“Di mana sih kacamataku?” sambil membongkar tumpukan koran
dan majalah di atas meja, Wenny masih menggerutu. “Sinyo! Kamu bantu mencari kacamataku,
kemarilah,” panggil Wenny kepada pembantunya.
Terburu Sinyo meletakkan semua pekerjaannya dan mulai ikut
mencari.
“Kacamatamu yang mana sih Wen, kamu sudah punya banyak,
pakai yang lain kan bisa,” Anna saudari tirinya dari kamar baca ikut berteriak
dan tanpa mengangkat kepala dari buku yang dibacanya.
“Iya Nyah, tadi taruh
mana sih, coba diingat-ingat dulu tadi diletakkan di mana?” Sinyo sang pembantu
ikut berpendapat.
“Hah, kamu itu... bukannya membantu, kalau aku ingat
diletakkan di mana, tak perlu aku menyuruhmu ikut mencari, “ Wenny makin
jengkel.
“Iya Nyah....” Sinyo pun membungkuk.
**
Tiga jam berlalu dengan sia-sia, mereka tak jua menemukan
kacamata yang dicari.
“Semestinya sih di sini, seperti biasa,” Wenny pun
membongkar ulang untuk keempat kali meja pendek kesukaannya. “Huuft....”
menghembus napas kebingungan panjang.
“Paling juga nangkring di kepalamu, tuh seperti biasanya dan
kamu pun sering menemukan di sana jika lupa atau kehilangan kacamata itu, ”
teriak Anna tanpa pula mengangkat wajahnya.
“Hahaha,” tawa Wenny keras. “Kali ini kamu salah Anna, gak
ada kacamata itu di atas kepalaku, weeek...,” sambil menjulurkan lidahnya.
“Ribut sekali, mencari kacamata di dalam rumah saja,” Anna
kini mengangkat wajahnya dan menggerakkan tubuhnya dengan malas keluar dari
kamar baca. Dan terkejut.
“Aduh Wenny, rumah ini berantakan sekali, kalian benar-benar
gila cara mencari kacamata itu,” berdecak takjub memandang seisi rumah.
Wenny hanya mengangkat bahunya. Lemas.
“Wenny, maka dari itu dan ingatlah akan kata-kataku ini
kelak di kemudian hari ya... Pakailah kacamatamu sebelum mencari kacamatamu
itu,” Anna kini berbalik jengkel sambil menahan senyum.
“Iyaa... aku kan sudah memak...,” kata-kata Wenny terputus
kala meraba wajahnya sendiri.
#15harimenulisdiblog #5