“Ting”
Pesan masuk.
Sammy: “ Di mana?”
Segera dibalas.
Lany : “Di suatu tempat, tapi kamu masih bisa mencariku”
Seperti kesal.
Lany hanya menghembuskan asap. Hampir satu jam lalu dia menyendiri di tempat ini. Kopi, buku, Netbook, dan sebungkus rokok.
Kebiasaan dari satu kegalauan dari seminggu lalu. Setelah 2 tahun berlalu tanpa Sammy. Kini Sammy berhasil mencarinya. Sebatas sebuah nomer komunikasi saja.
Resah.
“Ting”
Pesan dari Sammy, setelah cukup jeda.
Sammy : “Apa kabar?”
Pertanyaan sama. Seminggu ini paling tidak.
Lany : “Baik.”
Jawaban sama. Seminggu ini paling tidak.
Kembali sebatang baru dihembuskan. Dikirimkan sebuah pesan lagi.
Lany: “Apa kabar Mama? Raka dan Bagas? Wei, istrimu?”
Menunggu jawab.
Tiga tahun lalu. Sammy sangat mencintai Lany, meski mereka tahu itu tak mungkin. Mereka bertemu begitu
saja dalam satu cerita indah.
Cinta yang indah. Pertemuan yang indah. Saling cinta.
“Ting”
Sammy : “Mama baik, Raka dan Bagas juga, Wei iya. Terima kasih.”
Kebekuan dalam pesan, terbaca lagi. Dingin.
Dibereskan barang-barang dan membayar. Cepat meninggalkan tempat itu. Pulang.
Sammy: “Boleh aku tahu, kamu sekarang di mana?”
Tak dihiraukan pesan itu.
Sammy : “Lan, mengapa? Aku ingin menemuimu.”
Seakan bertubi.
Sammy: “Lany, aku rindu. I love you.”
Sammy: “ Lany, aku tahu ada Ebe, milikku bersamamu. Aku ingin bertemu.”
Sammy: “Lan, Wei sudah tahu. Ebe milik kita. Kami ingin bertemu Ebe.”
Entahlah. Lany merasa sakit.
***
“Ebe, Bunda pulang sayang.”
Ebe, perempuan mungil 2 tahun, segera melepas diri dari gendongan pengasuhnya. Berlari ke arah cinta Bunda.
Dipeluknya penuh cinta. Seakan hanya mereka berdua, saling memiliki. Lany dan Ebe.
untuk jejakubikel
No comments:
Post a Comment