by Te@embunbeningpagi
Malam yang biasa mereka tidur berpelukan. Dewi memeluknya lebih dulu hingga mereka tertidur. Pagi menjelang bangun, Budi yang memeluk Dewi. Mesra.
Hanya mereka berdua. Tanpa anak dan cucu. Tak pernah ada diantara mereka. Bukan mereka tak menginginkan atau mereka mandul tapi beginilah perkawinan mereka. Apa adanya. Mereka saling menerima dan tanpa syarat.
Tiga puluh sembilan tahun menjalani pernikahan. Sempurna? Mereka tak pernah tahu yang disebut pernikahan sempurna. Beginilah pernikahan mereka selama ini. Saling memiliki. Budi sudah pensiun sebagai seorang dosen dan peneliti. Dewi, istrinya selisih 4 tahun lebih muda, setelah pensiun dini sebagai karyawan swasta kini mengelola sebuah usaha laundry.
Apa adanya. Meski ada juga gejolak dan gelombang sepanjang pernikahan mereka tetapi cinta mereka terlalu kuat dan melalui selama ini. Pagi ini kurang dari sebulan mereka akan merayakan empat puluh tahun pernikahan, tak ada rencana pesta. Cukup mereka saja.
Ah cinta, begitu perkasakah engkau ada diantara mereka.
Siang yang sibuk. Hari ini adalah saat pemeriksaan jantung Budi ke dokter terpercaya di rumah sakit umum. Budi sendiri saja berangkat dengan angkutan umum. Dewi sedang sibuk dengan karyawan laundrynya. Budi pun telah pamit. Sejak diketahui mengalami kelainan jantung, Budi tak boleh lagi menyetir mobil.
Sesampai di rumah sakit, panas dan terik, dan antrian mulai memanjang. Budi pun sabar ikut mengantri. Tak sendiri karena di sini ada banyak kawan pensiunan dari berbagai instansi. Pemeriksaan kesehatan rutin. Hampir 2 jam lebih Budi menunggu. Lupa membawa botol minum yang disediakan Dewi. Untunglah namanya segera dipanggil.
Dokter Ario. Bukan Dokter Anas, dokter ahli jantung yang biasa memeriksa Budi. Rupanya Dokter Anas sedang bepergian, dan sementara digantikan dokter Ario. Masih muda. Lebih cocok disebut anak bagi Budi.
“Selamat siang Bapak Budi,” senyum ramah seorang dokter muda.
“Selamat siang, Dokter. Pengganti sementara Dokter Anas ya?” tanya Budi.
“Iya, beliau sedang bepergian. Saya baca dulu catatan yang ditinggalkan Dokter Anas ya, Pak Budi.”
“Silakan dokter. Jantung saya memang sakit dan berbeda dengan yang lain. Mohon jangan kaget,” masih sempat Budi melemparkan canda.
Dua menit kemudian.
“Mari Bapak, saya periksa dulu.”
Stetoskop pun ditempelkan. Dingin.
“Hmmm... hmmm...hmmm...,” ketiga kalinya sebuah hmmm digumamkan Dokter Ario.
Budi hanya memandang mencoba membaca raut wajah dokter itu.
“Bapak Budi, sebaiknya berbaring dulu ya, jangan bergerak, sabar ya Pak.”
Budi hanya mengiyakan. Dokter Ario bergegas memanggil seorang perawat. Berbincang sesuatu. Sesekali memandang Budi yang berbaring. Perawat keluar ruangan. Sejeda. Masuk kembali.
“Pak Budi, mohon sabar ya Pak, kami carikan kamar. Bapak, anggota Askes pemerintah ya?” tanya perawat itu.
Kembali Budi mengiyakan. Suasana pun tiba-tiba menjadi cepat, dan seperti ada suatu kepanikan saja. Budi masih berbaring seperti yang dikatakan Dokter Ario. Seorang perawat memasangkan jarum infus.
Heran. Budi hanya bisa bertanya dalam hati saja. Ada apa dengan dirinya. Budi menurut saja kepada dokter dan perawat itu. Hanya satu yang dikuatirkannya. Dewi.
****
Hari ini Dewi sangat sibuk sekali. Rejeki mengalir. Usaha laundry sedang laris manis. Tak hentinya order masuk. Pembantunya hanya seorang dan hampir kewalahan. Dewi ingat hari ini adalah jadwal Budi kontrol ke dokter. Tadi pagi dia meminta maaf tak dapat menemani seperti biasanya. Budi pun memaafkan, memahami kesibukan Dewi.
Meski sibuk, tapi Dewi gelisah memikirkan Budi. Dia tahu Budi mandiri, tapi hati resah sebagai istri tetap menghampiri.
Sudah siang terik matahari meninggi Budi pun belum pulang, belum ada kabar. Mungkin antrian sangat panjang. Hanya membatin saja. Dewi pun menunda kembali untuk menelepon Budi. Sebentar lagi.
Kriiiiiiiiing...
Kriiiiiiiiing....
“Ah, pasti Budi.” Dewi bergegas.
“Selamat siang, bisa berbicara dengan Ibu Dewi, kami dari Rumah Sakit Umum.”
Dewi terhenyak. Berusaha tenang dan sabar.
“Saya sendiri?”
“Oh, begini Ibu, kami mengabarkan bahwa Bapak Budi berada di rumah sakit kami, sekarang Beliau berada di kamar Dahlia 301. Sesuai petunjuk Dokter Ario bahwa Bapak Budi dimohon untuk beristirahat.”
“Baiklah, saya segera ke rumah sakit. Terima kasih.” Dewi pun menutup pembicaraan.
Tanpa suara Dewi hanya mengusap air mata.
“Oh Budi, bertahanlah demi aku,” berkata dalam desahnya.
Dewi pun segera memesan sebuah taxi dan segera mempersiapkan segala yang diperlukan Budi selama di rumah sakit. Entah untuk berapa lama. Dewi hanya pasrah.
Sepanjang perjalanan, sepanjang doa diucapkan untuk Budi, untuk mereka.
“Budi bertahanlah,” desah Dewi.
****
“Aku ini baik-baik saja. Dokter itu pengganti Dokter Anas, sudah kukatakan jantungku ini memang sakit. Jika diperiksa pasti berbeda dengan yang lain,” bersungut-sungut Budi menjelaskan kepada Dewi segera setelah tiba.
Dewi tersenyum mendengar penjelasan Budi sambil mengelusnya. Menyimpan kembali sebuah kekuatiran dan air matanya.
****
Hari ke-5 Budi di rumah sakit. Dewi masih menjaganya. Sabar. Budi terkadang bertingkah seperti anak kecil. Besok Budi sudah boleh pulang. Dokter Anas akhirnya kembali dari bepergiannya dan sudah memeriksa hasil Budi. Semua “baik”, dokter pun mengijinkan besok sudah boleh pulang.
Malam terakhir di rumah sakit.
“Dewi, tidurlah di ranjang bersamaku. Pasti masih muat untuk kita berdua. Aku ingin dipeluk.”
“Eh, mana boleh. Nanti ketahuan perawat bisa kena tegur. Malu kan.”
“Aku ingin sekali dipeluk sampai aku tertidur nanti,” sambil bergeser posisi ke tepi.
“Aku elus-elus saja ya, seperti kemarin.”
“Dipeluk. Naiklah. “ berkeras Budi meminta.
Dewi akhirnya menuruti keinginan Budi. Ada sedikit berdesir di hatinya. Sebuah kekuatiran menyergap yang tidak ingin dipikirkan malam itu.
Dewi pun tidur disamping dan memeluk hingga Budi tertidur. Gelisah masih menjaganya, tak lekas tidur. Hingga kelelahan hati dan firasat datang, Dewi pun tertidur.
Hingga subuh berlangit suara mesra panggilan dari Tuhan.
Dewi terjaga, dan mendapati dirinya dalam pelukan Budi. Dengkur perlahan di telinganya. Lega. Budi diciumnya perlahan.
Budi terbangun. Dewi baru saja selesai menjalankan ibadahnya dan segera mendapati Budi sedang tersenyum memandang. Mereka berpelukan.
Selamanya saling memiliki.
untuk jejakubikel
Sunday, February 27, 2011
Monday, February 21, 2011
Genap Setahun
Badannya tegap, atletis, masih muda. Dia sedang duduk di sana menunggu pesawatnya. Bawaannya tak banyak. Sebuah tas ransel besar. Kelihatannya berat.
Dan dia sedang asyik membaca buku.
Banyak sudah orang lalu lalang tapi tak satu pun melihatnya. Bahkan menghiraukannya. Tapi mereka hanya bisa melihat ada setangkai mawar merah di bangku tempat lelaki muda itu berada.
****
Seorang ibu sudah berumur dan seorang perempuan muda turun dari sebuah taxi. Berjalan bersama. Mereka tak terlihat buru-buru. Hanya raut sedih terlihat. Mereka menuju bangku tempat lelaki itu berada. Duduk. Ketika panggilan pesawat terdengar mereka segera beranjak dan meninggalkan setangkai mawar merah di sana.
Hari itu genap setahun lelaki muda itu pergi dan tak kembali selamanya.
untuk jejakubikel
Dan dia sedang asyik membaca buku.
Banyak sudah orang lalu lalang tapi tak satu pun melihatnya. Bahkan menghiraukannya. Tapi mereka hanya bisa melihat ada setangkai mawar merah di bangku tempat lelaki muda itu berada.
****
Seorang ibu sudah berumur dan seorang perempuan muda turun dari sebuah taxi. Berjalan bersama. Mereka tak terlihat buru-buru. Hanya raut sedih terlihat. Mereka menuju bangku tempat lelaki itu berada. Duduk. Ketika panggilan pesawat terdengar mereka segera beranjak dan meninggalkan setangkai mawar merah di sana.
Hari itu genap setahun lelaki muda itu pergi dan tak kembali selamanya.
untuk jejakubikel
Selalu Arah Barat
“Jadi arahnya dari gapura terminal ke barat. Terus saja ke barat. Ada pertigaan yang di tengahnya pohon beringin. Ambil ke arah kanan. Terus saja ikutin jalan beraspal itu.” Nita menjelaskan lewat selulernya kepada Erwin.
Erwin menunggu lagi.
“Ada jembatan, mengikuti saja jalan beraspal itu. Selalu ke barat. Lihat saja kompas,” penjelasan Nita masih berlanjut.”
Erwin pun masih sabar mendengarkan.
“Bila bertemu sebuah perempatan yang ditengahnya ada patung kecil, kamu tetap saja lurus ke arah barat. Bertemu pertigaan pohon beringin lagi. Belok kanan, itu berarti ke utara. Dari situ hanya 1,8 km saja,” terengah Nita mengakhiri penjelasannya.”
“Nita, aku hanya mau kirim sebuah paket, bukan hendak ke rumahmu. Jadi alamatmu?” balas Erwin.
untuk jejakubikel
Erwin menunggu lagi.
“Ada jembatan, mengikuti saja jalan beraspal itu. Selalu ke barat. Lihat saja kompas,” penjelasan Nita masih berlanjut.”
Erwin pun masih sabar mendengarkan.
“Bila bertemu sebuah perempatan yang ditengahnya ada patung kecil, kamu tetap saja lurus ke arah barat. Bertemu pertigaan pohon beringin lagi. Belok kanan, itu berarti ke utara. Dari situ hanya 1,8 km saja,” terengah Nita mengakhiri penjelasannya.”
“Nita, aku hanya mau kirim sebuah paket, bukan hendak ke rumahmu. Jadi alamatmu?” balas Erwin.
untuk jejakubikel
Friday, February 18, 2011
Malam Nanti
“Paman Badut datang... Paman Badut datang....” sorak gembira anak-anak kecil menyambutnya.
“Sulap lagi, Paman.”
“Buat bunga lagi, Paman.”
Berebut anak-anak tertawa ceria bersama Paman Badut.
Wenny, 9 tahun. Tidak menikmati tawa itu. Dia juga penghuni panti asuhan ini.
Duduk diam di sudut ruang rekreasi. Raut mukanya memerah. Alis bertaut. Bibir bergetar.
Dia tak menyukai Paman Badut itu.
Paman Badut yang sama.
Wenny mengingatnya, melihatnya.
Paman Badut itu yang membunuh Ayah dan Bundanya.
Wenny pun diculik. Diserahkan ke panti asuhan ini.
Sejak malam itu Wenny selalu melihatnya di kamar Ibu Pengasuh. Paman Badut menindih.
Kini tak ada lagi Paman Badut yang lucu. Wenny siap dengan sebuah pisau.
Malam nanti.
untuk jejakubikel
Ibu Pulang
Reza, 8 tahun, putraku. Kutinggalkan 2 tahun lalu bersama Nenek dan Tantenya. Aku pergi ke kota besar untuk mencari nafkah.
Tak ada lelaki lagi. Reza adalah lelaki kecilku. Reza sudah mengerti bahwa Ibu pergi bekerja. Terpaksa meninggalkannya.
Rindu adalah sebuah doa Ibu dan Anak. Dipanjatkan setiap hari dari tempat berjauhan.
Awal tahun ini aku mudik. Kejutan manis untuk Reza.
Terlalu pagi aku sampai di rumah yang nyaman. Reza masih tidur. Kuletakkan bawaanku di kursi tamu. Ibu dan aku di teras depan.
“Ibu pulang!” tiba-tiba terdengar teriakan gembira Reza. “Ini kacamata hitam Ibu.” Dia mengenali.
Berlari kecil keluar mencariku. Kami bertemu dan berpeluk. Waktu yang terbatas. Kami saling memiliki.
untuk jejakubikel
Tak ada lelaki lagi. Reza adalah lelaki kecilku. Reza sudah mengerti bahwa Ibu pergi bekerja. Terpaksa meninggalkannya.
Rindu adalah sebuah doa Ibu dan Anak. Dipanjatkan setiap hari dari tempat berjauhan.
Awal tahun ini aku mudik. Kejutan manis untuk Reza.
Terlalu pagi aku sampai di rumah yang nyaman. Reza masih tidur. Kuletakkan bawaanku di kursi tamu. Ibu dan aku di teras depan.
“Ibu pulang!” tiba-tiba terdengar teriakan gembira Reza. “Ini kacamata hitam Ibu.” Dia mengenali.
Berlari kecil keluar mencariku. Kami bertemu dan berpeluk. Waktu yang terbatas. Kami saling memiliki.
untuk jejakubikel
Tentu Saja
“Mama....” teriak Wini memanggil Mamanya dari atas sepeda kecil.
“Ya sayang....” Mama pun tak kalah keras.
“Mengapa mereka bersorak dan bertepuk tangan jika melihat kita?” Wini menghentikan sepeda kecil itu tepat di depan Mama.
“Karena kita lucu, Sayang,” sang Mama berusaha menghibur Wini yang masih kecil.
“Tapi aku malu... Lihatlah Ma, mereka selalu mengejek kita. Apalagi jika aku sedang bersepeda begini atau saat aku bermain-main dan bergulingan dengan bola merahku.”
“Dan lihatlah lagi Ma, Mama pakai rompi Kuning, aku rompi merah, tanpa celana pendek”. Wini masih menggerutu.
“Wini sayang, tentu saja kita di atas sebuah panggung, karena kita adalah keluarga Beruang,” tergelak sang Mama.
untuk jejakubikel
“Ya sayang....” Mama pun tak kalah keras.
“Mengapa mereka bersorak dan bertepuk tangan jika melihat kita?” Wini menghentikan sepeda kecil itu tepat di depan Mama.
“Karena kita lucu, Sayang,” sang Mama berusaha menghibur Wini yang masih kecil.
“Tapi aku malu... Lihatlah Ma, mereka selalu mengejek kita. Apalagi jika aku sedang bersepeda begini atau saat aku bermain-main dan bergulingan dengan bola merahku.”
“Dan lihatlah lagi Ma, Mama pakai rompi Kuning, aku rompi merah, tanpa celana pendek”. Wini masih menggerutu.
“Wini sayang, tentu saja kita di atas sebuah panggung, karena kita adalah keluarga Beruang,” tergelak sang Mama.
untuk jejakubikel
Saturday, February 12, 2011
Cita-Cita
“Bagus ya,” kataku membuka bincang.
“Spek juga bagus, seperti yang kamu idamkan.”
Hening menemani jeda berselang.
“Kamu suka?” tanyaku sekali lagi.
“Ingin memulainya lagi? Bersamaku?" kutatap dirinya disampingku.
“Enggak.” Indra menjawab dan mengakhiri perbincangan kami.
Menghela napas. Tak bersuara.
Perbincangan sore yang penat selepas pulang kerja. Indra sudah tiba lebih dahulu. Seperti biasanya.
Kutemui dia sore itu bersama sebuah majalah foto yang disukainya.
Aku telah memilihnya dan bersamanya. Tujuh tahun pernikahan kami. Aku mengenalnya dan cita-citanya. Seorang Fotografer.
Lima tahun yang lalu dia seorang fotografer. Kami berhasil mewujudkan sebuah cita-cita. Layaknya bayi yang kami hanya bisa dambakan.
Masih mungkinkah kami melanjutkan cita-cita itu.
Dua tahun lalu kecelakaan itu merenggut kedua tangannya.
untuk jejakubikel
“Spek juga bagus, seperti yang kamu idamkan.”
Hening menemani jeda berselang.
“Kamu suka?” tanyaku sekali lagi.
“Ingin memulainya lagi? Bersamaku?" kutatap dirinya disampingku.
“Enggak.” Indra menjawab dan mengakhiri perbincangan kami.
Menghela napas. Tak bersuara.
Perbincangan sore yang penat selepas pulang kerja. Indra sudah tiba lebih dahulu. Seperti biasanya.
Kutemui dia sore itu bersama sebuah majalah foto yang disukainya.
Aku telah memilihnya dan bersamanya. Tujuh tahun pernikahan kami. Aku mengenalnya dan cita-citanya. Seorang Fotografer.
Lima tahun yang lalu dia seorang fotografer. Kami berhasil mewujudkan sebuah cita-cita. Layaknya bayi yang kami hanya bisa dambakan.
Masih mungkinkah kami melanjutkan cita-cita itu.
Dua tahun lalu kecelakaan itu merenggut kedua tangannya.
untuk jejakubikel
Saturday, February 5, 2011
Tak Ada Pemenang
23 - 24 kedudukan sementara.
“Masuk.”
24 – 24
Tempik sorak bergema di stadion tertutup. Yuyun menutup mata. Kesal.
Lawan mengambil alih bola. Tim Petir bersiap. Yuyun kembali bersama semangat.
24 – 25
Angka bertambah. Bola kembali ke tim Petir. Yuyun kali yang melakukan servis. Tiga teman bersiap posisi bertahan. Para pendukung bersorak. Bergema bunyi tabuhan. Seakan berpesta kemenangan. Satu angka lagi Tim Petir menjadi juara lagi.
Pandangan lurus ke depan ke arah lawan yang bersiap. Yuyun menatap bola di tangan yang terentang di depan. Peluit berbunyi. Dilambungkan bola, diangkat tubuhnya, ringan. Saat hiperbola menurun diayun lengan kanan kuatnya memukul bola kuning biru itu. Keras.
Bola melambung tajam ke arah lawan, diterima manis, passing, dan spike. Tim Petir bertahan, blocking. Lolos. Masih bertahan passing, dan spike keras tajam. Lawan masih bertahan. Bola pun dikembalikan, dengan manis Tim Petir bertahan. Sudah perpindahan 4 kali, bola masih dimainkan. Penonton hanya bersuara oh dan uh mengikuti arah bola. Menanti. Kematian? Bukan. Kemenangan sekali lagi.
“MASUK!” tegas hakim keras.
Membahana. Tim Petir kembali meraih kemenangan. Anggota tim berpelukan dan toss. Bersalaman dengan tim lawan, serta wasit, hakim garis, menghormat ke arah penonton dan pendukung. Pesta selesai.
****
Enam panggilan tak terjawab dari nomer yang sama. Menghela nafas. Yuyun keluar menenteng tas besarnya menuju parkir mobil. Seorang lelaki di pintu depan melambai. Yuyun bergegas mendekat.
“Nih,” sebuah amplop tebal dari lelaki itu.
Yuyun segera menyelipkan dalam tas, dan segera pergi dari tempat itu. Uang taruhan.
Sebuah panggilan masuk. Nomer yang sama. Hanya menatap nanar.
****
Edwin terdiam. Panggilannya tak terjawab.
“Perempuan sial. Jalang,” teriaknya menendang ban mobil.
Jalanan sepi. Edwin kehabisan uang. Bangkrut. Seperti biasanya. Dia butuh perempuan itu. Bukan. Uang perempuan itu tepatnya.
Berusaha keras. Bekerja keras. Telah dilakukan. Pembuktian kepada perempuan itu. Tapi selalu gagal. Bangkrut lagi.
Masih ada satu botol di mobil. Tak ada mabuk dan pesta lagi. Dia harus mendapat uang segera. Juga perempuan itu. Dan Kinar buah hati mereka.
****
Yuyun memasuki ke ruangan itu. Ada sebuah surat pengunduran diri. Dia tak lagi dalam klub Petir. Cukup. Ada rencana lebih baik lagi daripada menjadi atlit. Meski banyak tawaran menjadi pelatih, dia menolak. Ada rencana lebih baik. Dan ada Kinar di sana.
****
Tak ada pertandingan lagi. Kini tinggal pertandingan antara Yuyun dan Edwin. Entah siapa pemenangnya. Bukan Yuyun, pula Edwin. Kinar juga tidak. Tak ada yang tahu pula kapan ini berakhir.
untuk jejakubikel
“Masuk.”
24 – 24
Tempik sorak bergema di stadion tertutup. Yuyun menutup mata. Kesal.
Lawan mengambil alih bola. Tim Petir bersiap. Yuyun kembali bersama semangat.
24 – 25
Angka bertambah. Bola kembali ke tim Petir. Yuyun kali yang melakukan servis. Tiga teman bersiap posisi bertahan. Para pendukung bersorak. Bergema bunyi tabuhan. Seakan berpesta kemenangan. Satu angka lagi Tim Petir menjadi juara lagi.
Pandangan lurus ke depan ke arah lawan yang bersiap. Yuyun menatap bola di tangan yang terentang di depan. Peluit berbunyi. Dilambungkan bola, diangkat tubuhnya, ringan. Saat hiperbola menurun diayun lengan kanan kuatnya memukul bola kuning biru itu. Keras.
Bola melambung tajam ke arah lawan, diterima manis, passing, dan spike. Tim Petir bertahan, blocking. Lolos. Masih bertahan passing, dan spike keras tajam. Lawan masih bertahan. Bola pun dikembalikan, dengan manis Tim Petir bertahan. Sudah perpindahan 4 kali, bola masih dimainkan. Penonton hanya bersuara oh dan uh mengikuti arah bola. Menanti. Kematian? Bukan. Kemenangan sekali lagi.
“MASUK!” tegas hakim keras.
Membahana. Tim Petir kembali meraih kemenangan. Anggota tim berpelukan dan toss. Bersalaman dengan tim lawan, serta wasit, hakim garis, menghormat ke arah penonton dan pendukung. Pesta selesai.
****
Enam panggilan tak terjawab dari nomer yang sama. Menghela nafas. Yuyun keluar menenteng tas besarnya menuju parkir mobil. Seorang lelaki di pintu depan melambai. Yuyun bergegas mendekat.
“Nih,” sebuah amplop tebal dari lelaki itu.
Yuyun segera menyelipkan dalam tas, dan segera pergi dari tempat itu. Uang taruhan.
Sebuah panggilan masuk. Nomer yang sama. Hanya menatap nanar.
****
Edwin terdiam. Panggilannya tak terjawab.
“Perempuan sial. Jalang,” teriaknya menendang ban mobil.
Jalanan sepi. Edwin kehabisan uang. Bangkrut. Seperti biasanya. Dia butuh perempuan itu. Bukan. Uang perempuan itu tepatnya.
Berusaha keras. Bekerja keras. Telah dilakukan. Pembuktian kepada perempuan itu. Tapi selalu gagal. Bangkrut lagi.
Masih ada satu botol di mobil. Tak ada mabuk dan pesta lagi. Dia harus mendapat uang segera. Juga perempuan itu. Dan Kinar buah hati mereka.
****
Yuyun memasuki ke ruangan itu. Ada sebuah surat pengunduran diri. Dia tak lagi dalam klub Petir. Cukup. Ada rencana lebih baik lagi daripada menjadi atlit. Meski banyak tawaran menjadi pelatih, dia menolak. Ada rencana lebih baik. Dan ada Kinar di sana.
****
Tak ada pertandingan lagi. Kini tinggal pertandingan antara Yuyun dan Edwin. Entah siapa pemenangnya. Bukan Yuyun, pula Edwin. Kinar juga tidak. Tak ada yang tahu pula kapan ini berakhir.
untuk jejakubikel
Friday, January 28, 2011
Andai Dia Tahu...
by te@embunbeningpagi
Pak Yoris. Beliau salah satu manajer di kantor kami, tempat aku bekerja. Lebih sering kami memanggil beliau “Papi”.
Asal usul panggilan “PAPI” ini karena seringnya beliau menerima telpon pribadi dari sang istri. Posesif? Kami juga tidak tahu. Itu hanya dugaan dan gosip seru kami diantara para karyawan.
Pak Yoris ini bukan manajer divisi kami. Beliau adalah Manajer Divisi Finance dan Accounting merangkap HRD, merangkap General Affair. Mentereng ya. Aku sendiri berada di divisi Marketing. Bersama 6 orang lainnya.
Mas Heri, kami memanggilnya. Beliau manajer Divisi Marketing. Bagi kami para karyawan, Mas Heri pribadi yang menarik, sangat perhatian kepada kami. Ya, beliau manajer favorit kami. Hidup mas Heri!!
Nah, kalau Pak Yoris ini. Eh, Papi ini.
Kita sebut saja dia PAPI saja ya, biar enak ceritanya.
Papi ini bukan idola diantara kami, dari seluruh divisi di kantor ini, bahkan divisi beliau sendiri. Bolehlah kita sebut beliau sebagai sosok POPULER. Hanya saja dalam hal ini POPULER ini bukan hal yang baik.
Seperti diawal ceritaku tadi. Memiliki istri yang POSESIF. Menimbulkan gosip dan menjadikan POPULER di semua divisi kantor kami.
Oya, Papi ini perutnya membuncit, dengan berat badan berlebih. Sebut saja GENDUT. Terlihat dari tumpukan lemak di perutnya. Hobinya pun MAKAN.
Sayang hobi makan ini disertai dengan PELIT yang luar biasa. Biasanya diantara kami selalu bergiliran membawa jajanan sebagai bekal, dan itu pasti kami saling berbagi.
Biasanya juga Papi selalu tahu dan muncul begitu saja disaat kami mulai berbagi makanan. Tidak tanggung-tanggung. Dua tangan kanan dan kiri selalu pegang makanan.
Sudah sering kami rubah jadwal berbagi makanan. Tetap saja Papi selalu tahu. Hidungnya sangat sensitif mungkin ya.
Pernah seorang teman menegur Papi.
“Papi ini, sekali-sekali bawa makanan buat kami. Ikut berbagi juga dong”
“Iya Papi ini. Masak minta ke karyawan rendahan seperti kami”
Dasar Papi. Terlalu tebal kulit dan lemak. Tak pernah menghiraukan teguran itu. Dan setiap kami punya makanan selalu saja tahu.
Kerakusan Papi ini bukan melulu makanan. Selalu saja tanpa malu bahkan setiap siang di jam istirahat menyempatkan diri pergi ke mejaku.
“Bagi rokok!”
Duh, kena palak lagi deh.
***
Sebulan lalu Papi memiliki BB baru.
Sibuk. Bertanya kesana kemari. Dari meja ke meja.
“Bagi PIN”
“Add aku di grup”
Populer kan. Memaksa setiap orang memiliki PIN BB nya.
Hingga suatu ketika, mas Heri manajer Marketing kami berteriak kesal,
“Siapa ini yang mengundang Yoris ke group kita?”
Kami hanya saling pandang.
Sejak itu satu per satu kami keluar dari group BBM marketing. Sehingga tertinggal Papi dan seorang rekan yang sudah mengundurkan diri.
Mas Heri pun segera membuat grup BBM baru, tanpa Papi. Kembali kami bebas ber-BBM seperti sebelum Papi masuk dalam grup kami.
Kemarin ketika kami sedang berbagi makanan sambil berbincang ringan tentang pekerjaan, Papi masuk begitu saja, seolah tahu ada makanan terhidang. Seperti kebiasaannya tangan kanan dan kiri pegang makanan. Ringan menikmati sambil duduk di kursiku.
“He, aku baru sadar lho, ternyata kalian sudah keluar dari grup marketing ya.” Papi memulai pembicaraan.
“Apakah karena ada Heri dalam grup itu ya, takut pembicaraan kalian bisa mendapatkan SP ya?” terbahak- bahak Papi setelah menyampaikan hal ini.
Kami pun terbahak-bahak, saling lempar pandang satu sama lain juga dengan Mas Heri. Penuh rahasia.
Bisa ditebak. Begitu Papi keluar dari ruangan kami. Meledak suara kami tertawa, hingga sakit perut dan mengusap air mata.
Kelak kami mengingat kelucuan ini.
Ah Papi, andai kamu tahu.
untuk jejakubikel
Pak Yoris. Beliau salah satu manajer di kantor kami, tempat aku bekerja. Lebih sering kami memanggil beliau “Papi”.
Asal usul panggilan “PAPI” ini karena seringnya beliau menerima telpon pribadi dari sang istri. Posesif? Kami juga tidak tahu. Itu hanya dugaan dan gosip seru kami diantara para karyawan.
Pak Yoris ini bukan manajer divisi kami. Beliau adalah Manajer Divisi Finance dan Accounting merangkap HRD, merangkap General Affair. Mentereng ya. Aku sendiri berada di divisi Marketing. Bersama 6 orang lainnya.
Mas Heri, kami memanggilnya. Beliau manajer Divisi Marketing. Bagi kami para karyawan, Mas Heri pribadi yang menarik, sangat perhatian kepada kami. Ya, beliau manajer favorit kami. Hidup mas Heri!!
Nah, kalau Pak Yoris ini. Eh, Papi ini.
Kita sebut saja dia PAPI saja ya, biar enak ceritanya.
Papi ini bukan idola diantara kami, dari seluruh divisi di kantor ini, bahkan divisi beliau sendiri. Bolehlah kita sebut beliau sebagai sosok POPULER. Hanya saja dalam hal ini POPULER ini bukan hal yang baik.
Seperti diawal ceritaku tadi. Memiliki istri yang POSESIF. Menimbulkan gosip dan menjadikan POPULER di semua divisi kantor kami.
Oya, Papi ini perutnya membuncit, dengan berat badan berlebih. Sebut saja GENDUT. Terlihat dari tumpukan lemak di perutnya. Hobinya pun MAKAN.
Sayang hobi makan ini disertai dengan PELIT yang luar biasa. Biasanya diantara kami selalu bergiliran membawa jajanan sebagai bekal, dan itu pasti kami saling berbagi.
Biasanya juga Papi selalu tahu dan muncul begitu saja disaat kami mulai berbagi makanan. Tidak tanggung-tanggung. Dua tangan kanan dan kiri selalu pegang makanan.
Sudah sering kami rubah jadwal berbagi makanan. Tetap saja Papi selalu tahu. Hidungnya sangat sensitif mungkin ya.
Pernah seorang teman menegur Papi.
“Papi ini, sekali-sekali bawa makanan buat kami. Ikut berbagi juga dong”
“Iya Papi ini. Masak minta ke karyawan rendahan seperti kami”
Dasar Papi. Terlalu tebal kulit dan lemak. Tak pernah menghiraukan teguran itu. Dan setiap kami punya makanan selalu saja tahu.
Kerakusan Papi ini bukan melulu makanan. Selalu saja tanpa malu bahkan setiap siang di jam istirahat menyempatkan diri pergi ke mejaku.
“Bagi rokok!”
Duh, kena palak lagi deh.
***
Sebulan lalu Papi memiliki BB baru.
Sibuk. Bertanya kesana kemari. Dari meja ke meja.
“Bagi PIN”
“Add aku di grup”
Populer kan. Memaksa setiap orang memiliki PIN BB nya.
Hingga suatu ketika, mas Heri manajer Marketing kami berteriak kesal,
“Siapa ini yang mengundang Yoris ke group kita?”
Kami hanya saling pandang.
Sejak itu satu per satu kami keluar dari group BBM marketing. Sehingga tertinggal Papi dan seorang rekan yang sudah mengundurkan diri.
Mas Heri pun segera membuat grup BBM baru, tanpa Papi. Kembali kami bebas ber-BBM seperti sebelum Papi masuk dalam grup kami.
Kemarin ketika kami sedang berbagi makanan sambil berbincang ringan tentang pekerjaan, Papi masuk begitu saja, seolah tahu ada makanan terhidang. Seperti kebiasaannya tangan kanan dan kiri pegang makanan. Ringan menikmati sambil duduk di kursiku.
“He, aku baru sadar lho, ternyata kalian sudah keluar dari grup marketing ya.” Papi memulai pembicaraan.
“Apakah karena ada Heri dalam grup itu ya, takut pembicaraan kalian bisa mendapatkan SP ya?” terbahak- bahak Papi setelah menyampaikan hal ini.
Kami pun terbahak-bahak, saling lempar pandang satu sama lain juga dengan Mas Heri. Penuh rahasia.
Bisa ditebak. Begitu Papi keluar dari ruangan kami. Meledak suara kami tertawa, hingga sakit perut dan mengusap air mata.
Kelak kami mengingat kelucuan ini.
Ah Papi, andai kamu tahu.
untuk jejakubikel
Thursday, January 20, 2011
MITONI
Tujuh kain terhampar di tempat tidurnya.
* Sidomukti
* Sidoluhur
* Truntum
* Parangkusumo
* Semen Rama
* Udan Riris
* Cakar Ayam
Tujuh motif dengan makna yang berbeda. Persiapan untuk kelak upacara tujuh bulan kehamilan.
Novi membayangkan siraman, sungkem, suaminya melepaskan telor dalam kainnya. Kelapa gading muda bergambar Kamajaya dan Dewi Ratih.
Kain pertama dikenakan.
“Tidak pantas...” Para undangan pasti berteriak sama.
Kain kedua.
“Tidak pantas...”
Hingga nanti saat kain ke tujuh di kenakan.
“Pantas...” semua setuju.
Indahnya.
Novi masih berdiri di depan cermin besar.
Mematut. Tersenyum. Bahagia.
“Sayang, masih disitu?” Anto memanggil istrinya.
“Gantilah baju, kita makan ya Sayang”
Tujuh bulan itu tak pernah ada.
Mereka sudah kehilangan 4 bulan lalu.
untuk jejakubikel
* Sidomukti
* Sidoluhur
* Truntum
* Parangkusumo
* Semen Rama
* Udan Riris
* Cakar Ayam
Tujuh motif dengan makna yang berbeda. Persiapan untuk kelak upacara tujuh bulan kehamilan.
Novi membayangkan siraman, sungkem, suaminya melepaskan telor dalam kainnya. Kelapa gading muda bergambar Kamajaya dan Dewi Ratih.
Kain pertama dikenakan.
“Tidak pantas...” Para undangan pasti berteriak sama.
Kain kedua.
“Tidak pantas...”
Hingga nanti saat kain ke tujuh di kenakan.
“Pantas...” semua setuju.
Indahnya.
Novi masih berdiri di depan cermin besar.
Mematut. Tersenyum. Bahagia.
“Sayang, masih disitu?” Anto memanggil istrinya.
“Gantilah baju, kita makan ya Sayang”
Tujuh bulan itu tak pernah ada.
Mereka sudah kehilangan 4 bulan lalu.
untuk jejakubikel
Wednesday, January 19, 2011
Belum Habis
Arum manis,
Arum yang Manis... Selalu manis.
Nama yang selalu manis.
Kuingat karena senyummu yang manis.
Meski kamu hitam, tidak merah muda seperti arum manis.
Selamat tinggal Arum yang manis.
Kelak kita bertemu lagi.
Salam manis untuk Arum yang Manis
Raka.
Empat kali empat sama dengan enambelas
Sempat tidak sempat harap dibalas.
Kesekian ratus bahkan ribuan kali. Surat berwarna merah jambu dari masa kecilku.
Kulipat lagi dengan hati-hati.
Raka pengirimnya.
Dahulu dia pindah ke kota lain dan menulis surat untukku.
Benci.
Hanya dia yang selalu mengejekku Arummanis. Arum yang manis.
Tapi semua berlalu.
Besok pagi aku menikah.
Raka dan Arummanis adalah masa lalu.
Arummanis belum habis.
untuk jejakubikel
TERBACA
Laki-laki itu berkisar usia 70 tahunan.
Kujumpai dia di daerah pecinan kota tua itu. Memandangku tajam. Seperti tersihir begitu saja, aku pun mendekat.
“Mari, berikan tanganmu” dia meminta.
“Tidak. Aku tak mau diramal.”
Sekuat hati aku menolak, kucoba sembunyikan tanganku. Kukepal erat.
Dia memaksa lagi.
Semakin kuat aku menolak, mata peramal itu tajam memandangku.
Entah sihir apalagi. Kuberikan tanganku.
Tiba-tiba Peramal itu berteriak seperti ketakutan.
“Aaah, pergi...”
“Jangan lakukan itu, Nak”
Sekuat tenaga aku berlari meninggalkannya. Tak kuhiraukan pandangan orang-orang yang lewat.
Berlari saja hingga nyaris terputus nafas.
Peramal itu tahu. Di dalam tasku ada sebilah belati.
Hari itu aku ingin membunuh lelaki itu. Sang Peramal.
Dia yang pernah membunuh ibuku.
untuk jejakubikel
Kujumpai dia di daerah pecinan kota tua itu. Memandangku tajam. Seperti tersihir begitu saja, aku pun mendekat.
“Mari, berikan tanganmu” dia meminta.
“Tidak. Aku tak mau diramal.”
Sekuat hati aku menolak, kucoba sembunyikan tanganku. Kukepal erat.
Dia memaksa lagi.
Semakin kuat aku menolak, mata peramal itu tajam memandangku.
Entah sihir apalagi. Kuberikan tanganku.
Tiba-tiba Peramal itu berteriak seperti ketakutan.
“Aaah, pergi...”
“Jangan lakukan itu, Nak”
Sekuat tenaga aku berlari meninggalkannya. Tak kuhiraukan pandangan orang-orang yang lewat.
Berlari saja hingga nyaris terputus nafas.
Peramal itu tahu. Di dalam tasku ada sebilah belati.
Hari itu aku ingin membunuh lelaki itu. Sang Peramal.
Dia yang pernah membunuh ibuku.
untuk jejakubikel
Wednesday, January 12, 2011
Senyum Bunda
Selesai bacaan novelku pagi ini. Penghilang jenuh setiap hari sembari menunggu dokter dan suntikan obat, di atas ranjang rumah sakit ini.
Pintu terbuka. Itu Bagas 18 tahun. Anakku. Kami berpelukan. Beruntung kakiku saja yang lumpuh.
Melepaskan diri, Bagas keluar ruangan.
Jeda waktu terdengar ketukan jendela kaca. Bagas dan balon berwarna kuning. Setelah mendapat perhatianku, dilepasnya semua.
Kembali dia masuk dan memelukku. Bercerita yang dilakukannya tadi.
“Kemarin kulihat pelangi tapi tak terlihat warna kuning .”
Aku menunggu.
“Kulepaskan tadi agar warna kuning menyempurnakan warna pelangi.Agar senyum Bunda selalu sempurna seperti lengkung dan indah warna pelangi.”
“Aku sayang Bunda.”
Kubalas sayangnya dengan bahasa isyarat juga, cara kami berkomunikasi.
untuk jejakubikel
Pintu terbuka. Itu Bagas 18 tahun. Anakku. Kami berpelukan. Beruntung kakiku saja yang lumpuh.
Melepaskan diri, Bagas keluar ruangan.
Jeda waktu terdengar ketukan jendela kaca. Bagas dan balon berwarna kuning. Setelah mendapat perhatianku, dilepasnya semua.
Kembali dia masuk dan memelukku. Bercerita yang dilakukannya tadi.
“Kemarin kulihat pelangi tapi tak terlihat warna kuning .”
Aku menunggu.
“Kulepaskan tadi agar warna kuning menyempurnakan warna pelangi.Agar senyum Bunda selalu sempurna seperti lengkung dan indah warna pelangi.”
“Aku sayang Bunda.”
Kubalas sayangnya dengan bahasa isyarat juga, cara kami berkomunikasi.
untuk jejakubikel
Monday, January 10, 2011
HITAM PUTIH
Sang Imam
Perempuan itu memasuki bilik pengakuan dan segera menutup pintu. Kini berdualah mereka. Dibalik sekat seorang lelaki berbaju putih panjang sedikit mengangkat pandangan ke balik sekat bilik kecil itu.
Menghela napas.
Perempuan itu lagi. Setelah semalam berhasil menemuinya. Dengan alasan konsultasi.
Tapi mata merayu, tubuh yang basah mengangkangkan iman sejeda membuat seorang Imam kembali menjadi manusia.
Sore ini menemuinya kembali dalam bilik pengakuan bersekat.
“Bapa, saya mau mengaku...”
****
Sang Ustad
Malam telah pekat. Musik dangdut masih keras berlagu mengiringi seorang perempuan nyaris tanpa penutup.
Berlenggok, bergoyang, bernyanyi, bahkan mendesah gelinjang.
Sesekali terlihat peluh mengalir masuk ke celah terdalam dibusung dada.
Sang Ustad resah duduk di kursi terdepan. Tersenyum dan menjawab kepada sebelah tamu juga. Mengangguk.
Mata terlempar ke adegan panggung, tadi tempat berceramah di perhelatan ini. Seingat seminggu berlalu, perempuan di panggung itu menemuinya di vila.
Merayu melontarkan semua auratnya.
****
Sang Pejabat
Terkejut.
Tamu rombongan memasuki ruang rapat besar.
Ada perempuan semampai, rambut indah terurai.
Harum. Cerdas. Sang pejabat melihatnya.
Tanpa terlihat resah, tersenyum kepada rombongan yang datang.
Bersalam, dan duduk.
Sang perempuan melempar senyum, kerling, kibas rambut halus. Melepaskan syal di leher yang membuka leher jenjang dan sedikit dada putih.
Cara yang sama seperti tadi malam saat memasuki kamarnya di hotel itu.
Gerah ruangan itu.
****
Perempuan #1
Hana memasuki bilik pengakuan. Hanya ini yang tersedia di gereja. Dan telah membaca sebuah nama di pintu siapa yang di dalam sana.
Gelisah. Apalagi jika mengingat malam itu.
Terpesona. Sosok yang suci, berwibawa dan bijaksana. Seperti yang diidamkan.
Menutup pintu.
Berlutut. Dari balik sekat.
Terdengar suara yang membuat ingin kembali di malam itu. Dalam desah di kepala.
“Bapa, saya mau mengaku...”
****
Perempuan #2
Peluh mengalir memasuki celah ruang dadanya.
Fitri nama perempuan itu.
Bergoyang mengikuti nyanyian di atas panggung.
Melabuh pandang ke arah kursi undangan. Malam seminggu lalu.
Lelaki itu adalah Sang Ustad itu.
Entah siapa yang menginginkan. Fitri hanya perlu datang ke vila itu.
Lima orang adiknya, serta ibu dan ayah tirinya membutuhkan uangnya daripada mengasihinya.
Makin berpeluh tanpa birahi.
****
Perempuan #3
Melly melempar rambut indahnya beserta kerling tajamnya.
Melly melihatnya gelisah.
Bukan tatapan menginginkan seperti semalam.
Bersama rombongan datang ke kota besar. Dia tahu, cantik dan cerdas.
Diinginkan setiap lelaki, bahkan untuk keberhasilan tender proyek.
Seperti tadi malam di kamar sang Pejabat itu.
Gerah.
Meski ruangan dengan pendingin.
Dilepasnya syal dari leher jenjangnya.
Satu gerakan tak mengundang jalang.
****
Kabut hitam dan panas.
Enam mahluk mendesis, berasap. Tanduk. Saling menatap tajam.
Seringai. Bukan senyuman.
Satu tugas selesai. Saling seringai. Berpisah begitu saja.
Tugas baru menanti.
Kabut putih, dingin, sejuk.
Sayap.
Enam senyuman tersungging.
Bukan seringai.
Saling peluk dan cium.
Tatapan yang teduh.
Satu tugas telah selesai.
Berpisah dengan ciuman, pelukan, dan lambaian tangan.
Menyambut tugas baru.
Perempuan itu memasuki bilik pengakuan dan segera menutup pintu. Kini berdualah mereka. Dibalik sekat seorang lelaki berbaju putih panjang sedikit mengangkat pandangan ke balik sekat bilik kecil itu.
Menghela napas.
Perempuan itu lagi. Setelah semalam berhasil menemuinya. Dengan alasan konsultasi.
Tapi mata merayu, tubuh yang basah mengangkangkan iman sejeda membuat seorang Imam kembali menjadi manusia.
Sore ini menemuinya kembali dalam bilik pengakuan bersekat.
“Bapa, saya mau mengaku...”
****
Sang Ustad
Malam telah pekat. Musik dangdut masih keras berlagu mengiringi seorang perempuan nyaris tanpa penutup.
Berlenggok, bergoyang, bernyanyi, bahkan mendesah gelinjang.
Sesekali terlihat peluh mengalir masuk ke celah terdalam dibusung dada.
Sang Ustad resah duduk di kursi terdepan. Tersenyum dan menjawab kepada sebelah tamu juga. Mengangguk.
Mata terlempar ke adegan panggung, tadi tempat berceramah di perhelatan ini. Seingat seminggu berlalu, perempuan di panggung itu menemuinya di vila.
Merayu melontarkan semua auratnya.
****
Sang Pejabat
Terkejut.
Tamu rombongan memasuki ruang rapat besar.
Ada perempuan semampai, rambut indah terurai.
Harum. Cerdas. Sang pejabat melihatnya.
Tanpa terlihat resah, tersenyum kepada rombongan yang datang.
Bersalam, dan duduk.
Sang perempuan melempar senyum, kerling, kibas rambut halus. Melepaskan syal di leher yang membuka leher jenjang dan sedikit dada putih.
Cara yang sama seperti tadi malam saat memasuki kamarnya di hotel itu.
Gerah ruangan itu.
****
Perempuan #1
Hana memasuki bilik pengakuan. Hanya ini yang tersedia di gereja. Dan telah membaca sebuah nama di pintu siapa yang di dalam sana.
Gelisah. Apalagi jika mengingat malam itu.
Terpesona. Sosok yang suci, berwibawa dan bijaksana. Seperti yang diidamkan.
Menutup pintu.
Berlutut. Dari balik sekat.
Terdengar suara yang membuat ingin kembali di malam itu. Dalam desah di kepala.
“Bapa, saya mau mengaku...”
****
Perempuan #2
Peluh mengalir memasuki celah ruang dadanya.
Fitri nama perempuan itu.
Bergoyang mengikuti nyanyian di atas panggung.
Melabuh pandang ke arah kursi undangan. Malam seminggu lalu.
Lelaki itu adalah Sang Ustad itu.
Entah siapa yang menginginkan. Fitri hanya perlu datang ke vila itu.
Lima orang adiknya, serta ibu dan ayah tirinya membutuhkan uangnya daripada mengasihinya.
Makin berpeluh tanpa birahi.
****
Perempuan #3
Melly melempar rambut indahnya beserta kerling tajamnya.
Melly melihatnya gelisah.
Bukan tatapan menginginkan seperti semalam.
Bersama rombongan datang ke kota besar. Dia tahu, cantik dan cerdas.
Diinginkan setiap lelaki, bahkan untuk keberhasilan tender proyek.
Seperti tadi malam di kamar sang Pejabat itu.
Gerah.
Meski ruangan dengan pendingin.
Dilepasnya syal dari leher jenjangnya.
Satu gerakan tak mengundang jalang.
****
Kabut hitam dan panas.
Enam mahluk mendesis, berasap. Tanduk. Saling menatap tajam.
Seringai. Bukan senyuman.
Satu tugas selesai. Saling seringai. Berpisah begitu saja.
Tugas baru menanti.
Kabut putih, dingin, sejuk.
Sayap.
Enam senyuman tersungging.
Bukan seringai.
Saling peluk dan cium.
Tatapan yang teduh.
Satu tugas telah selesai.
Berpisah dengan ciuman, pelukan, dan lambaian tangan.
Menyambut tugas baru.
Tuesday, January 4, 2011
IKHLAS
Tak ada nada sambung.
Dicobanya lagi. Tetap sama saja,
Dikirimnya sebuah pesan.
“Ran, kamu baik2 saja?”
Tak terkirim.
Raka bangkit dari duduk, digenggamnya hape itu. Berjalan mondar-mandir, pikiran tak terarah. Gelisah.
Layar televisi masih menayangkan berita gempa di DIY dan Jateng. Raka tahu ada Rani di Bantul. Meski Raka belum pernah mengunjungi bertemu lagi sejak 2 tahun lalu. Hanya sebuah nomer komunikasi saja.
Kembali Raka duduk. Menatap nanar televisi itu. Berulang menayangkan foto-foto yang miris. Rumah hancur, korban berjatuhan, penduduk panik.
Menghela panjang. Dicobanya lagi menekan nomer Rani. Masih sama.
“Rani, semoga kamu baik-baik saja...” dalam gumam Raka.
Seminggu berlalu, koran, televisi masih memberitakan gempa itu. Nama para korban pun di tampilkan. Raka pun selalu melihat. Tak ada nama Rani di sana.
Raka semakin gelisah. Dia tak mungkin ke Bantul mencari Rani. Hanya nomer yang dia miliki. Rani selalu menghindarinya. Bahkan untuk menerima maaf darinya.
Sesal yang dalam. Rindu. Takut. Kuatir.
Mendesah lagi.
“Rani, kamu dimana?”
“Andai kamu membalas pesanku saja...”
Dua minggu berlalu.
Dalam gelisah Raka mencoba kembali menghubungi Rani.
Terdengar nada sambung. Lama. Tak diterima
Senang tapi resah.
Sekali lagi.
Lama. Tak diterima.
Akhirnya sebuah pesan dikirim.
“Ran, aku mendengar gempa itu. Kamu baik-baik sajakah. Aku mencarimu. Aku ingin tahu kabarmu. Ran, jawablah. Maafkan aku.”
Terkirim.
Tapi belum terbalas.
****
Sebuah pesan masuk.
Rani membaca dan gemetar, menggugu. Ada pesan Raka.
Dibaca lagi.
Sesal dan rindu menyeruak di hati. Menangis.
Lama tak segera ditulis pesan. Hanya digenggam erat.
Sebuah pesan dibalas.
“Raka, aku baik, selamat dari bencana itu. Terima kasih sudah mencariku. Tetapi sebaiknya kita tidak usah berhubungan lagi, seperti pintamu 2 tahun lalu. Aku sudah memaafkanmu, Raka.”
Terkirim.
Air mata pun jatuh.
Sakit.
Tak sesakit kala mengetahui harus kehilangan sepasang kakinya. Tertimpa balok besar saat gempa itu.
Terbaring. Mendekap hape itu. Ikhlas.
untuk jejakubikel
Dicobanya lagi. Tetap sama saja,
Dikirimnya sebuah pesan.
“Ran, kamu baik2 saja?”
Tak terkirim.
Raka bangkit dari duduk, digenggamnya hape itu. Berjalan mondar-mandir, pikiran tak terarah. Gelisah.
Layar televisi masih menayangkan berita gempa di DIY dan Jateng. Raka tahu ada Rani di Bantul. Meski Raka belum pernah mengunjungi bertemu lagi sejak 2 tahun lalu. Hanya sebuah nomer komunikasi saja.
Kembali Raka duduk. Menatap nanar televisi itu. Berulang menayangkan foto-foto yang miris. Rumah hancur, korban berjatuhan, penduduk panik.
Menghela panjang. Dicobanya lagi menekan nomer Rani. Masih sama.
“Rani, semoga kamu baik-baik saja...” dalam gumam Raka.
Seminggu berlalu, koran, televisi masih memberitakan gempa itu. Nama para korban pun di tampilkan. Raka pun selalu melihat. Tak ada nama Rani di sana.
Raka semakin gelisah. Dia tak mungkin ke Bantul mencari Rani. Hanya nomer yang dia miliki. Rani selalu menghindarinya. Bahkan untuk menerima maaf darinya.
Sesal yang dalam. Rindu. Takut. Kuatir.
Mendesah lagi.
“Rani, kamu dimana?”
“Andai kamu membalas pesanku saja...”
Dua minggu berlalu.
Dalam gelisah Raka mencoba kembali menghubungi Rani.
Terdengar nada sambung. Lama. Tak diterima
Senang tapi resah.
Sekali lagi.
Lama. Tak diterima.
Akhirnya sebuah pesan dikirim.
“Ran, aku mendengar gempa itu. Kamu baik-baik sajakah. Aku mencarimu. Aku ingin tahu kabarmu. Ran, jawablah. Maafkan aku.”
Terkirim.
Tapi belum terbalas.
****
Sebuah pesan masuk.
Rani membaca dan gemetar, menggugu. Ada pesan Raka.
Dibaca lagi.
Sesal dan rindu menyeruak di hati. Menangis.
Lama tak segera ditulis pesan. Hanya digenggam erat.
Sebuah pesan dibalas.
“Raka, aku baik, selamat dari bencana itu. Terima kasih sudah mencariku. Tetapi sebaiknya kita tidak usah berhubungan lagi, seperti pintamu 2 tahun lalu. Aku sudah memaafkanmu, Raka.”
Terkirim.
Air mata pun jatuh.
Sakit.
Tak sesakit kala mengetahui harus kehilangan sepasang kakinya. Tertimpa balok besar saat gempa itu.
Terbaring. Mendekap hape itu. Ikhlas.
untuk jejakubikel