Sunday, April 3, 2011

Pulang


Bapak Ibu, aku pulang....

Masih 5-6 jam lagi perjalanan ini kembali dimulai. Wiwik menghela nafas panjang. Baru saja menempati bangku kereta api pagi ini yang akan membawanya. Pulang.

Hampir  tujuh tahun sejak kepergiannya untuk membebaskan gelisah diri yang terus mendesak. Tanpa pamit Wiwik pergi meninggalkan orangtuanya dan rumah yang telah melindunginya sekian lama.

Pergi ke kota yang akan ditinggalkannya ini,  tanpa bekal uang yang cukup, hanya sebuah alamat dan nomer telepon seseorang yang telah berjanji untuk membebaskannya dari gelisah itu. Indra.

Seseorang itu bernama Indra, sosok yang dikenalnya lewat sebuah iklan lowongan kerja di koran. Mencoba melamar, dan dijawab oleh Indra, yang bekerja sebagai HRD di perusahaan itu. Wiwik akan pergi menemuinya meski belum pernah melihatnya.

Indra sungguh-sungguh memenuhi janji, hingga satu setengah tahun saling mengenal Wiwik pun rela satu tempat tinggal bersamanya. Meski tanpa ikatan pernikahan. Mereka saling membutuhkan dan itu cukup. Hidup memang keras di kota ini, Indra sebenarnya telah memiliki keluarga yang bahagia, tapi Indra masih menginginkan Wiwik. 

Wiwik tak pernah menuntut Indra. Dia hanya butuh pembebasan gelisah dirinya, sebuah pembuktian cita-cita kepada orangtuanya.

Bapak Ibu, aku rindu...

Kereta telah berjalan 2 jam lalu. Untung saja bangku sebelah tak berpenumpang. Gerbong ini sepi, tak penuh, bukan musim libur. Menghela nafas lagi, melanjutkan bayangan kelu kerinduan.

Bagi seorang yang tak pernah pulang 7 tahun itu waktu yang sangat lama untuk melewatkan kenangan, bahkan sebuah restu tiap tahun dari orangtua. Wiwik memang tak pernah pulang. Ada banyak alasan yang menghentikan semua keinginan pulangnya. Jika itu alasan uang, mungkin sedikit benar, bagi Wiwik takkan pernah cukup, meski bagi beberapa orang uang yang dimiliki Wiwik saat ini sangat cukup untuk bekal pulang.

Alasan pembuktian sebuah cita-cita mungkin tidak juga, toh Wiwik kini menjabat di bagian penting dari perusahaan itu.

Mungkin Indra sebagai alasan. Hubungannya dengan Indra adalah sebuah kegelisahan baru yang ingin ditutupinya. Setelah Indra meninggal setahun lalu, Wiwik baru menyadari bahwa sesungguhnya dia mencintai Indra.

Masih jelas tergambar saat menerima berita kepergian Indra. Ditutupnya pintu kamar, gelap tanpa lampu, seharian menangis tanpa suara, hingga sakit memeluk erat di hati. Dan keesokannya berkerudung hitam, mengenakan kacamata hitam, Wiwik ke tempat pemakaman Indra. Tanpa terlihat, dia melihat istri Indra dan 2 anak mereka. Wiwik menangis diam bersama mereka dari kejauhan. Lirih mengucapkan selamat jalan kepada Indra.

Kembali menghela nafas.

Dua jam lagi akan tiba.  Wiwik kelelahan dalam kesedihan dan memutuskan untuk tidur. Perjalanan masih panjang.

Ibu, aku memanggilmu dalam rinduku...

Menggeliat. Wiwik bangun dari kelelahan. Sebentar lagi kereta api akan tiba di stasiun Tugu. Wiwik pun bersiap, mengemasi bawaan. Menurut Harno sahabatnya dari desa, perjalanan Wiwik diteruskan dengan bis TransJogja menuju terminal Jombor.

Kini sudah ada bis TransJogja. Wiwik telah melewatkan banyak hal. Bahkan bencana gempa dan letusan gunung pun hanya dibacanya dari koran nasional. Tanpa ada keinginan pulang.

Kereta api telah tiba. Wiwik mencoba mencari halte yang dimaksud Harno, dia mendapatkan dan beruntung jalur bis yang dimaksud tepat waktu. Nyaman.

Ibu telah meninggal, 3 tahun setelah Wiwik meninggalkan desa itu. Harno yang memberi kabar, dan juga memohonnya untuk pulang. “Kasihan Bapak,” katanya kepada Wiwik. Bersikeras. Entah mengapa dia selalu saja menahan keinginan untuk pulang.

“Ibu, aku juga rindu tapi aku tak sanggup pulang dan bersujud mencium kaki ibu. Aku terlalu kotor dan tak layak sebagai anak Ibu,” lirih dalam hati.

Aku pulang....

Bis TransJogja telah sampai di terminal Jombor. Wiwik pun telah keluar dari pintu terminal itu. Hari semakin sore.

“Den Wiwik?” sebuah suara dari andong yang tepat berhenti di depannya.

“Pakde Tarjo?” Wiwik mengenali laki-laki tua didalam andong itu. Dia bapaknya Harno, sahabatnya.

“Naik Den, saya antar. Harno memberitahu saya bahwa den Wiwik akan pulang,” Pakde Tarjo berucap dalam bahasa jawa yang halus. Wiwik pun segera naik.

“Den, saya ikut berbela sungkawa ya, Bapak den Wiwik meski sudah hampir 40 hari lalu.” Wiwik hanya terkesiap. Dia sudah tahu Bapak telah meninggal, tapi ucapan bela sungkawa dari Pakde Tarjo seolah membuka duka Wiwik yang dikubur.

“Terima kasih Pakde. Maaf sudah merepotkan Pakde dan Bude Tarjo, juga Harno. Oya, Pakde Bude dapat sungkem dari Harno,” Wiwik berkata juga dalam bahasa Jawa halus.

Perjalanan masih 30 menit lagi. Sebentar lagi dia pulang. Andong Pakde Tarjo yang mengantarkan ke rumahnya.

Dusun Cimpling. Tinggal sedikit lagi jarak yang membawanya. Rumahnya sudah terlihat. Kecil di tengah hamparan sawah yang menguning. Rumahnya masih sendirian, tetangga terdekat hanya Pakde Tarjo, itu pun berjarak hampir 150 m. Puncak gunung Merapi masih terlihat. Cantik.

“Hoooop...”Pak Tarjo menghentikan andongnya. Wiwik segera turun dan segera mengucap teri ma kasih.

“Den Wiwik, tidak apa-apa sendirian? Nanti malam biar simboknya Harno yang menemani, agar besok dapat membantu persiapan 40 hari Bapak ya.”

“Iya Pakde, terima kasih.”

Pakde Tarjo segera berpamitan dan berbalik kembali ke rumah.

Wiwik memandangi rumah kecilnya. Berkelebatan semua bayang kenangan masa kecil, masa keras kepalanya. Memasuki rumah seperti tersedot dalam arus lorong waktu. Ditelusurinya setiap ruang, membelai tiap dinding. Disentuhnya pigura foto Bapak dan Ibunya. Air mata yang tertahan, menggenang mengalir dalam kerinduan.  

“Andai saja aku pulang sebelum semuanya pergi, pasti aku bersujud memohon restu. Andai saat itu...”

Suara Ilahi memanggil dari kejauhan. Wiwik bergegas mengambil air Wudhu. Di tengah ruangan rumah dibentang alas. Sholat yang pertama ketika dia kembali ke rumah ini. Ada doa kerinduan bagi Bapak Ibu, memohon ampun. Juga bagi Indra. Cinta yang tak dimiliki.

“Bapak Ibu, Wiwik sudah pulang.”

untuk jejakubikel

No comments:

Post a Comment