Thursday, August 18, 2011

akhiri saja


Om Yoris. Demikian mereka memanggil adik iparku. Dia adalah adik yang bukan sebenarnya dari suamiku. Yoris adalah anak angkat mertuaku yang mereka temukan didepan pintu rumah 38 tahun lalu, hingga kini menjadi adik bagi Indra, suamiku.

Masih ada satu lagi adik iparku perempuan, kali ini adik kandung suamiku. Anin namanya, usia 37 tahun, memiliki seorang putri yang cantik, Kania usia 11 tahun, sebaya dengan putraku Abi.

Sebenarnya satu rahasia besar di keluarga kami. Kania adalah anak hubungan tak dikehendaki Yoris dan Anin, tetapi Anin tak pernah mau dinikahkan dengan Yoris. Hingga kini kami pun masih menyimpan rahasia ini bahkan kepada Kania sebagai anak kandung mereka. Sampai kapan kami menyimpan hanya Tuhan yang menghendaki.

Yoris berusia 42 tahun, terbaring di ruang ICU. Sakit parah. Entah namanya. Saat ini kritis dan tak pernah sadar dari koma yang panjang. Hampir satu bulan. Hanya aku dan Indra saja bergantian menjaganya. Pernah kami meminta Anin untuk ikut berjaga. Ani selalu menolak. Selalu disertai marah.


Hari itu kami menghadap dokter. Kekalutan kami yang lalu, ketika tim dokter menyatakan menyerah terhadap Yoris. Bahkan menyarankan euthanasia. Satu kata yang ingin mengakhiri segalanya.

***

“Tidak. Aku bilang tidak. Aku tak bisa menjaga mas Yoris, mbak tentu mengerti,” Anin berkata keras kepadaku. Anin yang biasanya lemah lembut.

“Sehari saja Anin. Satu hari. Aku dan mas Indra sudah tak bisa menyesuaikan jadwal.” Aku masih merayunya. “Aku mengerti Anin, kamu tak perlu banyak bercakap, diam sajalah, dalam koma dia tetap tahu jika ada orang lain bersamanya. Anin, dia masih mengharapmu.”

“Andai kamu tahu mbak, yang lebih menyakitkan.” Anin membuang hembus kekesalan dan meninggalkanku.

Aku menghela menahan kecewa.

“Sudahlah jika dia tak mau, tak perlu kita memaksanya,” nada kecewa juga samar terdengar dari mas Indra. “Nanti aku beritahu dia bahwa Yoris butuh persetujuan dari kelurga untuk euthanasia. Kasihan Yoris.”

Aku hanya mengangguk selepas aduanku kepada mas Indra.

****

Dua minggu berlalu. Yoris pun belum menampakkan kemajuan yang terbaik. Dokter berulang kali telah mengingatkan keputusan kami. Mas Indra masih tak tahu harus bagaimana. Anin? Saat ini baginya mungkin lebih baik Yoris mati.

“Bude, om Yoris tak kan pernah sembuhkah? Kapan dia akan meninggal?” Kania menggelendot  di lenganku sambil bertanya. Wajahnya datar, seperti hilang kekanakannya.

“Bude tidak tahu, Kania. Mengapa kamu sekian lama tak pernah mau ikut bersama Bude menjaga om Yoris?
Bukankah dia selalu membelikanmu banyak mainan selama ini, dia baik kan Kania.” Aku menyimpan terkejut.

Tatap mata Kania berubah. Aku tak mengerti.

“Ada apa Kania? Mau cerita sama Bude?”

“Bude janji enggak marah?” Suara Kania makin berbisik. Aku mengangguk dan berjanji padanya.

“Bude, tahun lalu ulang tahun Kania. Selesai pesta, Om Yoris menggendong Kania, katanya mau bacain cerita dan kelonin Kania. Tapi Bude, Om Yoris itu mematikan lampu, dan dia nakal, melepas piamaku, lalu meremas dada, perutku. Sakit sekali Bude, ketika jari Om Yoris berusaha masuk di tempat pipisku.”

Seketika aku merasa gelap. Kuangkat wajah. Kulihat Anin dengan mata seperti sebilah pisau tajam.

“Jangan marah Bude, Mama sudah tahu dan sangat marah pada Om Yoris.”

Semua makin gelap. Aku tak tahu lagi.


untuk jejakubikel

Monday, June 27, 2011

Aku Rindu

Suara panggilan mesra dari sang Kuasa berkumandang lagi senja itu.

Aku masih menunggu Indra. Pulang dan membersihkan diri segera. Mengambilku dan mengibaskan. Menggelar. Ada harum mulutnya menguar. Berbisik lembut. Sujud doa syukur menjawab panggilanNya. Elok bercahaya di atasku.

Senja telah hilang. Indra belum juga pulang. “Mungkin nanti malam, dia akan datang.” Angin malam berhembus membelai dari celah jendela kamar ini.

Hari berganti. Panggilan subuh berkumandang lagi. “Ah, Indra belum kembali. Seminggu tanpa kucium lembut harumnya. Aku rindu.”

Siang menyeruak. Dua orang memasuki kamar ini. Ryan, adik Indra, dan ibunya.
“Lihat Ibu, ini sajadah Indra. Kamar Indra akan kubersihkan saja. Sajadah ini untukku saja. Indra takkan pernah memerlukan lagi.”

untuk jejakubikel

Thursday, June 23, 2011

Saksi Beringin

by Te@embunbeningpagi


Berempat kami tumbuh bersama. Terpisahkan jarak dan jeda. Waktu dan kisah berbeda.

Orangtua kami? Tak pernah kami mengenalnya. Sejak kecil kami berempat bersaudara. Ketika kami mulai tumbuh dan kuat. Segera kami dipindahkan.

Aku di daerah pertigaan Kronggahan. Dua saudara kami di daerah pertigaan Cebongan Utara dan Cebongan Selatan. Terakhir bertempat di perempatan Seyegan.

Jaman terus berubah dengan sejuta kisah tentang kehidupan. Kelahiran hingga kematian. Panas, hujan, angin ribut, gempa bumi, hujan abu. Perang dan kemerdekaan. Panen dan kegagalan.

Kamilah saksi mereka dan kehidupan yang terus bertumbuh dan menua.

Hanya kepada angin berhembus kami saling sampaikan kabar. Suka dan duka. Menitipkan sebuah pelukan kerinduan. Hingga kelak berakhir tugas kami di tanah ini.

untuk jejakubikel

LAYAK

Tuan yang terhormat,

Sekiranya Tuan dapat membaca pesan ini, tentu pada saat itu aku sudah tak berada di sini lagi.

Aku budakmu. Apa pun perintahmu kuturuti. Kuanggap saat itu engkau sangat sayang padaku. Meski tanpa belaian, elusan, bahkan sebuah mandi yang harum. Hanya sepiring nasi basi setiap hari.

Kan kucari seekor tikus, hama bagi sawah kita. Seekor ular pun kulawan agar si Kecil tak digigit saat bermain.

Tak pantas aku mengeluh.

Kukais tanah halaman. Kubuat ceruk melingkar rumahmu. Hujan semakin deras. Tadi kulihat air sungai mulai naik. Semoga banjir tak datang tiba-tiba sebelum selesai kubuat.

Kan kujaga kalian dengan segenap sayangku dan sekuat tubuhku ini.


Seekor budakmu
yang layak disebut ANJING.

Wednesday, June 22, 2011

Dasar Bocah

“Nak, jangan main di luar. Berbahaya. Tunggu Emak di sini,” mendesis sayang si Emak pada Bocah Ular dengan menggesekkan tubuhnya.

“Iya Mak, aku tunggu di sini,” membalas sayang.

Si Emak pun keluar mencari makan.

“Meong... ” Si Hitam, seekor anak kucing keluar dari rumah.

Bocah Ular pun tanggap. Mendesis keluar sarang. Si Hitam melihatnya, begitu juga Bocah Ular itu.

Mendesis, mengeong. Berulang kali.

HAP!

Leher Bocah Ular di mulut Si Hitam, dan tubuh Si Hitam terbelit Bocah Ular.

Si Emak yang baru kembali mendesis terkejut. Segera mereka saling melepaskan diri. Si Hitam kembali ke rumah.

“Emak jangan marah... itu hanya bercanda. Dia teman bermainku selama Emak pergi.”



untuk jejakubikel

Sunday, June 19, 2011

Jejakubikel dan Ketagihanku


Cubiculum Notatum
Kata apa itu? Dari bahasa negara mana? Apa arti sebenarnya? Semua berputar di kepalaku, ketika Daniel dan Mumu menjelaskan tentang Cubiculum Notatum pada Java Mini Gath di Yogyakarta, Oktober 2010.

Akhirnya hari itu yang aku tahu bahwa akan ada bacaan nanti diwaktu senggang di kantor, lumayan lah...

Hanya saja, satu kesalahanku. Cubiculum Notatum itu alamatnya apa ya? Aku lupa mencatat. Dan keputusanku hari itu, LUPAKAN SAJA.

Mantra dan Sihir
Mungkin sedang berjodoh. Hari itu aku menemukan kicauan Daniel di linimasaku tentang sebuah tantangan menulis.

Whooolaaa.... jejakubikel.wordpress.com

Kumulai kunjungan pertamaku. Seperti dimantrai dan juga disihir. Sudah ada banyak bacaan yang bagus. 

Kutemukan pula  tantangan Pilihan Lagu Inspirasi, juga Dongeng Inspirasi, Film Inspirasi. Semua karya yang sudah tayang kubaca dengan lahap, habis.

Wow, banyak karya hebat dan penilis hebat.

Tantangan Pertama
Hmmm... mungkin akan kucoba dengan Pilihan Lagu Inspirasi.

Saat sulit dimulai. Kucoba berulang kali membaca petunjuk Rendra. Sumpah. Aku bingung.

“Bukan Perempuanmu Lagi” inspired by Selalu Cinta – Kotak adalah karya pertamaku di jejakubikel.  

Ketagihan
Belum sempurna? Mungkin. Tetapi setelah karya pertama aku makin ketagihan untuk menulis dan mengikuti tantangan setiap hari.

Makin sulit. Iya. Aku pun kewalahan jika harus kuikuti setiap hari.

Ide selalu menghampiri dan berputar mendesak menjadi sebuah gelisah yang harus dibebaskan.

Komentar
Harta Terindah bagiku sebagai penulis pemula. Komentar pujian bagiku sebagai hadiah untuk karya yang baik. Komentar pedas bagiku lecutan untuk membuat karya yang lebih baik.

Sebuah karya tanpa komentar? Sebuah karya yang tak dianggap. Semakin memicuku untuk membuktikan membuat karya yang layak.

Komentarku. Aku jarang berkomentar pada karya-karya Cubinoters. Bukan aku tak membaca. Aku terlalu takjub dengan karya mereka. LUAR BIASA.

Terima kasih untuk para Cubifans dan Cubilovers.

Daniel, Mumu, dan Rendra
Terima kasih telah memberi kesempatan untuk belajar.

Kini kubikelku makin berwarna.

Ada hari-hari bersama kalian.

Ada jejakubikel.com

Ada Surga Kecil Menulis

Ada tulisan yang telah dimulai dan harus diselesaikan.


~dalam kubikel, 18 Juni 2011~

Friday, June 10, 2011

Transaksi

by Te@embunbeningpagi

Lidya menghembuskan asap yang mengepul. Duduk di sofa merah. Posisi mengangkang lepas. Koper terbuka di atas meja berisi segepok bundel uang. Nilainya lebih dari harga-harga laku tubuhnya dimasa lalu. Perempuan anggun duduk hati-hati di sofa berhadapan.

“Cukupkah?” Perempuan anggun itu bertanya. “Kapan aku bisa membawanya?”

Asap tebal dari bibir merah Lidya makin menyesaki ruang itu. Seorang centheng membawa masuk keranjang besar.

“Bawalah,” kata Lidya. “Sampaikan pada Frid, suamimu, aku juga mencintainya. Ibu bayi itu sudah mati saat melahirkan. Terlalu muda. Dan Frid, pelanggan terbaiknya di sini.”

Melengos. Tanpa kata. Perempuan itu berlalu dengan keranjangnya. Kini juga anaknya, setelah sekian tahun perkawinan tanpa keturunan. Dibeli dari seorang germo.

Published with Blogger-droid v1.7.1

Thursday, June 9, 2011

Kubunuh Mereka

by Te@embunbeningpagi

Mbah Tardjo yang tinggal di kampung sebelah itu seorang veteran perang. Mengingat usia Beliau 83 tahun pastilah dia ikut berperang pada jaman penjajahan.

Beliau tinggal sendiri. Istrinya sudah lama meninggal sejak jaman penjajahan itu. Hingga kini dia tak menikah lagi tanpa anak . Tak ada yang merawat lagi. Hanya kebaikan seorang Mantri secara rutin mengunjunginya.

Akhir-akhir ini kesehatan Mbah Tardjo menurun. Beliau sekarang lebih sering mengomel panjang. Berbicara sendiri. Sepertinya kesadaran jiwa Mbah Tardjo makin menurun.

Kasihan. Dia pahlawan perang, banyak membunuh musuh.

Aku membunuh penjajah itu, juga istriku. Bukan orang itu yang hendak memperkosanya, tapi mereka yang berbohong.”

Gosip pun beredar. Mbah Tardjo hampir tak lagi dianggap seorang pahlawan.
Published with Blogger-droid v1.7.0

Friday, June 3, 2011

Telah Memilih

by Te@embunbeningpagi “Cindy!” sebuah teriakan keras memanggil dari dalam mobil yang melambat. Tersenyum dan melambai. Segera memasuki mobil yang telah dibukakan pintunya. Cindy dan seorang pria melaju menembus nafsu satu malam. *** Hari berganti. Siang yang penat seusai kuliah yang padat. Cindy bersiap untuk satu malam lagi. Pelanggan telah menanti. Rambut berwarna terpasang.  Lentik bulu mata buatan. Bibir memerah.  Rok  menutup sekedarnya. Dada penuh. Helaan nafas. Entah. Apakah sebuah doa memohon rejeki masih pantas dibisikkan. Perlahan memasuki  kamar sebelah. Dicium seorang perempuan tertidur. Ibunya sedang sakit.  Ranjang berikut, bocah perempuan 2 tahun, anaknya. *** Cindy, 22 tahun, asli perempuan. Memilih berdandan sebagai waria di pinggir jalan, karena lebih laku. Demi Ibu yang sakit dan anaknya.
Published with Blogger-droid v1.6.9

Monday, May 23, 2011

Aku yang Salah

“Yakin? Ini denah yang benar?” tanya Berto dengan ragu-ragu kepada Ega.

Mereka mendapat pekerjaan memotret acara perkawinan dan kini sedang menuju lokasi berbekal denah yang diberikan.

“Tapi rasanya kita dari tadi hanya putar kembali,  mengikuti lagi arah yang benar sesuai denah ini. Sebelah depan kita kan utara. Kita ada di sini. Seharusnya perjalanan pertama adalah ke kanan dulu. Lurus. Selanjutnya melewati jembatan. Ini sudah benar. Semestinya rumah yang punya hajat sudah terlewat. Tapi tidak ada tanda-tanda seperti tenda?” Kata Berto panjang lebar pada Ega yang mulai terlihat gugup.

“Berto,  maaf aku yang salah. Denah ini sudah benar. Tapi acara itu bukan hari ini, tapi dua minggu lagi.” Ega terbata berusaha menjelaskan.

untuk jejakubikel

Awal dan Akhir

Seratus hari sejak kepergian Anna, istrinya untuk selama-lamanya.  Mr. Andrew, suaminya atau biasa dipanggil Pak Dre di depan makam istrinya. Seikat mawar putih dan lilin yang hampir habis selepas untai doa rosario bagi Anna.

Sebelum meninggal,  Anna mengalami sakit kanker ganas dan telah menyebar. Pak Dre pun tahu, waktu Anna hanya sebentar. Ditemaninya Anna, disisir lembut rambut yang hampir habis. Seakan tak ingin melewatkan satu hari pun tanpa di sisi Anna. Pekerjaan sebagai arsitek pun telah dilepasnya.

Pak Dre telah merancang sebuah rumah makam  bagi istri dan dirinya kelak. Suatu saat jika waktunya tiba, sebuah rumah makam bak tempat tidur besar seperti saat memadu kasih, menguraikan segala cinta. Awal dan Akhir.

untuk jejakubikel

Friday, May 20, 2011

Lampu Aladin

“Bunda, belikan lampu aladin, seperti gambar buku ini,” Ebe kecil berteriak sambil menunjukkan sebuah gambar di buku dongengnya.

Bunda hanya tersenyum memandang penuh kasih pada Ebe, buah hati semata wayang.

“Ebe, ingin punya lampu Aladin?” Tanya Bunda sambil melihat gambar pada buku dongeng itu.

Ebe mengangguk. Bunda geli melihat pandangan Ebe.

“Jika sudah punya lampu Aladin, lalu digosok, dan wholaaa... keluar jin biru, Ebe punya permintaan apa?” kata Bunda.

“Tiga permintaan ya Bunda, seperti Aladin?” Bunda mengiyakan.

Ebe diam, berpikir. Bunda makin gemas melihatnya.

“Tiga ya...” bergumam. “Bunda jangan marah ya...? Janji?” Bunda kembali mengangguk.

“Satu... Ebe ingin berjumpa Ayah, dua... Ebe ingin punya Ayah, tiga... Ebe ingin tahu siapa Ayah....”


untuk jejakubikel

Lebih Dulu

Ada satu rahasia yang disimpan rapat oleh Ezra.
Rahasia yang ditutup rapat sejak masih usia kanak-kanak bahkan orangtua dan para kakaknya pun tak pernah tahu rahasia ini.
Ezra juga tak pernah berniat membuka rahasia itu, bahkan kelak nanti pada calon suami, Tosa yang akan segera dinikahinya.
Mistar itu pun masih tersimpan rapat, serapat rahasia yang ada pada Ezra.

****
Ada satu rahasia yang disimpan rapat oleh Tosa.
Sebilah bekas luka jahit di kepalanya. Kekalahan dan dendam Tosa.
Rahasia masa kanak-kanak lalu, suatu pertengkaran kecil dengan Ezra. Berebut mistar.
Malam Pertama. Saat pembalasan.

****
Ezra memandangi mistar dengan seringainya.
Saat Malam Pertama takkan mendapatkan Ezra yang pertama.
Sang Mistar mendapatkan  lebih dulu.

untuk jejakubikel

Wednesday, April 6, 2011

TAKDIR

“Aku benci boneka ini.”

Dini melempar boneka anak perempuan. Raut wajahnya penuh kebencian, mata bocah itu menyala penuh dendam. Ina, mamanya seperti tak terkejut melihat nyala merah kemarahan Dini. Dipungutnya boneka anak perempuan itu, dirapikan gaunnya yang berwarna merah, serta rambutnya yang berwarna keemasan terurai panjang, Bulu matanya lentik serta bisa membuka dan mengatup. Ina juga membetulkan letak kepala serta tangan dan kaki, diputar sedemikian rupa. Rapi. Dini masih mengamati Ina yang memperbaiki boneka yang dibencinya itu. Lalu Ina memberikan boneka yang telah rapi kepada Dini yang masih menyalang merah. Dini menerima tanpa ekspresi. Pergi.

Ina hanya menghela nafas. Teringat 4 tahun lalu, bocah itu ditinggalkan di depan pintu rumahnya. Hujan yang deras, petir menyambar, bersahutan dengan tangis seorang bocah perempuan sedang menggendong boneka. Matanya tajam merah, badannya panas. Ina yang menemukannya segera memeluk dan menggendong.
Seolah memerintah, gadis kecil itu berhenti menangis dan mengacungkan bonekanya ke atas, seketika hujan dan petir berhenti. Ina hanya menyimpan semua ini dalam hati dan kelak. Ada sesuatu pada diri gadis kecil ini. Ina terusik dan berjanji menyayanginya seperti anaknya sendiri.

***

“Tidak. Aku tak mau ada sepasang anak kecil menjadi pendamping di pelaminanku nanti. Merepotkan!” Dini berteriak kepada Ina. Hanya napas panjang. Sempat dilihatnya lagi sorot nyalang memerah dari mata Dini. Sungguh-sungguh marah.

Semua belum berubah, kasih sayang yang dilimpahkan dengan sabar dan tulus, tak dapat melunakkan hati Dini jika sedang tinggi peringainya. Ada saja yang tidak dimaui dengan segera. Ina pun pernah menemukan boneka Dini rusak, kepala yang dipuntir, dan dengan rambut keemasan dijambak dan dibentur-benturkan ke dinding. Dini menangis keras.

Sekali lagi kesabaran Ina yang mencoba menenangkan Dini, tak selalu berhasil. Tapi Ina sangat sayang kepada anak semata wayangnya ini meski bukan anak kandungnya. Entah siapakah ibu kandungnya. Ina tak pernah berusaha mencari tahu.

Hari itu tibalah jenjang Ina sebagai orangtua, dan jenjang Dini menuju tahap dewasa selanjutnya. “Semoga pernikahan ini menyelamatkan hidup Dini. Kasih sayang Anton semoga sabar dan berlimpah,” ada titik air dan doa di sudut mata seorang ibu.

***

“Dini, jangan lagi kau sakiti dirimu sayang,” Anton berusaha sabar, telah dua kali dalam 2 tahun pernikahannya menemukan test pack yang dibuang. Semuanya bergaris dua merah, tapi Dini selalu menggugurkan kandungannya, seperti tak sengaja. Anton tahu. Kali ini dia tak mau kali ketiga gagal lagi. “Sudah berapa bulan sayang?”

“Tiga bulan,” dingin jawab Dini. Matanya memerah. Anton tak tahu.

***

“Mama, ini sudah yang ketiga, aku tak mau menyakiti Dini juga calon anakku,” Anton melaporkan kepada Ina perbuatan Dini.

Sedih. Ina juga baru mengetahui kegagalan itu. Ina masih tak mengerti Dini begitu membenci anak kecil, apalagi jika anak kecil itu menangis, jika Dini tahu pasti akan semakin disakiti.

***

Suatu sore Anton dan Ina sibuk, hari itu mereka merencanakan sesuatu untuk menyelamatkan Dini serta calon bayi mereka, sebelum semuanya semakin menjadi.

“Tidaaak Mama, aku tidak mau, tolong mama, aku janji Mama, Anton tolong aku,” Ina tak mempedulikan raungan Dini. Sekuat tenaga pula mereka membawa Dini ke halaman belakang rumah, ada sebuah gubuk. Di sana Dini akan tinggal.

Terpasung.

Keputusan yang terbaik yang diambil demi kebaikan semua. Pintu telah tertutup. Raungan dan teriakan minta tolong masih terdengar. Ina melihat lagi sorot mata merah itu.

***

Ina panjang menghela, malam ini saatnya. Dini tiba waktunya. Anton telah pergi meninggalkan mereka. Hanya Ina yang merawat Dini seorang diri.

Hujan deras, angin menderu, petir menyambar Ina telah berada di gubuk Dini. Dia sendiri yang akan menolong kelahiran itu. Dini mulai kesakitan, meraung berteriak tak pernah ada lelah. Satu yang dipanggilnya Mama. Dini masih mengingat Ina adalah mamanya. Ina mencoba kuat, sabar menenangkan Dini.

“Mamaaaaaaa….” teriakan terakhir Dini bersamaan dengan sang bayi perempuan. Petir makin menggelegar.

Disambutnya bayi itu, segera diselimuti. Dini terkulai tangan dan kakinya masih terpasung. Ina menyadari Dini telah pergi seperti menyerahkan sebuah nyawa kepada anaknya.

Bayi perempuan mungil itu dipeluknya, digendongnya. Ditimangnya. Tiba-tiba Ina melihat sorot memerah dari mata bayi itu.

“Jangan lagi… jangan lagi….” Ina berlari keluar dalam derasnya hujan, tanpa henti sepanjang jalan sepi malam itu. Hingga kelelahan dia berhenti di suatu rumah tanpa pikir lagi, diletakan begitu saja bayi itu. Ina pun melanjutkan pelariannya.

“Semoga kelak kamu menjadi anak yang baik,” sesisip doa Ina



untuk jejakubikel

Sunday, April 3, 2011

Pulang


Bapak Ibu, aku pulang....

Masih 5-6 jam lagi perjalanan ini kembali dimulai. Wiwik menghela nafas panjang. Baru saja menempati bangku kereta api pagi ini yang akan membawanya. Pulang.

Hampir  tujuh tahun sejak kepergiannya untuk membebaskan gelisah diri yang terus mendesak. Tanpa pamit Wiwik pergi meninggalkan orangtuanya dan rumah yang telah melindunginya sekian lama.

Pergi ke kota yang akan ditinggalkannya ini,  tanpa bekal uang yang cukup, hanya sebuah alamat dan nomer telepon seseorang yang telah berjanji untuk membebaskannya dari gelisah itu. Indra.

Seseorang itu bernama Indra, sosok yang dikenalnya lewat sebuah iklan lowongan kerja di koran. Mencoba melamar, dan dijawab oleh Indra, yang bekerja sebagai HRD di perusahaan itu. Wiwik akan pergi menemuinya meski belum pernah melihatnya.

Indra sungguh-sungguh memenuhi janji, hingga satu setengah tahun saling mengenal Wiwik pun rela satu tempat tinggal bersamanya. Meski tanpa ikatan pernikahan. Mereka saling membutuhkan dan itu cukup. Hidup memang keras di kota ini, Indra sebenarnya telah memiliki keluarga yang bahagia, tapi Indra masih menginginkan Wiwik. 

Wiwik tak pernah menuntut Indra. Dia hanya butuh pembebasan gelisah dirinya, sebuah pembuktian cita-cita kepada orangtuanya.

Bapak Ibu, aku rindu...

Kereta telah berjalan 2 jam lalu. Untung saja bangku sebelah tak berpenumpang. Gerbong ini sepi, tak penuh, bukan musim libur. Menghela nafas lagi, melanjutkan bayangan kelu kerinduan.

Bagi seorang yang tak pernah pulang 7 tahun itu waktu yang sangat lama untuk melewatkan kenangan, bahkan sebuah restu tiap tahun dari orangtua. Wiwik memang tak pernah pulang. Ada banyak alasan yang menghentikan semua keinginan pulangnya. Jika itu alasan uang, mungkin sedikit benar, bagi Wiwik takkan pernah cukup, meski bagi beberapa orang uang yang dimiliki Wiwik saat ini sangat cukup untuk bekal pulang.

Alasan pembuktian sebuah cita-cita mungkin tidak juga, toh Wiwik kini menjabat di bagian penting dari perusahaan itu.

Mungkin Indra sebagai alasan. Hubungannya dengan Indra adalah sebuah kegelisahan baru yang ingin ditutupinya. Setelah Indra meninggal setahun lalu, Wiwik baru menyadari bahwa sesungguhnya dia mencintai Indra.

Masih jelas tergambar saat menerima berita kepergian Indra. Ditutupnya pintu kamar, gelap tanpa lampu, seharian menangis tanpa suara, hingga sakit memeluk erat di hati. Dan keesokannya berkerudung hitam, mengenakan kacamata hitam, Wiwik ke tempat pemakaman Indra. Tanpa terlihat, dia melihat istri Indra dan 2 anak mereka. Wiwik menangis diam bersama mereka dari kejauhan. Lirih mengucapkan selamat jalan kepada Indra.

Kembali menghela nafas.

Dua jam lagi akan tiba.  Wiwik kelelahan dalam kesedihan dan memutuskan untuk tidur. Perjalanan masih panjang.

Ibu, aku memanggilmu dalam rinduku...

Menggeliat. Wiwik bangun dari kelelahan. Sebentar lagi kereta api akan tiba di stasiun Tugu. Wiwik pun bersiap, mengemasi bawaan. Menurut Harno sahabatnya dari desa, perjalanan Wiwik diteruskan dengan bis TransJogja menuju terminal Jombor.

Kini sudah ada bis TransJogja. Wiwik telah melewatkan banyak hal. Bahkan bencana gempa dan letusan gunung pun hanya dibacanya dari koran nasional. Tanpa ada keinginan pulang.

Kereta api telah tiba. Wiwik mencoba mencari halte yang dimaksud Harno, dia mendapatkan dan beruntung jalur bis yang dimaksud tepat waktu. Nyaman.

Ibu telah meninggal, 3 tahun setelah Wiwik meninggalkan desa itu. Harno yang memberi kabar, dan juga memohonnya untuk pulang. “Kasihan Bapak,” katanya kepada Wiwik. Bersikeras. Entah mengapa dia selalu saja menahan keinginan untuk pulang.

“Ibu, aku juga rindu tapi aku tak sanggup pulang dan bersujud mencium kaki ibu. Aku terlalu kotor dan tak layak sebagai anak Ibu,” lirih dalam hati.

Aku pulang....

Bis TransJogja telah sampai di terminal Jombor. Wiwik pun telah keluar dari pintu terminal itu. Hari semakin sore.

“Den Wiwik?” sebuah suara dari andong yang tepat berhenti di depannya.

“Pakde Tarjo?” Wiwik mengenali laki-laki tua didalam andong itu. Dia bapaknya Harno, sahabatnya.

“Naik Den, saya antar. Harno memberitahu saya bahwa den Wiwik akan pulang,” Pakde Tarjo berucap dalam bahasa jawa yang halus. Wiwik pun segera naik.

“Den, saya ikut berbela sungkawa ya, Bapak den Wiwik meski sudah hampir 40 hari lalu.” Wiwik hanya terkesiap. Dia sudah tahu Bapak telah meninggal, tapi ucapan bela sungkawa dari Pakde Tarjo seolah membuka duka Wiwik yang dikubur.

“Terima kasih Pakde. Maaf sudah merepotkan Pakde dan Bude Tarjo, juga Harno. Oya, Pakde Bude dapat sungkem dari Harno,” Wiwik berkata juga dalam bahasa Jawa halus.

Perjalanan masih 30 menit lagi. Sebentar lagi dia pulang. Andong Pakde Tarjo yang mengantarkan ke rumahnya.

Dusun Cimpling. Tinggal sedikit lagi jarak yang membawanya. Rumahnya sudah terlihat. Kecil di tengah hamparan sawah yang menguning. Rumahnya masih sendirian, tetangga terdekat hanya Pakde Tarjo, itu pun berjarak hampir 150 m. Puncak gunung Merapi masih terlihat. Cantik.

“Hoooop...”Pak Tarjo menghentikan andongnya. Wiwik segera turun dan segera mengucap teri ma kasih.

“Den Wiwik, tidak apa-apa sendirian? Nanti malam biar simboknya Harno yang menemani, agar besok dapat membantu persiapan 40 hari Bapak ya.”

“Iya Pakde, terima kasih.”

Pakde Tarjo segera berpamitan dan berbalik kembali ke rumah.

Wiwik memandangi rumah kecilnya. Berkelebatan semua bayang kenangan masa kecil, masa keras kepalanya. Memasuki rumah seperti tersedot dalam arus lorong waktu. Ditelusurinya setiap ruang, membelai tiap dinding. Disentuhnya pigura foto Bapak dan Ibunya. Air mata yang tertahan, menggenang mengalir dalam kerinduan.  

“Andai saja aku pulang sebelum semuanya pergi, pasti aku bersujud memohon restu. Andai saat itu...”

Suara Ilahi memanggil dari kejauhan. Wiwik bergegas mengambil air Wudhu. Di tengah ruangan rumah dibentang alas. Sholat yang pertama ketika dia kembali ke rumah ini. Ada doa kerinduan bagi Bapak Ibu, memohon ampun. Juga bagi Indra. Cinta yang tak dimiliki.

“Bapak Ibu, Wiwik sudah pulang.”

untuk jejakubikel