by te@embunbeningpagi
Pak Yoris. Beliau salah satu manajer di kantor kami, tempat aku bekerja. Lebih sering kami memanggil beliau “Papi”.
Asal usul panggilan “PAPI” ini karena seringnya beliau menerima telpon pribadi dari sang istri. Posesif? Kami juga tidak tahu. Itu hanya dugaan dan gosip seru kami diantara para karyawan.
Pak Yoris ini bukan manajer divisi kami. Beliau adalah Manajer Divisi Finance dan Accounting merangkap HRD, merangkap General Affair. Mentereng ya. Aku sendiri berada di divisi Marketing. Bersama 6 orang lainnya.
Mas Heri, kami memanggilnya. Beliau manajer Divisi Marketing. Bagi kami para karyawan, Mas Heri pribadi yang menarik, sangat perhatian kepada kami. Ya, beliau manajer favorit kami. Hidup mas Heri!!
Nah, kalau Pak Yoris ini. Eh, Papi ini.
Kita sebut saja dia PAPI saja ya, biar enak ceritanya.
Papi ini bukan idola diantara kami, dari seluruh divisi di kantor ini, bahkan divisi beliau sendiri. Bolehlah kita sebut beliau sebagai sosok POPULER. Hanya saja dalam hal ini POPULER ini bukan hal yang baik.
Seperti diawal ceritaku tadi. Memiliki istri yang POSESIF. Menimbulkan gosip dan menjadikan POPULER di semua divisi kantor kami.
Oya, Papi ini perutnya membuncit, dengan berat badan berlebih. Sebut saja GENDUT. Terlihat dari tumpukan lemak di perutnya. Hobinya pun MAKAN.
Sayang hobi makan ini disertai dengan PELIT yang luar biasa. Biasanya diantara kami selalu bergiliran membawa jajanan sebagai bekal, dan itu pasti kami saling berbagi.
Biasanya juga Papi selalu tahu dan muncul begitu saja disaat kami mulai berbagi makanan. Tidak tanggung-tanggung. Dua tangan kanan dan kiri selalu pegang makanan.
Sudah sering kami rubah jadwal berbagi makanan. Tetap saja Papi selalu tahu. Hidungnya sangat sensitif mungkin ya.
Pernah seorang teman menegur Papi.
“Papi ini, sekali-sekali bawa makanan buat kami. Ikut berbagi juga dong”
“Iya Papi ini. Masak minta ke karyawan rendahan seperti kami”
Dasar Papi. Terlalu tebal kulit dan lemak. Tak pernah menghiraukan teguran itu. Dan setiap kami punya makanan selalu saja tahu.
Kerakusan Papi ini bukan melulu makanan. Selalu saja tanpa malu bahkan setiap siang di jam istirahat menyempatkan diri pergi ke mejaku.
“Bagi rokok!”
Duh, kena palak lagi deh.
***
Sebulan lalu Papi memiliki BB baru.
Sibuk. Bertanya kesana kemari. Dari meja ke meja.
“Bagi PIN”
“Add aku di grup”
Populer kan. Memaksa setiap orang memiliki PIN BB nya.
Hingga suatu ketika, mas Heri manajer Marketing kami berteriak kesal,
“Siapa ini yang mengundang Yoris ke group kita?”
Kami hanya saling pandang.
Sejak itu satu per satu kami keluar dari group BBM marketing. Sehingga tertinggal Papi dan seorang rekan yang sudah mengundurkan diri.
Mas Heri pun segera membuat grup BBM baru, tanpa Papi. Kembali kami bebas ber-BBM seperti sebelum Papi masuk dalam grup kami.
Kemarin ketika kami sedang berbagi makanan sambil berbincang ringan tentang pekerjaan, Papi masuk begitu saja, seolah tahu ada makanan terhidang. Seperti kebiasaannya tangan kanan dan kiri pegang makanan. Ringan menikmati sambil duduk di kursiku.
“He, aku baru sadar lho, ternyata kalian sudah keluar dari grup marketing ya.” Papi memulai pembicaraan.
“Apakah karena ada Heri dalam grup itu ya, takut pembicaraan kalian bisa mendapatkan SP ya?” terbahak- bahak Papi setelah menyampaikan hal ini.
Kami pun terbahak-bahak, saling lempar pandang satu sama lain juga dengan Mas Heri. Penuh rahasia.
Bisa ditebak. Begitu Papi keluar dari ruangan kami. Meledak suara kami tertawa, hingga sakit perut dan mengusap air mata.
Kelak kami mengingat kelucuan ini.
Ah Papi, andai kamu tahu.
untuk jejakubikel
Friday, January 28, 2011
Thursday, January 20, 2011
MITONI
Tujuh kain terhampar di tempat tidurnya.
* Sidomukti
* Sidoluhur
* Truntum
* Parangkusumo
* Semen Rama
* Udan Riris
* Cakar Ayam
Tujuh motif dengan makna yang berbeda. Persiapan untuk kelak upacara tujuh bulan kehamilan.
Novi membayangkan siraman, sungkem, suaminya melepaskan telor dalam kainnya. Kelapa gading muda bergambar Kamajaya dan Dewi Ratih.
Kain pertama dikenakan.
“Tidak pantas...” Para undangan pasti berteriak sama.
Kain kedua.
“Tidak pantas...”
Hingga nanti saat kain ke tujuh di kenakan.
“Pantas...” semua setuju.
Indahnya.
Novi masih berdiri di depan cermin besar.
Mematut. Tersenyum. Bahagia.
“Sayang, masih disitu?” Anto memanggil istrinya.
“Gantilah baju, kita makan ya Sayang”
Tujuh bulan itu tak pernah ada.
Mereka sudah kehilangan 4 bulan lalu.
untuk jejakubikel
* Sidomukti
* Sidoluhur
* Truntum
* Parangkusumo
* Semen Rama
* Udan Riris
* Cakar Ayam
Tujuh motif dengan makna yang berbeda. Persiapan untuk kelak upacara tujuh bulan kehamilan.
Novi membayangkan siraman, sungkem, suaminya melepaskan telor dalam kainnya. Kelapa gading muda bergambar Kamajaya dan Dewi Ratih.
Kain pertama dikenakan.
“Tidak pantas...” Para undangan pasti berteriak sama.
Kain kedua.
“Tidak pantas...”
Hingga nanti saat kain ke tujuh di kenakan.
“Pantas...” semua setuju.
Indahnya.
Novi masih berdiri di depan cermin besar.
Mematut. Tersenyum. Bahagia.
“Sayang, masih disitu?” Anto memanggil istrinya.
“Gantilah baju, kita makan ya Sayang”
Tujuh bulan itu tak pernah ada.
Mereka sudah kehilangan 4 bulan lalu.
untuk jejakubikel
Wednesday, January 19, 2011
Belum Habis
Arum manis,
Arum yang Manis... Selalu manis.
Nama yang selalu manis.
Kuingat karena senyummu yang manis.
Meski kamu hitam, tidak merah muda seperti arum manis.
Selamat tinggal Arum yang manis.
Kelak kita bertemu lagi.
Salam manis untuk Arum yang Manis
Raka.
Empat kali empat sama dengan enambelas
Sempat tidak sempat harap dibalas.
Kesekian ratus bahkan ribuan kali. Surat berwarna merah jambu dari masa kecilku.
Kulipat lagi dengan hati-hati.
Raka pengirimnya.
Dahulu dia pindah ke kota lain dan menulis surat untukku.
Benci.
Hanya dia yang selalu mengejekku Arummanis. Arum yang manis.
Tapi semua berlalu.
Besok pagi aku menikah.
Raka dan Arummanis adalah masa lalu.
Arummanis belum habis.
untuk jejakubikel
TERBACA
Laki-laki itu berkisar usia 70 tahunan.
Kujumpai dia di daerah pecinan kota tua itu. Memandangku tajam. Seperti tersihir begitu saja, aku pun mendekat.
“Mari, berikan tanganmu” dia meminta.
“Tidak. Aku tak mau diramal.”
Sekuat hati aku menolak, kucoba sembunyikan tanganku. Kukepal erat.
Dia memaksa lagi.
Semakin kuat aku menolak, mata peramal itu tajam memandangku.
Entah sihir apalagi. Kuberikan tanganku.
Tiba-tiba Peramal itu berteriak seperti ketakutan.
“Aaah, pergi...”
“Jangan lakukan itu, Nak”
Sekuat tenaga aku berlari meninggalkannya. Tak kuhiraukan pandangan orang-orang yang lewat.
Berlari saja hingga nyaris terputus nafas.
Peramal itu tahu. Di dalam tasku ada sebilah belati.
Hari itu aku ingin membunuh lelaki itu. Sang Peramal.
Dia yang pernah membunuh ibuku.
untuk jejakubikel
Kujumpai dia di daerah pecinan kota tua itu. Memandangku tajam. Seperti tersihir begitu saja, aku pun mendekat.
“Mari, berikan tanganmu” dia meminta.
“Tidak. Aku tak mau diramal.”
Sekuat hati aku menolak, kucoba sembunyikan tanganku. Kukepal erat.
Dia memaksa lagi.
Semakin kuat aku menolak, mata peramal itu tajam memandangku.
Entah sihir apalagi. Kuberikan tanganku.
Tiba-tiba Peramal itu berteriak seperti ketakutan.
“Aaah, pergi...”
“Jangan lakukan itu, Nak”
Sekuat tenaga aku berlari meninggalkannya. Tak kuhiraukan pandangan orang-orang yang lewat.
Berlari saja hingga nyaris terputus nafas.
Peramal itu tahu. Di dalam tasku ada sebilah belati.
Hari itu aku ingin membunuh lelaki itu. Sang Peramal.
Dia yang pernah membunuh ibuku.
untuk jejakubikel
Wednesday, January 12, 2011
Senyum Bunda
Selesai bacaan novelku pagi ini. Penghilang jenuh setiap hari sembari menunggu dokter dan suntikan obat, di atas ranjang rumah sakit ini.
Pintu terbuka. Itu Bagas 18 tahun. Anakku. Kami berpelukan. Beruntung kakiku saja yang lumpuh.
Melepaskan diri, Bagas keluar ruangan.
Jeda waktu terdengar ketukan jendela kaca. Bagas dan balon berwarna kuning. Setelah mendapat perhatianku, dilepasnya semua.
Kembali dia masuk dan memelukku. Bercerita yang dilakukannya tadi.
“Kemarin kulihat pelangi tapi tak terlihat warna kuning .”
Aku menunggu.
“Kulepaskan tadi agar warna kuning menyempurnakan warna pelangi.Agar senyum Bunda selalu sempurna seperti lengkung dan indah warna pelangi.”
“Aku sayang Bunda.”
Kubalas sayangnya dengan bahasa isyarat juga, cara kami berkomunikasi.
untuk jejakubikel
Pintu terbuka. Itu Bagas 18 tahun. Anakku. Kami berpelukan. Beruntung kakiku saja yang lumpuh.
Melepaskan diri, Bagas keluar ruangan.
Jeda waktu terdengar ketukan jendela kaca. Bagas dan balon berwarna kuning. Setelah mendapat perhatianku, dilepasnya semua.
Kembali dia masuk dan memelukku. Bercerita yang dilakukannya tadi.
“Kemarin kulihat pelangi tapi tak terlihat warna kuning .”
Aku menunggu.
“Kulepaskan tadi agar warna kuning menyempurnakan warna pelangi.Agar senyum Bunda selalu sempurna seperti lengkung dan indah warna pelangi.”
“Aku sayang Bunda.”
Kubalas sayangnya dengan bahasa isyarat juga, cara kami berkomunikasi.
untuk jejakubikel
Monday, January 10, 2011
HITAM PUTIH
Sang Imam
Perempuan itu memasuki bilik pengakuan dan segera menutup pintu. Kini berdualah mereka. Dibalik sekat seorang lelaki berbaju putih panjang sedikit mengangkat pandangan ke balik sekat bilik kecil itu.
Menghela napas.
Perempuan itu lagi. Setelah semalam berhasil menemuinya. Dengan alasan konsultasi.
Tapi mata merayu, tubuh yang basah mengangkangkan iman sejeda membuat seorang Imam kembali menjadi manusia.
Sore ini menemuinya kembali dalam bilik pengakuan bersekat.
“Bapa, saya mau mengaku...”
****
Sang Ustad
Malam telah pekat. Musik dangdut masih keras berlagu mengiringi seorang perempuan nyaris tanpa penutup.
Berlenggok, bergoyang, bernyanyi, bahkan mendesah gelinjang.
Sesekali terlihat peluh mengalir masuk ke celah terdalam dibusung dada.
Sang Ustad resah duduk di kursi terdepan. Tersenyum dan menjawab kepada sebelah tamu juga. Mengangguk.
Mata terlempar ke adegan panggung, tadi tempat berceramah di perhelatan ini. Seingat seminggu berlalu, perempuan di panggung itu menemuinya di vila.
Merayu melontarkan semua auratnya.
****
Sang Pejabat
Terkejut.
Tamu rombongan memasuki ruang rapat besar.
Ada perempuan semampai, rambut indah terurai.
Harum. Cerdas. Sang pejabat melihatnya.
Tanpa terlihat resah, tersenyum kepada rombongan yang datang.
Bersalam, dan duduk.
Sang perempuan melempar senyum, kerling, kibas rambut halus. Melepaskan syal di leher yang membuka leher jenjang dan sedikit dada putih.
Cara yang sama seperti tadi malam saat memasuki kamarnya di hotel itu.
Gerah ruangan itu.
****
Perempuan #1
Hana memasuki bilik pengakuan. Hanya ini yang tersedia di gereja. Dan telah membaca sebuah nama di pintu siapa yang di dalam sana.
Gelisah. Apalagi jika mengingat malam itu.
Terpesona. Sosok yang suci, berwibawa dan bijaksana. Seperti yang diidamkan.
Menutup pintu.
Berlutut. Dari balik sekat.
Terdengar suara yang membuat ingin kembali di malam itu. Dalam desah di kepala.
“Bapa, saya mau mengaku...”
****
Perempuan #2
Peluh mengalir memasuki celah ruang dadanya.
Fitri nama perempuan itu.
Bergoyang mengikuti nyanyian di atas panggung.
Melabuh pandang ke arah kursi undangan. Malam seminggu lalu.
Lelaki itu adalah Sang Ustad itu.
Entah siapa yang menginginkan. Fitri hanya perlu datang ke vila itu.
Lima orang adiknya, serta ibu dan ayah tirinya membutuhkan uangnya daripada mengasihinya.
Makin berpeluh tanpa birahi.
****
Perempuan #3
Melly melempar rambut indahnya beserta kerling tajamnya.
Melly melihatnya gelisah.
Bukan tatapan menginginkan seperti semalam.
Bersama rombongan datang ke kota besar. Dia tahu, cantik dan cerdas.
Diinginkan setiap lelaki, bahkan untuk keberhasilan tender proyek.
Seperti tadi malam di kamar sang Pejabat itu.
Gerah.
Meski ruangan dengan pendingin.
Dilepasnya syal dari leher jenjangnya.
Satu gerakan tak mengundang jalang.
****
Kabut hitam dan panas.
Enam mahluk mendesis, berasap. Tanduk. Saling menatap tajam.
Seringai. Bukan senyuman.
Satu tugas selesai. Saling seringai. Berpisah begitu saja.
Tugas baru menanti.
Kabut putih, dingin, sejuk.
Sayap.
Enam senyuman tersungging.
Bukan seringai.
Saling peluk dan cium.
Tatapan yang teduh.
Satu tugas telah selesai.
Berpisah dengan ciuman, pelukan, dan lambaian tangan.
Menyambut tugas baru.
Perempuan itu memasuki bilik pengakuan dan segera menutup pintu. Kini berdualah mereka. Dibalik sekat seorang lelaki berbaju putih panjang sedikit mengangkat pandangan ke balik sekat bilik kecil itu.
Menghela napas.
Perempuan itu lagi. Setelah semalam berhasil menemuinya. Dengan alasan konsultasi.
Tapi mata merayu, tubuh yang basah mengangkangkan iman sejeda membuat seorang Imam kembali menjadi manusia.
Sore ini menemuinya kembali dalam bilik pengakuan bersekat.
“Bapa, saya mau mengaku...”
****
Sang Ustad
Malam telah pekat. Musik dangdut masih keras berlagu mengiringi seorang perempuan nyaris tanpa penutup.
Berlenggok, bergoyang, bernyanyi, bahkan mendesah gelinjang.
Sesekali terlihat peluh mengalir masuk ke celah terdalam dibusung dada.
Sang Ustad resah duduk di kursi terdepan. Tersenyum dan menjawab kepada sebelah tamu juga. Mengangguk.
Mata terlempar ke adegan panggung, tadi tempat berceramah di perhelatan ini. Seingat seminggu berlalu, perempuan di panggung itu menemuinya di vila.
Merayu melontarkan semua auratnya.
****
Sang Pejabat
Terkejut.
Tamu rombongan memasuki ruang rapat besar.
Ada perempuan semampai, rambut indah terurai.
Harum. Cerdas. Sang pejabat melihatnya.
Tanpa terlihat resah, tersenyum kepada rombongan yang datang.
Bersalam, dan duduk.
Sang perempuan melempar senyum, kerling, kibas rambut halus. Melepaskan syal di leher yang membuka leher jenjang dan sedikit dada putih.
Cara yang sama seperti tadi malam saat memasuki kamarnya di hotel itu.
Gerah ruangan itu.
****
Perempuan #1
Hana memasuki bilik pengakuan. Hanya ini yang tersedia di gereja. Dan telah membaca sebuah nama di pintu siapa yang di dalam sana.
Gelisah. Apalagi jika mengingat malam itu.
Terpesona. Sosok yang suci, berwibawa dan bijaksana. Seperti yang diidamkan.
Menutup pintu.
Berlutut. Dari balik sekat.
Terdengar suara yang membuat ingin kembali di malam itu. Dalam desah di kepala.
“Bapa, saya mau mengaku...”
****
Perempuan #2
Peluh mengalir memasuki celah ruang dadanya.
Fitri nama perempuan itu.
Bergoyang mengikuti nyanyian di atas panggung.
Melabuh pandang ke arah kursi undangan. Malam seminggu lalu.
Lelaki itu adalah Sang Ustad itu.
Entah siapa yang menginginkan. Fitri hanya perlu datang ke vila itu.
Lima orang adiknya, serta ibu dan ayah tirinya membutuhkan uangnya daripada mengasihinya.
Makin berpeluh tanpa birahi.
****
Perempuan #3
Melly melempar rambut indahnya beserta kerling tajamnya.
Melly melihatnya gelisah.
Bukan tatapan menginginkan seperti semalam.
Bersama rombongan datang ke kota besar. Dia tahu, cantik dan cerdas.
Diinginkan setiap lelaki, bahkan untuk keberhasilan tender proyek.
Seperti tadi malam di kamar sang Pejabat itu.
Gerah.
Meski ruangan dengan pendingin.
Dilepasnya syal dari leher jenjangnya.
Satu gerakan tak mengundang jalang.
****
Kabut hitam dan panas.
Enam mahluk mendesis, berasap. Tanduk. Saling menatap tajam.
Seringai. Bukan senyuman.
Satu tugas selesai. Saling seringai. Berpisah begitu saja.
Tugas baru menanti.
Kabut putih, dingin, sejuk.
Sayap.
Enam senyuman tersungging.
Bukan seringai.
Saling peluk dan cium.
Tatapan yang teduh.
Satu tugas telah selesai.
Berpisah dengan ciuman, pelukan, dan lambaian tangan.
Menyambut tugas baru.
Tuesday, January 4, 2011
IKHLAS
Tak ada nada sambung.
Dicobanya lagi. Tetap sama saja,
Dikirimnya sebuah pesan.
“Ran, kamu baik2 saja?”
Tak terkirim.
Raka bangkit dari duduk, digenggamnya hape itu. Berjalan mondar-mandir, pikiran tak terarah. Gelisah.
Layar televisi masih menayangkan berita gempa di DIY dan Jateng. Raka tahu ada Rani di Bantul. Meski Raka belum pernah mengunjungi bertemu lagi sejak 2 tahun lalu. Hanya sebuah nomer komunikasi saja.
Kembali Raka duduk. Menatap nanar televisi itu. Berulang menayangkan foto-foto yang miris. Rumah hancur, korban berjatuhan, penduduk panik.
Menghela panjang. Dicobanya lagi menekan nomer Rani. Masih sama.
“Rani, semoga kamu baik-baik saja...” dalam gumam Raka.
Seminggu berlalu, koran, televisi masih memberitakan gempa itu. Nama para korban pun di tampilkan. Raka pun selalu melihat. Tak ada nama Rani di sana.
Raka semakin gelisah. Dia tak mungkin ke Bantul mencari Rani. Hanya nomer yang dia miliki. Rani selalu menghindarinya. Bahkan untuk menerima maaf darinya.
Sesal yang dalam. Rindu. Takut. Kuatir.
Mendesah lagi.
“Rani, kamu dimana?”
“Andai kamu membalas pesanku saja...”
Dua minggu berlalu.
Dalam gelisah Raka mencoba kembali menghubungi Rani.
Terdengar nada sambung. Lama. Tak diterima
Senang tapi resah.
Sekali lagi.
Lama. Tak diterima.
Akhirnya sebuah pesan dikirim.
“Ran, aku mendengar gempa itu. Kamu baik-baik sajakah. Aku mencarimu. Aku ingin tahu kabarmu. Ran, jawablah. Maafkan aku.”
Terkirim.
Tapi belum terbalas.
****
Sebuah pesan masuk.
Rani membaca dan gemetar, menggugu. Ada pesan Raka.
Dibaca lagi.
Sesal dan rindu menyeruak di hati. Menangis.
Lama tak segera ditulis pesan. Hanya digenggam erat.
Sebuah pesan dibalas.
“Raka, aku baik, selamat dari bencana itu. Terima kasih sudah mencariku. Tetapi sebaiknya kita tidak usah berhubungan lagi, seperti pintamu 2 tahun lalu. Aku sudah memaafkanmu, Raka.”
Terkirim.
Air mata pun jatuh.
Sakit.
Tak sesakit kala mengetahui harus kehilangan sepasang kakinya. Tertimpa balok besar saat gempa itu.
Terbaring. Mendekap hape itu. Ikhlas.
untuk jejakubikel
Dicobanya lagi. Tetap sama saja,
Dikirimnya sebuah pesan.
“Ran, kamu baik2 saja?”
Tak terkirim.
Raka bangkit dari duduk, digenggamnya hape itu. Berjalan mondar-mandir, pikiran tak terarah. Gelisah.
Layar televisi masih menayangkan berita gempa di DIY dan Jateng. Raka tahu ada Rani di Bantul. Meski Raka belum pernah mengunjungi bertemu lagi sejak 2 tahun lalu. Hanya sebuah nomer komunikasi saja.
Kembali Raka duduk. Menatap nanar televisi itu. Berulang menayangkan foto-foto yang miris. Rumah hancur, korban berjatuhan, penduduk panik.
Menghela panjang. Dicobanya lagi menekan nomer Rani. Masih sama.
“Rani, semoga kamu baik-baik saja...” dalam gumam Raka.
Seminggu berlalu, koran, televisi masih memberitakan gempa itu. Nama para korban pun di tampilkan. Raka pun selalu melihat. Tak ada nama Rani di sana.
Raka semakin gelisah. Dia tak mungkin ke Bantul mencari Rani. Hanya nomer yang dia miliki. Rani selalu menghindarinya. Bahkan untuk menerima maaf darinya.
Sesal yang dalam. Rindu. Takut. Kuatir.
Mendesah lagi.
“Rani, kamu dimana?”
“Andai kamu membalas pesanku saja...”
Dua minggu berlalu.
Dalam gelisah Raka mencoba kembali menghubungi Rani.
Terdengar nada sambung. Lama. Tak diterima
Senang tapi resah.
Sekali lagi.
Lama. Tak diterima.
Akhirnya sebuah pesan dikirim.
“Ran, aku mendengar gempa itu. Kamu baik-baik sajakah. Aku mencarimu. Aku ingin tahu kabarmu. Ran, jawablah. Maafkan aku.”
Terkirim.
Tapi belum terbalas.
****
Sebuah pesan masuk.
Rani membaca dan gemetar, menggugu. Ada pesan Raka.
Dibaca lagi.
Sesal dan rindu menyeruak di hati. Menangis.
Lama tak segera ditulis pesan. Hanya digenggam erat.
Sebuah pesan dibalas.
“Raka, aku baik, selamat dari bencana itu. Terima kasih sudah mencariku. Tetapi sebaiknya kita tidak usah berhubungan lagi, seperti pintamu 2 tahun lalu. Aku sudah memaafkanmu, Raka.”
Terkirim.
Air mata pun jatuh.
Sakit.
Tak sesakit kala mengetahui harus kehilangan sepasang kakinya. Tertimpa balok besar saat gempa itu.
Terbaring. Mendekap hape itu. Ikhlas.
untuk jejakubikel
Wednesday, December 29, 2010
Ebe
“Ting”
Pesan masuk.
Sammy: “ Di mana?”
Segera dibalas.
Lany : “Di suatu tempat, tapi kamu masih bisa mencariku”
Seperti kesal.
Lany hanya menghembuskan asap. Hampir satu jam lalu dia menyendiri di tempat ini. Kopi, buku, Netbook, dan sebungkus rokok.
Kebiasaan dari satu kegalauan dari seminggu lalu. Setelah 2 tahun berlalu tanpa Sammy. Kini Sammy berhasil mencarinya. Sebatas sebuah nomer komunikasi saja.
Resah.
“Ting”
Pesan dari Sammy, setelah cukup jeda.
Sammy : “Apa kabar?”
Pertanyaan sama. Seminggu ini paling tidak.
Lany : “Baik.”
Jawaban sama. Seminggu ini paling tidak.
Kembali sebatang baru dihembuskan. Dikirimkan sebuah pesan lagi.
Lany: “Apa kabar Mama? Raka dan Bagas? Wei, istrimu?”
Menunggu jawab.
Tiga tahun lalu. Sammy sangat mencintai Lany, meski mereka tahu itu tak mungkin. Mereka bertemu begitu
saja dalam satu cerita indah.
Cinta yang indah. Pertemuan yang indah. Saling cinta.
“Ting”
Sammy : “Mama baik, Raka dan Bagas juga, Wei iya. Terima kasih.”
Kebekuan dalam pesan, terbaca lagi. Dingin.
Dibereskan barang-barang dan membayar. Cepat meninggalkan tempat itu. Pulang.
Sammy: “Boleh aku tahu, kamu sekarang di mana?”
Tak dihiraukan pesan itu.
Sammy : “Lan, mengapa? Aku ingin menemuimu.”
Seakan bertubi.
Sammy: “Lany, aku rindu. I love you.”
Sammy: “ Lany, aku tahu ada Ebe, milikku bersamamu. Aku ingin bertemu.”
Sammy: “Lan, Wei sudah tahu. Ebe milik kita. Kami ingin bertemu Ebe.”
Entahlah. Lany merasa sakit.
***
“Ebe, Bunda pulang sayang.”
Ebe, perempuan mungil 2 tahun, segera melepas diri dari gendongan pengasuhnya. Berlari ke arah cinta Bunda.
Dipeluknya penuh cinta. Seakan hanya mereka berdua, saling memiliki. Lany dan Ebe.
untuk jejakubikel
Pesan masuk.
Sammy: “ Di mana?”
Segera dibalas.
Lany : “Di suatu tempat, tapi kamu masih bisa mencariku”
Seperti kesal.
Lany hanya menghembuskan asap. Hampir satu jam lalu dia menyendiri di tempat ini. Kopi, buku, Netbook, dan sebungkus rokok.
Kebiasaan dari satu kegalauan dari seminggu lalu. Setelah 2 tahun berlalu tanpa Sammy. Kini Sammy berhasil mencarinya. Sebatas sebuah nomer komunikasi saja.
Resah.
“Ting”
Pesan dari Sammy, setelah cukup jeda.
Sammy : “Apa kabar?”
Pertanyaan sama. Seminggu ini paling tidak.
Lany : “Baik.”
Jawaban sama. Seminggu ini paling tidak.
Kembali sebatang baru dihembuskan. Dikirimkan sebuah pesan lagi.
Lany: “Apa kabar Mama? Raka dan Bagas? Wei, istrimu?”
Menunggu jawab.
Tiga tahun lalu. Sammy sangat mencintai Lany, meski mereka tahu itu tak mungkin. Mereka bertemu begitu
saja dalam satu cerita indah.
Cinta yang indah. Pertemuan yang indah. Saling cinta.
“Ting”
Sammy : “Mama baik, Raka dan Bagas juga, Wei iya. Terima kasih.”
Kebekuan dalam pesan, terbaca lagi. Dingin.
Dibereskan barang-barang dan membayar. Cepat meninggalkan tempat itu. Pulang.
Sammy: “Boleh aku tahu, kamu sekarang di mana?”
Tak dihiraukan pesan itu.
Sammy : “Lan, mengapa? Aku ingin menemuimu.”
Seakan bertubi.
Sammy: “Lany, aku rindu. I love you.”
Sammy: “ Lany, aku tahu ada Ebe, milikku bersamamu. Aku ingin bertemu.”
Sammy: “Lan, Wei sudah tahu. Ebe milik kita. Kami ingin bertemu Ebe.”
Entahlah. Lany merasa sakit.
***
“Ebe, Bunda pulang sayang.”
Ebe, perempuan mungil 2 tahun, segera melepas diri dari gendongan pengasuhnya. Berlari ke arah cinta Bunda.
Dipeluknya penuh cinta. Seakan hanya mereka berdua, saling memiliki. Lany dan Ebe.
untuk jejakubikel
Thursday, December 23, 2010
MAAFKAN AKU
Anna dan Wenny. Mereka sepasang anak perempuan kembar. Sama-sama duduk di kelas 4 SD, bersekolah di tempat yang sama, dan di kelas yang sama. Kata Bunda mereka, Anna adalah kakak dari Wenny, karena lahir 5 menit sebelum Wenny.
Perbedaan mereka Anna memiliki tahi lalat di pundak kiri, dan Wenny memiliki tahi lalat di pundak kanan. Tentu saja yang bisa membedakan antara mereka adalah orangtua mereka. Mereka pun di beri gelang yang dapat memudahkan mengetahui Anna dan Wenny, terutama jika di sekolah. Cerdik ya Bunda mereka.
Anna mengenakan gelang berwarna merah di lengan kiri, sedang Wenny mengenakan gelang warna biru di lengan kanan.
Sebenarnya meski mereka kembar tidak selamanya serupa. Anna lebih penyabar dan perlu butuh waktu belajar yang lama jika itu tentang pelajaran di sekolah. Berbeda dengan Wenny yang selalu riang dan tidak butuh waktu lama untuk belajar pelajaran sekolah. Mereka berdua sangat kompak dan saling sayang. Meski Wenny kerap mengganggu Anna jika jam belajar tiba.
Seminggu menjelang ulangan umum, malam hari mereka belajar bersama. Dan seperti biasa Wenny yang selalu lebih cepat selesai mulai menggoda Anna yang masih kesulitan dengan soal matematika.
Tapi entah malam itu Anna sedang tak ingin diganggu, malam ini dia sangat serius belajar. Mungkin pelajaran kali ini baginya sangat membutuhkan konsentrasi tinggi.
“Wenny, tolong jangan ganggu aku,” tegur Anna mulai jengkel.
“Haha... ayolah jangan cemberut begitu, senyum dong... “ Wenny masih menggoda.
“Pelajaran itu sangat mudah, jangan cemberut...” goda Wenny lagi.
Tiba-tiba Anna berdiri, raut wajahnya memerah. Marah dan jengkel. Dia mendekati Wenny dan mendorongnya dengan keras hingga terjatuh duduk.
“Bagimu itu pelajaran mudah, tapi bagiku butuh waktu dan semua usahaku untuk mengerti semua pelajaran itu.” Duh, Anna marah.
“Suatu saat kamu akan merasakan ketika kamu lemah dan bahkan tidak bisa belajar dan mengerti itu semua,” lanjut Anna.
Anna pun pergi meninggalkan Wenny yang belum bangkit dari jatuhnya. Benar-benar marah kali ini. Wenny pun marah karena kesakitan telah di dorong. Malam itu mereka tidur dengan marah masing-masing.
Telah tiga hari mereka saling marah. Sebenarnya ada sedikit sesal dan kangen di antara mereka. Tapi mereka tak mau saling dulu meminta maaf.
Malam itu mereka belajar bersama, tanpa tegur sapa. Masih marahan. Wenny pun tidak biasanya dengan cepat menyelesaikan belajarnya. Gelisah. Badannya terasa seperti panas dan di tusuk-tusuk sesuatu. Tiga hari yang lalu dia sudah merasa tidak enak badan. Dia tidak bilang ke Bunda.
“Uh... susah sekali ini,” dalam gelisah Wenny bergumam.
“Seperti inikah rasanya, yang dikatakan Anna...”
Tiba-tiba Wenny terjatuh. Pingsan.
****
“Bunda, Wenny sudah bangun...” Anna memanggil Bundanya.
“Kamu sudah bangun sayang? “ Bunda dengan lembut mengusap kepala Wenny.
“Kamu di rumah sakit sayang, kamu tiba-tiba pingsan.”
“Kata dokter kamu sakit demam berdarah.”
“Kamu tak bilang ke Bunda kan, kala sudah merasa sakit...”
Wenny pun hanya diam.
Anna juga diam.
Mereka berdua saling pandang. Dan tiba-tiba mereka saling peluk penuh kerinduan.
“Maafkan aku ya Anna, aku selalu mengejekmu. Kini aku tahu rasanya sulit belajar.”
“Aku juga minta maaf Wenny, aku yang mendorongmu waktu itu hingga sakit. Aku kurang sabar ya.”
Bunda pun tersenyum dan mengusap air mair mata.
“Nah, gitu dong... Bunda senang kalian bertegur sapa lagi. Kalian memang milik Bunda yang manis”
“Doa Bunda sudah dikabulkan. Amin.”
“Kami sayang Bunda....”
Mereka berpelukan menangis dan saling memafkan. Berjanji lebih menghormati satu sama lain.
untuk jejakubikel
Perbedaan mereka Anna memiliki tahi lalat di pundak kiri, dan Wenny memiliki tahi lalat di pundak kanan. Tentu saja yang bisa membedakan antara mereka adalah orangtua mereka. Mereka pun di beri gelang yang dapat memudahkan mengetahui Anna dan Wenny, terutama jika di sekolah. Cerdik ya Bunda mereka.
Anna mengenakan gelang berwarna merah di lengan kiri, sedang Wenny mengenakan gelang warna biru di lengan kanan.
Sebenarnya meski mereka kembar tidak selamanya serupa. Anna lebih penyabar dan perlu butuh waktu belajar yang lama jika itu tentang pelajaran di sekolah. Berbeda dengan Wenny yang selalu riang dan tidak butuh waktu lama untuk belajar pelajaran sekolah. Mereka berdua sangat kompak dan saling sayang. Meski Wenny kerap mengganggu Anna jika jam belajar tiba.
Seminggu menjelang ulangan umum, malam hari mereka belajar bersama. Dan seperti biasa Wenny yang selalu lebih cepat selesai mulai menggoda Anna yang masih kesulitan dengan soal matematika.
Tapi entah malam itu Anna sedang tak ingin diganggu, malam ini dia sangat serius belajar. Mungkin pelajaran kali ini baginya sangat membutuhkan konsentrasi tinggi.
“Wenny, tolong jangan ganggu aku,” tegur Anna mulai jengkel.
“Haha... ayolah jangan cemberut begitu, senyum dong... “ Wenny masih menggoda.
“Pelajaran itu sangat mudah, jangan cemberut...” goda Wenny lagi.
Tiba-tiba Anna berdiri, raut wajahnya memerah. Marah dan jengkel. Dia mendekati Wenny dan mendorongnya dengan keras hingga terjatuh duduk.
“Bagimu itu pelajaran mudah, tapi bagiku butuh waktu dan semua usahaku untuk mengerti semua pelajaran itu.” Duh, Anna marah.
“Suatu saat kamu akan merasakan ketika kamu lemah dan bahkan tidak bisa belajar dan mengerti itu semua,” lanjut Anna.
Anna pun pergi meninggalkan Wenny yang belum bangkit dari jatuhnya. Benar-benar marah kali ini. Wenny pun marah karena kesakitan telah di dorong. Malam itu mereka tidur dengan marah masing-masing.
Telah tiga hari mereka saling marah. Sebenarnya ada sedikit sesal dan kangen di antara mereka. Tapi mereka tak mau saling dulu meminta maaf.
Malam itu mereka belajar bersama, tanpa tegur sapa. Masih marahan. Wenny pun tidak biasanya dengan cepat menyelesaikan belajarnya. Gelisah. Badannya terasa seperti panas dan di tusuk-tusuk sesuatu. Tiga hari yang lalu dia sudah merasa tidak enak badan. Dia tidak bilang ke Bunda.
“Uh... susah sekali ini,” dalam gelisah Wenny bergumam.
“Seperti inikah rasanya, yang dikatakan Anna...”
Tiba-tiba Wenny terjatuh. Pingsan.
****
“Bunda, Wenny sudah bangun...” Anna memanggil Bundanya.
“Kamu sudah bangun sayang? “ Bunda dengan lembut mengusap kepala Wenny.
“Kamu di rumah sakit sayang, kamu tiba-tiba pingsan.”
“Kata dokter kamu sakit demam berdarah.”
“Kamu tak bilang ke Bunda kan, kala sudah merasa sakit...”
Wenny pun hanya diam.
Anna juga diam.
Mereka berdua saling pandang. Dan tiba-tiba mereka saling peluk penuh kerinduan.
“Maafkan aku ya Anna, aku selalu mengejekmu. Kini aku tahu rasanya sulit belajar.”
“Aku juga minta maaf Wenny, aku yang mendorongmu waktu itu hingga sakit. Aku kurang sabar ya.”
Bunda pun tersenyum dan mengusap air mair mata.
“Nah, gitu dong... Bunda senang kalian bertegur sapa lagi. Kalian memang milik Bunda yang manis”
“Doa Bunda sudah dikabulkan. Amin.”
“Kami sayang Bunda....”
Mereka berpelukan menangis dan saling memafkan. Berjanji lebih menghormati satu sama lain.
untuk jejakubikel
Mengucapkan :
SELAMAT NATAL
DAMAI DI BUMI
Moment Natal adalah waktu pilihan Tuhan untuk mengajarkan pada kita bahwa Natal adalah saatnya bagi kita untuk berdamai dengan Tuhan.
Natal adalah waktunya bagi Anda untuk bertemu dengan Kristus: "...sebab sudah waktunya untuk mencari TUHAN, sampai Ia datang dan menghujani kamu dengan keadilan." (Hosea 10:12)
Tuhan tidak hanya ingin Anda berdamai dengan-Nya, Dia juga ingin Anda memiliki kedamaian dan hubungan baik dengan orang lain juga.
Musim liburan biasanya justru lebih sering menjadi waktu konflik daripada waktu untuk keharmonisan.
Semua keluarga mengalami kesulitan: ada kecemburuan, dendam, kebencian, dan kesalahpahaman.
Siapa yang Anda perlu jangkau di waktu Natal ini?
Siapa yang butuh untuk Anda kirimkan email atau telepon atau kunjungi untuk memulai proses rekonsiliasi?
Apakah ada seseorang yang perlu Anda ampuni?
Apakah ada seseorang yang Anda perlu melakukan pendekatan dan meminta maaf?
Alkitab mengatakan, "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa." (1 Yohanes 1:7)
Ketika Kristus ada di dalam saya dan Kristus ada di dalam Anda, maka kita akan mampu untuk berdamai satu dengan yang lain.
Kita tidak akan memiliki kedamaian di bumi sampai Raja Damai memerintah di hati semua orang dan itulah mengapa kita perlu berdamai dengan Tuhan dan dengan orang lain di moment Natal ini.
Tapi dimulai dengan Yesus dalam hatimu.
Tuhan memberi kita moment Natal sehingga kita bisa bertemu dengan Kristus: "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya.." (Galatia 4:4)
Hal ini berarti waktu kedatangan Kristus bukanlah kebetulan karena "segala sesuatu yang terjadi di dunia ini terjadi pada waktu yang Tuhan pilih." (Pengkhotbah 3:1)
Jangan buang-buang moment Natal tahun ini.
Sudah waktunya bagi Anda untuk berpaling kepada Tuhan. Tuhan berkata, "Sudah saatnya bagi kamu untuk berpaling kepada-Ku, Tuhanmu, dan Aku akan datang dan mencurahkan berkat kepadamu."
_______________________________________
Bacaan Alkitab Setahun :
Pengkhotbah 10-12; Galatia 3
________________________________________
Moment Natal adalah waktu yang dipilih Tuhan untuk rekonsiliasi hubungan kita dengan Dia dan dengan sesama.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
Natal adalah waktunya bagi Anda untuk bertemu dengan Kristus: "...sebab sudah waktunya untuk mencari TUHAN, sampai Ia datang dan menghujani kamu dengan keadilan." (Hosea 10:12)
Tuhan tidak hanya ingin Anda berdamai dengan-Nya, Dia juga ingin Anda memiliki kedamaian dan hubungan baik dengan orang lain juga.
Musim liburan biasanya justru lebih sering menjadi waktu konflik daripada waktu untuk keharmonisan.
Semua keluarga mengalami kesulitan: ada kecemburuan, dendam, kebencian, dan kesalahpahaman.
Siapa yang Anda perlu jangkau di waktu Natal ini?
Siapa yang butuh untuk Anda kirimkan email atau telepon atau kunjungi untuk memulai proses rekonsiliasi?
Apakah ada seseorang yang perlu Anda ampuni?
Apakah ada seseorang yang Anda perlu melakukan pendekatan dan meminta maaf?
Alkitab mengatakan, "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa." (1 Yohanes 1:7)
Ketika Kristus ada di dalam saya dan Kristus ada di dalam Anda, maka kita akan mampu untuk berdamai satu dengan yang lain.
Kita tidak akan memiliki kedamaian di bumi sampai Raja Damai memerintah di hati semua orang dan itulah mengapa kita perlu berdamai dengan Tuhan dan dengan orang lain di moment Natal ini.
Tapi dimulai dengan Yesus dalam hatimu.
Tuhan memberi kita moment Natal sehingga kita bisa bertemu dengan Kristus: "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya.." (Galatia 4:4)
Hal ini berarti waktu kedatangan Kristus bukanlah kebetulan karena "segala sesuatu yang terjadi di dunia ini terjadi pada waktu yang Tuhan pilih." (Pengkhotbah 3:1)
Jangan buang-buang moment Natal tahun ini.
Sudah waktunya bagi Anda untuk berpaling kepada Tuhan. Tuhan berkata, "Sudah saatnya bagi kamu untuk berpaling kepada-Ku, Tuhanmu, dan Aku akan datang dan mencurahkan berkat kepadamu."
_______________________________________
Bacaan Alkitab Setahun :
Pengkhotbah 10-12; Galatia 3
________________________________________
Moment Natal adalah waktu yang dipilih Tuhan untuk rekonsiliasi hubungan kita dengan Dia dan dengan sesama.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)
dari: Renungan pagi :
Copyright Christian Pocket guide 2010.
gambar : depz.blogdetik.com/tag/kartu-ucapan-natal/
Sunday, December 19, 2010
CERITA SENJA
Cangkir keramik putih. Dua sendok teh untuk kopi instan atau 1 sendok makan kopi tubruk. Seduh dengan air panas sebanyak 150ml. Gula sesuai selera.
****
Seorang wanita itu menyesap kopinya. Sedikit demi sedikit menikmati tiap sesapan. Panas untuk suatu senja. Habis tandas tak bersisa. Bahkan bekas lipstik pun dia bersihkan dengan jarinya.
Seorang pria meletakkan rokok dalam nyala di pinggir asbak. Disesapnya kopi panas itu. Nikmat dalam setiap tiupan menghalau panas, dan sesapan. Hingga tertinggal ampas.
****
Senja dingin, dalam satu meja, seorang wanita dan pria duduk berhadapan dengan cangkir kopinya masing-masing.
Bersamaan dalam sesapan terakhir. Hening.
Wanita itu berdiri, dan pergi.
Pria itu tinggal bersama ampas kopi, puntung rokok, dan sebuah cincin.
untuk jejakubikel
Friday, December 17, 2010
Tak Pernah Selesai
08.30
Secarik kertas dan pena. Telah tersedia setengah jam yang lalu.
Sepuluh menit, resah gelisah mulai menghampirinya dengan pikiran yang berkelana.
Semalam tadi bercinta dengan Wenny yang membirahi dan menggelora, yang merenggut akal dan kekuatan.
Dua malam lalu bersama Wenny, untuk berfoya-foya, dan nyaris menghabiskan uang saku sebulannya. Belanja di butik terbaik dan makan malam romantis.
Tiga malam sebelumnya. Pertama kali bertemu Wenny. Perempuan yang cantik menggoda dan seperti melepaskan satu tulang rusuknya.
Satu jam berlalu. Pandangan kosong ke arah kertas di hadapan. Pikiran pun terbang kemana tak diinginkan.
“Waktu habis.”
“Selesai tidak selesai dikumpulkan,” suara penjaga ujian.
Yoris terbangun.
Secarik kertas masih kosong dengan pena yang tak tersentuh.
Gagal lagi.
untuk jejakubikel
Secarik kertas dan pena. Telah tersedia setengah jam yang lalu.
Sepuluh menit, resah gelisah mulai menghampirinya dengan pikiran yang berkelana.
Semalam tadi bercinta dengan Wenny yang membirahi dan menggelora, yang merenggut akal dan kekuatan.
Dua malam lalu bersama Wenny, untuk berfoya-foya, dan nyaris menghabiskan uang saku sebulannya. Belanja di butik terbaik dan makan malam romantis.
Tiga malam sebelumnya. Pertama kali bertemu Wenny. Perempuan yang cantik menggoda dan seperti melepaskan satu tulang rusuknya.
Satu jam berlalu. Pandangan kosong ke arah kertas di hadapan. Pikiran pun terbang kemana tak diinginkan.
“Waktu habis.”
“Selesai tidak selesai dikumpulkan,” suara penjaga ujian.
Yoris terbangun.
Secarik kertas masih kosong dengan pena yang tak tersentuh.
Gagal lagi.
untuk jejakubikel
STACCATO
Awal bulan
Uang di rekening.
Bangun pagi, mandi, berdandan.
Mengunci kamar. Menyapa tetangga kamar kanan kiri.
Berlari kecil menyambut pagi. Senyum ke kantor.
Tengah hari. Sibuk.
Sapaan ceria dunia maya.
Telepon kolega.
Makan siang bersama.
Sore hari.
Belanja.
Telepon seorang teman. Hang Out.
Hingga malam terseyum. Tanpa beban.
***
Tengah bulan
Masih ada uang di rekening.
Bangun pagi, mandi, berdandan, sarapan.
Mengunci kamar.
Berjalan kaki menyambut pagi ke kantor.
Tengah hari. Sibuk.
Membayar tagihan
Marah. Dahi berlipat.
Makan siang sendiri.
Sore hari. Lelah. Penat
Tanpa teman.
***
Akhir Bulan.
Kosong.
Tidak sarapan tidak berdandan.
Tidak ada senyuman.
Tidak sibuk.
Tidak makan siang
Semakin lelah
Gontai dan penat.
Bertekun dalam doa sebelum tidur.
Menunggu.
untuk jejakubikel
Wednesday, December 15, 2010
ADA SISA CINTA
“Sudah?” tanyamu ketika masih dalam pelukmu.
“Hmm...?” hanya menggeliat. Kamu mengelusku mesra.
Tanpa kata menikmati berdua menghabiskan malam. Setelah segala cumbu rindu kita yang hebat.
“Ada tissue?” pintamu.
“Hanya sapu tangan. Kubersihkan sekarang ya?” pintaku.
Kuseka lembut sisa cinta yang tertumpah milikmu dengan sapu tangan biru, warna kesayangan kita. Perlahan dan berpindah ke sapu tanganku.
“Pulang?”
Aku mengangguk, melepaskan diri. Kamu menciumku. Sapu tangan kugenggam erat.
****
“Di mana?”
“Sudah di kereta,” balasku.
“Oh...”
“I love you” katamu lagi.
Hanya hening, aku tak menjawab.
“Aku ingin bersamamu lagi, suatu saat nanti,” kamu memohon.
“Tak mungkin,” akhirnya aku menjawab.
Menggugu sendiri menggenggam sapu tangan erat. Ada sisa cinta yang tumpah di sana. Kuciumi.
untuk jejakubikel
“Hmm...?” hanya menggeliat. Kamu mengelusku mesra.
Tanpa kata menikmati berdua menghabiskan malam. Setelah segala cumbu rindu kita yang hebat.
“Ada tissue?” pintamu.
“Hanya sapu tangan. Kubersihkan sekarang ya?” pintaku.
Kuseka lembut sisa cinta yang tertumpah milikmu dengan sapu tangan biru, warna kesayangan kita. Perlahan dan berpindah ke sapu tanganku.
“Pulang?”
Aku mengangguk, melepaskan diri. Kamu menciumku. Sapu tangan kugenggam erat.
****
“Di mana?”
“Sudah di kereta,” balasku.
“Oh...”
“I love you” katamu lagi.
Hanya hening, aku tak menjawab.
“Aku ingin bersamamu lagi, suatu saat nanti,” kamu memohon.
“Tak mungkin,” akhirnya aku menjawab.
Menggugu sendiri menggenggam sapu tangan erat. Ada sisa cinta yang tumpah di sana. Kuciumi.
untuk jejakubikel
PRASANGKA
Anna memandangi lagi semua saserahan tanda pengikat dari calon suaminya di atas tempat tidurnya. Semua masih terbungkus plastik dalam keranjang cantik.
“Tas tangan, dompet, sepatu, sandal.”
“Kebaya, kain, bra, celana dalam...”
“Hmm... Bedak, pembersih, penyegar, pemulas pipi, eye-shadow, pelembab, alas bedak, maskara.”
“Lipstik, kok tidak ada. Mengapa?”
Anna bingung, ragu menyeruak penuh tanda tanya. Mengapa tidak ada lipstik dalam saserahanan ini.
“Ya sayang?” terdengar suara Yoris menjawab teleponnya.
“Yoris, tidak ada lipstik di keranjang yang ini?”
Sejenak tak ada suara.
“Anna sayang...” Suara Mama, calon mertua.
“Lipstiknya ada, sayang. Kemasannya yang seperti maskara, ada kuas, berbentuk cair.”
“Mama tidak memberi maskara, karena bulu matamu sudah lentik.”
Anna pun hanya menahan malu.
untuk jejakubikel
“Tas tangan, dompet, sepatu, sandal.”
“Kebaya, kain, bra, celana dalam...”
“Hmm... Bedak, pembersih, penyegar, pemulas pipi, eye-shadow, pelembab, alas bedak, maskara.”
“Lipstik, kok tidak ada. Mengapa?”
Anna bingung, ragu menyeruak penuh tanda tanya. Mengapa tidak ada lipstik dalam saserahanan ini.
“Ya sayang?” terdengar suara Yoris menjawab teleponnya.
“Yoris, tidak ada lipstik di keranjang yang ini?”
Sejenak tak ada suara.
“Anna sayang...” Suara Mama, calon mertua.
“Lipstiknya ada, sayang. Kemasannya yang seperti maskara, ada kuas, berbentuk cair.”
“Mama tidak memberi maskara, karena bulu matamu sudah lentik.”
Anna pun hanya menahan malu.
untuk jejakubikel
