Anna dan Wenny. Mereka sepasang anak perempuan kembar. Sama-sama duduk di kelas 4 SD, bersekolah di tempat yang sama, dan di kelas yang sama. Kata Bunda mereka, Anna adalah kakak dari Wenny, karena lahir 5 menit sebelum Wenny.
Perbedaan mereka Anna memiliki tahi lalat di pundak kiri, dan Wenny memiliki tahi lalat di pundak kanan. Tentu saja yang bisa membedakan antara mereka adalah orangtua mereka. Mereka pun di beri gelang yang dapat memudahkan mengetahui Anna dan Wenny, terutama jika di sekolah. Cerdik ya Bunda mereka.
Anna mengenakan gelang berwarna merah di lengan kiri, sedang Wenny mengenakan gelang warna biru di lengan kanan.
Sebenarnya meski mereka kembar tidak selamanya serupa. Anna lebih penyabar dan perlu butuh waktu belajar yang lama jika itu tentang pelajaran di sekolah. Berbeda dengan Wenny yang selalu riang dan tidak butuh waktu lama untuk belajar pelajaran sekolah. Mereka berdua sangat kompak dan saling sayang. Meski Wenny kerap mengganggu Anna jika jam belajar tiba.
Seminggu menjelang ulangan umum, malam hari mereka belajar bersama. Dan seperti biasa Wenny yang selalu lebih cepat selesai mulai menggoda Anna yang masih kesulitan dengan soal matematika.
Tapi entah malam itu Anna sedang tak ingin diganggu, malam ini dia sangat serius belajar. Mungkin pelajaran kali ini baginya sangat membutuhkan konsentrasi tinggi.
“Wenny, tolong jangan ganggu aku,” tegur Anna mulai jengkel.
“Haha... ayolah jangan cemberut begitu, senyum dong... “ Wenny masih menggoda.
“Pelajaran itu sangat mudah, jangan cemberut...” goda Wenny lagi.
Tiba-tiba Anna berdiri, raut wajahnya memerah. Marah dan jengkel. Dia mendekati Wenny dan mendorongnya dengan keras hingga terjatuh duduk.
“Bagimu itu pelajaran mudah, tapi bagiku butuh waktu dan semua usahaku untuk mengerti semua pelajaran itu.” Duh, Anna marah.
“Suatu saat kamu akan merasakan ketika kamu lemah dan bahkan tidak bisa belajar dan mengerti itu semua,” lanjut Anna.
Anna pun pergi meninggalkan Wenny yang belum bangkit dari jatuhnya. Benar-benar marah kali ini. Wenny pun marah karena kesakitan telah di dorong. Malam itu mereka tidur dengan marah masing-masing.
Telah tiga hari mereka saling marah. Sebenarnya ada sedikit sesal dan kangen di antara mereka. Tapi mereka tak mau saling dulu meminta maaf.
Malam itu mereka belajar bersama, tanpa tegur sapa. Masih marahan. Wenny pun tidak biasanya dengan cepat menyelesaikan belajarnya. Gelisah. Badannya terasa seperti panas dan di tusuk-tusuk sesuatu. Tiga hari yang lalu dia sudah merasa tidak enak badan. Dia tidak bilang ke Bunda.
“Uh... susah sekali ini,” dalam gelisah Wenny bergumam.
“Seperti inikah rasanya, yang dikatakan Anna...”
Tiba-tiba Wenny terjatuh. Pingsan.
****
“Bunda, Wenny sudah bangun...” Anna memanggil Bundanya.
“Kamu sudah bangun sayang? “ Bunda dengan lembut mengusap kepala Wenny.
“Kamu di rumah sakit sayang, kamu tiba-tiba pingsan.”
“Kata dokter kamu sakit demam berdarah.”
“Kamu tak bilang ke Bunda kan, kala sudah merasa sakit...”
Wenny pun hanya diam.
Anna juga diam.
Mereka berdua saling pandang. Dan tiba-tiba mereka saling peluk penuh kerinduan.
“Maafkan aku ya Anna, aku selalu mengejekmu. Kini aku tahu rasanya sulit belajar.”
“Aku juga minta maaf Wenny, aku yang mendorongmu waktu itu hingga sakit. Aku kurang sabar ya.”
Bunda pun tersenyum dan mengusap air mair mata.
“Nah, gitu dong... Bunda senang kalian bertegur sapa lagi. Kalian memang milik Bunda yang manis”
“Doa Bunda sudah dikabulkan. Amin.”
“Kami sayang Bunda....”
Mereka berpelukan menangis dan saling memafkan. Berjanji lebih menghormati satu sama lain.
untuk jejakubikel
No comments:
Post a Comment