucu. Wenny siap dengan sebuah pisau.

Malam nanti.

untuk jejakubikel

Ibu Pulang

Reza, 8 tahun, putraku. Kutinggalkan 2 tahun lalu bersama Nenek dan Tantenya. Aku pergi ke kota besar untuk mencari nafkah.

Tak ada lelaki lagi. Reza adalah lelaki kecilku. Reza sudah mengerti bahwa Ibu pergi bekerja. Terpaksa meninggalkannya.

Rindu adalah sebuah doa Ibu dan Anak. Dipanjatkan setiap hari dari tempat berjauhan.
Awal tahun ini aku mudik. Kejutan manis untuk Reza.

Terlalu pagi aku sampai di rumah yang nyaman. Reza masih tidur. Kuletakkan bawaanku di kursi tamu. Ibu dan aku di teras depan.

“Ibu pulang!” tiba-tiba terdengar teriakan gembira Reza. “Ini kacamata hitam Ibu.” Dia mengenali.

Berlari kecil keluar mencariku. Kami bertemu dan berpeluk. Waktu yang terbatas. Kami saling memiliki.

untuk jejakubikel

Tentu Saja

“Mama....” teriak Wini memanggil Mamanya dari atas sepeda kecil.

“Ya sayang....” Mama pun tak kalah keras.

“Mengapa mereka bersorak dan bertepuk tangan jika melihat kita?” Wini menghentikan sepeda kecil itu tepat di depan Mama.

“Karena kita lucu, Sayang,” sang Mama berusaha menghibur Wini yang masih kecil.

“Tapi aku malu... Lihatlah Ma, mereka selalu mengejek kita. Apalagi jika aku sedang bersepeda begini atau saat aku bermain-main dan bergulingan dengan bola merahku.”

“Dan lihatlah lagi Ma, Mama pakai rompi Kuning, aku rompi merah, tanpa celana pendek”. Wini masih menggerutu.

“Wini sayang, tentu saja kita di atas sebuah panggung, karena kita adalah keluarga Beruang,” tergelak sang Mama.

untuk jejakubikel

Saturday, February 12, 2011

Cita-Cita

“Bagus ya,” kataku membuka bincang.

“Spek juga bagus, seperti yang kamu idamkan.”

Hening menemani jeda berselang.

“Kamu suka?” tanyaku sekali lagi.

“Ingin  memulainya lagi? Bersamaku?" kutatap dirinya disampingku.


“Enggak.” Indra menjawab dan mengakhiri perbincangan kami.


Menghela napas. Tak bersuara.

Perbincangan sore yang penat selepas pulang kerja. Indra sudah tiba lebih dahulu. Seperti biasanya.

Kutemui dia sore itu bersama sebuah majalah foto yang disukainya.


Aku telah memilihnya dan bersamanya. Tujuh tahun pernikahan kami. Aku mengenalnya dan cita-citanya.  Seorang Fotografer.

Lima tahun yang lalu dia seorang fotografer. Kami berhasil mewujudkan sebuah cita-cita. Layaknya  bayi yang kami hanya bisa dambakan.


Masih mungkinkah kami melanjutkan cita-cita itu.

Dua tahun lalu kecelakaan itu merenggut kedua tangannya.


untuk jejakubikel

Saturday, February 5, 2011

Tak Ada Pemenang

23 - 24 kedudukan sementara.

“Masuk.”

24 – 24

Tempik sorak bergema di stadion tertutup. Yuyun menutup mata. Kesal.

Lawan mengambil alih bola. Tim Petir bersiap. Yuyun kembali bersama semangat.

24 – 25

Angka bertambah. Bola kembali ke tim Petir. Yuyun kali yang melakukan servis. Tiga teman  bersiap posisi bertahan. Para pendukung bersorak. Bergema bunyi tabuhan. Seakan berpesta kemenangan. Satu angka lagi Tim Petir menjadi juara lagi.

Pandangan lurus ke depan ke arah lawan yang bersiap. Yuyun menatap bola di tangan yang terentang di depan. Peluit berbunyi. Dilambungkan bola, diangkat tubuhnya, ringan. Saat hiperbola menurun diayun lengan kanan kuatnya memukul bola kuning biru itu. Keras.

Bola melambung tajam ke arah lawan, diterima manis, passing, dan spike. Tim Petir bertahan, blocking. Lolos. Masih bertahan passing, dan spike keras tajam. Lawan masih bertahan. Bola pun dikembalikan, dengan manis Tim Petir bertahan. Sudah perpindahan 4 kali, bola masih dimainkan. Penonton hanya bersuara oh dan uh mengikuti arah bola. Menanti. Kematian? Bukan. Kemenangan sekali lagi.

“MASUK!” tegas hakim keras.

Membahana. Tim Petir kembali meraih kemenangan. Anggota tim berpelukan dan toss. Bersalaman dengan tim lawan, serta wasit, hakim garis, menghormat ke arah penonton dan pendukung. Pesta selesai.

****

Enam panggilan tak terjawab dari nomer yang sama. Menghela nafas. Yuyun keluar menenteng tas besarnya menuju parkir mobil. Seorang lelaki di pintu depan melambai. Yuyun bergegas mendekat.

“Nih,” sebuah amplop tebal dari lelaki itu.

Yuyun segera menyelipkan dalam tas, dan segera pergi dari tempat itu. Uang taruhan.

Sebuah panggilan masuk. Nomer yang sama. Hanya menatap nanar.

****

Edwin terdiam. Panggilannya tak terjawab.

“Perempuan sial. Jalang,” teriaknya menendang ban mobil.

Jalanan sepi. Edwin kehabisan uang. Bangkrut. Seperti biasanya. Dia butuh perempuan itu. Bukan. Uang perempuan itu tepatnya.

Berusaha keras. Bekerja keras. Telah dilakukan. Pembuktian kepada perempuan itu. Tapi selalu gagal. Bangkrut lagi.

Masih ada satu botol di mobil. Tak ada mabuk dan pesta lagi. Dia harus mendapat uang segera. Juga perempuan itu. Dan Kinar buah hati mereka.

****

Yuyun memasuki ke ruangan itu. Ada sebuah surat pengunduran diri. Dia tak lagi dalam klub Petir. Cukup. Ada rencana lebih baik lagi daripada menjadi atlit. Meski banyak tawaran menjadi pelatih, dia menolak. Ada rencana lebih baik. Dan ada Kinar di sana.

****

Tak ada pertandingan lagi. Kini tinggal pertandingan antara Yuyun dan Edwin. Entah siapa pemenangnya. Bukan Yuyun, pula Edwin. Kinar juga tidak. Tak ada yang tahu pula kapan ini berakhir.

untuk jejakubikel