Tuesday, January 4, 2011

IKHLAS

Tak ada nada sambung.
Dicobanya lagi. Tetap sama saja,
Dikirimnya sebuah pesan.

“Ran, kamu baik2 saja?”

Tak terkirim.

Raka bangkit dari duduk, digenggamnya hape itu. Berjalan mondar-mandir, pikiran tak terarah. Gelisah.

Layar televisi masih menayangkan berita gempa di DIY dan Jateng. Raka tahu ada Rani di Bantul. Meski Raka belum pernah mengunjungi bertemu lagi sejak 2 tahun lalu. Hanya sebuah nomer komunikasi saja.

Kembali Raka duduk. Menatap nanar televisi itu. Berulang menayangkan foto-foto yang miris. Rumah hancur, korban berjatuhan, penduduk panik.

Menghela panjang. Dicobanya lagi menekan nomer Rani. Masih sama.

“Rani, semoga kamu baik-baik saja...” dalam gumam Raka.

Seminggu berlalu, koran, televisi masih memberitakan gempa itu. Nama para korban pun di tampilkan. Raka pun selalu melihat. Tak ada nama Rani di sana.

Raka semakin gelisah. Dia tak mungkin ke Bantul mencari Rani. Hanya nomer yang dia miliki. Rani selalu menghindarinya. Bahkan untuk menerima maaf darinya.

Sesal yang dalam. Rindu. Takut. Kuatir.

Mendesah lagi.

“Rani, kamu dimana?”

“Andai kamu membalas pesanku saja...”


Dua minggu berlalu.

Dalam gelisah Raka mencoba kembali menghubungi Rani.


Terdengar nada sambung. Lama. Tak diterima
Senang tapi resah.

Sekali lagi.

Lama. Tak diterima.
Akhirnya sebuah pesan dikirim.

“Ran, aku mendengar gempa itu. Kamu baik-baik sajakah. Aku mencarimu. Aku ingin tahu kabarmu. Ran, jawablah. Maafkan aku.”

Terkirim.

Tapi belum terbalas.


****

Sebuah pesan masuk.

Rani membaca dan gemetar, menggugu. Ada pesan Raka.

Dibaca lagi.


Sesal dan rindu menyeruak di hati. Menangis.

Lama tak segera ditulis pesan. Hanya digenggam erat.


Sebuah pesan dibalas.

“Raka, aku baik, selamat dari bencana itu. Terima kasih sudah mencariku. Tetapi sebaiknya kita tidak usah berhubungan lagi, seperti pintamu 2 tahun lalu. Aku sudah memaafkanmu, Raka.”

Terkirim.

Air mata pun jatuh.

Sakit.

Tak sesakit kala mengetahui harus kehilangan sepasang kakinya. Tertimpa balok besar saat gempa itu.


Terbaring. Mendekap hape itu. Ikhlas.


untuk jejakubikel

No comments:

Post a Comment