Wednesday, January 19, 2011

TERBACA

Laki-laki itu berkisar usia 70 tahunan.

Kujumpai dia di daerah pecinan kota tua itu. Memandangku tajam. Seperti tersihir begitu saja, aku pun mendekat. 

“Mari, berikan tanganmu” dia meminta.

“Tidak. Aku tak mau diramal.”

Sekuat hati aku menolak, kucoba sembunyikan tanganku. Kukepal erat.

Dia memaksa lagi.

Semakin kuat aku menolak, mata peramal itu tajam memandangku.

Entah sihir apalagi. Kuberikan tanganku.

Tiba-tiba Peramal itu berteriak  seperti ketakutan.

“Aaah, pergi...”

“Jangan lakukan itu, Nak”


Sekuat tenaga aku berlari meninggalkannya. Tak kuhiraukan pandangan orang-orang yang lewat.

Berlari saja hingga nyaris terputus nafas.

Peramal itu tahu. Di dalam tasku ada sebilah belati.

Hari itu aku ingin membunuh lelaki itu. Sang Peramal.


Dia yang pernah membunuh ibuku.



untuk jejakubikel

No comments:

Post a Comment