Friday, June 10, 2011

Transaksi

by Te@embunbeningpagi

Lidya menghembuskan asap yang mengepul. Duduk di sofa merah. Posisi mengangkang lepas. Koper terbuka di atas meja berisi segepok bundel uang. Nilainya lebih dari harga-harga laku tubuhnya dimasa lalu. Perempuan anggun duduk hati-hati di sofa berhadapan.

“Cukupkah?” Perempuan anggun itu bertanya. “Kapan aku bisa membawanya?”

Asap tebal dari bibir merah Lidya makin menyesaki ruang itu. Seorang centheng membawa masuk keranjang besar.

“Bawalah,” kata Lidya. “Sampaikan pada Frid, suamimu, aku juga mencintainya. Ibu bayi itu sudah mati saat melahirkan. Terlalu muda. Dan Frid, pelanggan terbaiknya di sini.”

Melengos. Tanpa kata. Perempuan itu berlalu dengan keranjangnya. Kini juga anaknya, setelah sekian tahun perkawinan tanpa keturunan. Dibeli dari seorang germo.

Published with Blogger-droid v1.7.1

Thursday, June 9, 2011

Kubunuh Mereka

by Te@embunbeningpagi

Mbah Tardjo yang tinggal di kampung sebelah itu seorang veteran perang. Mengingat usia Beliau 83 tahun pastilah dia ikut berperang pada jaman penjajahan.

Beliau tinggal sendiri. Istrinya sudah lama meninggal sejak jaman penjajahan itu. Hingga kini dia tak menikah lagi tanpa anak . Tak ada yang merawat lagi. Hanya kebaikan seorang Mantri secara rutin mengunjunginya.

Akhir-akhir ini kesehatan Mbah Tardjo menurun. Beliau sekarang lebih sering mengomel panjang. Berbicara sendiri. Sepertinya kesadaran jiwa Mbah Tardjo makin menurun.

Kasihan. Dia pahlawan perang, banyak membunuh musuh.

Aku membunuh penjajah itu, juga istriku. Bukan orang itu yang hendak memperkosanya, tapi mereka yang berbohong.”

Gosip pun beredar. Mbah Tardjo hampir tak lagi dianggap seorang pahlawan.
Published with Blogger-droid v1.7.0

Friday, June 3, 2011

Telah Memilih

by Te@embunbeningpagi “Cindy!” sebuah teriakan keras memanggil dari dalam mobil yang melambat. Tersenyum dan melambai. Segera memasuki mobil yang telah dibukakan pintunya. Cindy dan seorang pria melaju menembus nafsu satu malam. *** Hari berganti. Siang yang penat seusai kuliah yang padat. Cindy bersiap untuk satu malam lagi. Pelanggan telah menanti. Rambut berwarna terpasang.  Lentik bulu mata buatan. Bibir memerah.  Rok  menutup sekedarnya. Dada penuh. Helaan nafas. Entah. Apakah sebuah doa memohon rejeki masih pantas dibisikkan. Perlahan memasuki  kamar sebelah. Dicium seorang perempuan tertidur. Ibunya sedang sakit.  Ranjang berikut, bocah perempuan 2 tahun, anaknya. *** Cindy, 22 tahun, asli perempuan. Memilih berdandan sebagai waria di pinggir jalan, karena lebih laku. Demi Ibu yang sakit dan anaknya.
Published with Blogger-droid v1.6.9

Monday, May 23, 2011

Aku yang Salah

“Yakin? Ini denah yang benar?” tanya Berto dengan ragu-ragu kepada Ega.

Mereka mendapat pekerjaan memotret acara perkawinan dan kini sedang menuju lokasi berbekal denah yang diberikan.

“Tapi rasanya kita dari tadi hanya putar kembali,  mengikuti lagi arah yang benar sesuai denah ini. Sebelah depan kita kan utara. Kita ada di sini. Seharusnya perjalanan pertama adalah ke kanan dulu. Lurus. Selanjutnya melewati jembatan. Ini sudah benar. Semestinya rumah yang punya hajat sudah terlewat. Tapi tidak ada tanda-tanda seperti tenda?” Kata Berto panjang lebar pada Ega yang mulai terlihat gugup.

“Berto,  maaf aku yang salah. Denah ini sudah benar. Tapi acara itu bukan hari ini, tapi dua minggu lagi.” Ega terbata berusaha menjelaskan.

untuk jejakubikel

Awal dan Akhir

Seratus hari sejak kepergian Anna, istrinya untuk selama-lamanya.  Mr. Andrew, suaminya atau biasa dipanggil Pak Dre di depan makam istrinya. Seikat mawar putih dan lilin yang hampir habis selepas untai doa rosario bagi Anna.

Sebelum meninggal,  Anna mengalami sakit kanker ganas dan telah menyebar. Pak Dre pun tahu, waktu Anna hanya sebentar. Ditemaninya Anna, disisir lembut rambut yang hampir habis. Seakan tak ingin melewatkan satu hari pun tanpa di sisi Anna. Pekerjaan sebagai arsitek pun telah dilepasnya.

Pak Dre telah merancang sebuah rumah makam  bagi istri dan dirinya kelak. Suatu saat jika waktunya tiba, sebuah rumah makam bak tempat tidur besar seperti saat memadu kasih, menguraikan segala cinta. Awal dan Akhir.

untuk jejakubikel

Friday, May 20, 2011

Lampu Aladin

“Bunda, belikan lampu aladin, seperti gambar buku ini,” Ebe kecil berteriak sambil menunjukkan sebuah gambar di buku dongengnya.

Bunda hanya tersenyum memandang penuh kasih pada Ebe, buah hati semata wayang.

“Ebe, ingin punya lampu Aladin?” Tanya Bunda sambil melihat gambar pada buku dongeng itu.

Ebe mengangguk. Bunda geli melihat pandangan Ebe.

“Jika sudah punya lampu Aladin, lalu digosok, dan wholaaa... keluar jin biru, Ebe punya permintaan apa?” kata Bunda.

“Tiga permintaan ya Bunda, seperti Aladin?” Bunda mengiyakan.

Ebe diam, berpikir. Bunda makin gemas melihatnya.

“Tiga ya...” bergumam. “Bunda jangan marah ya...? Janji?” Bunda kembali mengangguk.

“Satu... Ebe ingin berjumpa Ayah, dua... Ebe ingin punya Ayah, tiga... Ebe ingin tahu siapa Ayah....”


untuk jejakubikel

Lebih Dulu

Ada satu rahasia yang disimpan rapat oleh Ezra.
Rahasia yang ditutup rapat sejak masih usia kanak-kanak bahkan orangtua dan para kakaknya pun tak pernah tahu rahasia ini.
Ezra juga tak pernah berniat membuka rahasia itu, bahkan kelak nanti pada calon suami, Tosa yang akan segera dinikahinya.
Mistar itu pun masih tersimpan rapat, serapat rahasia yang ada pada Ezra.

****
Ada satu rahasia yang disimpan rapat oleh Tosa.
Sebilah bekas luka jahit di kepalanya. Kekalahan dan dendam Tosa.
Rahasia masa kanak-kanak lalu, suatu pertengkaran kecil dengan Ezra. Berebut mistar.
Malam Pertama. Saat pembalasan.

****
Ezra memandangi mistar dengan seringainya.
Saat Malam Pertama takkan mendapatkan Ezra yang pertama.
Sang Mistar mendapatkan  lebih dulu.

untuk jejakubikel

Wednesday, April 6, 2011

TAKDIR

“Aku benci boneka ini.”

Dini melempar boneka anak perempuan. Raut wajahnya penuh kebencian, mata bocah itu menyala penuh dendam. Ina, mamanya seperti tak terkejut melihat nyala merah kemarahan Dini. Dipungutnya boneka anak perempuan itu, dirapikan gaunnya yang berwarna merah, serta rambutnya yang berwarna keemasan terurai panjang, Bulu matanya lentik serta bisa membuka dan mengatup. Ina juga membetulkan letak kepala serta tangan dan kaki, diputar sedemikian rupa. Rapi. Dini masih mengamati Ina yang memperbaiki boneka yang dibencinya itu. Lalu Ina memberikan boneka yang telah rapi kepada Dini yang masih menyalang merah. Dini menerima tanpa ekspresi. Pergi.

Ina hanya menghela nafas. Teringat 4 tahun lalu, bocah itu ditinggalkan di depan pintu rumahnya. Hujan yang deras, petir menyambar, bersahutan dengan tangis seorang bocah perempuan sedang menggendong boneka. Matanya tajam merah, badannya panas. Ina yang menemukannya segera memeluk dan menggendong.
Seolah memerintah, gadis kecil itu berhenti menangis dan mengacungkan bonekanya ke atas, seketika hujan dan petir berhenti. Ina hanya menyimpan semua ini dalam hati dan kelak. Ada sesuatu pada diri gadis kecil ini. Ina terusik dan berjanji menyayanginya seperti anaknya sendiri.

***

“Tidak. Aku tak mau ada sepasang anak kecil menjadi pendamping di pelaminanku nanti. Merepotkan!” Dini berteriak kepada Ina. Hanya napas panjang. Sempat dilihatnya lagi sorot nyalang memerah dari mata Dini. Sungguh-sungguh marah.

Semua belum berubah, kasih sayang yang dilimpahkan dengan sabar dan tulus, tak dapat melunakkan hati Dini jika sedang tinggi peringainya. Ada saja yang tidak dimaui dengan segera. Ina pun pernah menemukan boneka Dini rusak, kepala yang dipuntir, dan dengan rambut keemasan dijambak dan dibentur-benturkan ke dinding. Dini menangis keras.

Sekali lagi kesabaran Ina yang mencoba menenangkan Dini, tak selalu berhasil. Tapi Ina sangat sayang kepada anak semata wayangnya ini meski bukan anak kandungnya. Entah siapakah ibu kandungnya. Ina tak pernah berusaha mencari tahu.

Hari itu tibalah jenjang Ina sebagai orangtua, dan jenjang Dini menuju tahap dewasa selanjutnya. “Semoga pernikahan ini menyelamatkan hidup Dini. Kasih sayang Anton semoga sabar dan berlimpah,” ada titik air dan doa di sudut mata seorang ibu.

***

“Dini, jangan lagi kau sakiti dirimu sayang,” Anton berusaha sabar, telah dua kali dalam 2 tahun pernikahannya menemukan test pack yang dibuang. Semuanya bergaris dua merah, tapi Dini selalu menggugurkan kandungannya, seperti tak sengaja. Anton tahu. Kali ini dia tak mau kali ketiga gagal lagi. “Sudah berapa bulan sayang?”

“Tiga bulan,” dingin jawab Dini. Matanya memerah. Anton tak tahu.

***

“Mama, ini sudah yang ketiga, aku tak mau menyakiti Dini juga calon anakku,” Anton melaporkan kepada Ina perbuatan Dini.

Sedih. Ina juga baru mengetahui kegagalan itu. Ina masih tak mengerti Dini begitu membenci anak kecil, apalagi jika anak kecil itu menangis, jika Dini tahu pasti akan semakin disakiti.

***

Suatu sore Anton dan Ina sibuk, hari itu mereka merencanakan sesuatu untuk menyelamatkan Dini serta calon bayi mereka, sebelum semuanya semakin menjadi.

“Tidaaak Mama, aku tidak mau, tolong mama, aku janji Mama, Anton tolong aku,” Ina tak mempedulikan raungan Dini. Sekuat tenaga pula mereka membawa Dini ke halaman belakang rumah, ada sebuah gubuk. Di sana Dini akan tinggal.

Terpasung.

Keputusan yang terbaik yang diambil demi kebaikan semua. Pintu telah tertutup. Raungan dan teriakan minta tolong masih terdengar. Ina melihat lagi sorot mata merah itu.

***

Ina panjang menghela, malam ini saatnya. Dini tiba waktunya. Anton telah pergi meninggalkan mereka. Hanya Ina yang merawat Dini seorang diri.

Hujan deras, angin menderu, petir menyambar Ina telah berada di gubuk Dini. Dia sendiri yang akan menolong kelahiran itu. Dini mulai kesakitan, meraung berteriak tak pernah ada lelah. Satu yang dipanggilnya Mama. Dini masih mengingat Ina adalah mamanya. Ina mencoba kuat, sabar menenangkan Dini.

“Mamaaaaaaa….” teriakan terakhir Dini bersamaan dengan sang bayi perempuan. Petir makin menggelegar.

Disambutnya bayi itu, segera diselimuti. Dini terkulai tangan dan kakinya masih terpasung. Ina menyadari Dini telah pergi seperti menyerahkan sebuah nyawa kepada anaknya.

Bayi perempuan mungil itu dipeluknya, digendongnya. Ditimangnya. Tiba-tiba Ina melihat sorot memerah dari mata bayi itu.

“Jangan lagi… jangan lagi….” Ina berlari keluar dalam derasnya hujan, tanpa henti sepanjang jalan sepi malam itu. Hingga kelelahan dia berhenti di suatu rumah tanpa pikir lagi, diletakan begitu saja bayi itu. Ina pun melanjutkan pelariannya.

“Semoga kelak kamu menjadi anak yang baik,” sesisip doa Ina



untuk jejakubikel

Sunday, April 3, 2011

Pulang


Bapak Ibu, aku pulang....

Masih 5-6 jam lagi perjalanan ini kembali dimulai. Wiwik menghela nafas panjang. Baru saja menempati bangku kereta api pagi ini yang akan membawanya. Pulang.

Hampir  tujuh tahun sejak kepergiannya untuk membebaskan gelisah diri yang terus mendesak. Tanpa pamit Wiwik pergi meninggalkan orangtuanya dan rumah yang telah melindunginya sekian lama.

Pergi ke kota yang akan ditinggalkannya ini,  tanpa bekal uang yang cukup, hanya sebuah alamat dan nomer telepon seseorang yang telah berjanji untuk membebaskannya dari gelisah itu. Indra.

Seseorang itu bernama Indra, sosok yang dikenalnya lewat sebuah iklan lowongan kerja di koran. Mencoba melamar, dan dijawab oleh Indra, yang bekerja sebagai HRD di perusahaan itu. Wiwik akan pergi menemuinya meski belum pernah melihatnya.

Indra sungguh-sungguh memenuhi janji, hingga satu setengah tahun saling mengenal Wiwik pun rela satu tempat tinggal bersamanya. Meski tanpa ikatan pernikahan. Mereka saling membutuhkan dan itu cukup. Hidup memang keras di kota ini, Indra sebenarnya telah memiliki keluarga yang bahagia, tapi Indra masih menginginkan Wiwik. 

Wiwik tak pernah menuntut Indra. Dia hanya butuh pembebasan gelisah dirinya, sebuah pembuktian cita-cita kepada orangtuanya.

Bapak Ibu, aku rindu...

Kereta telah berjalan 2 jam lalu. Untung saja bangku sebelah tak berpenumpang. Gerbong ini sepi, tak penuh, bukan musim libur. Menghela nafas lagi, melanjutkan bayangan kelu kerinduan.

Bagi seorang yang tak pernah pulang 7 tahun itu waktu yang sangat lama untuk melewatkan kenangan, bahkan sebuah restu tiap tahun dari orangtua. Wiwik memang tak pernah pulang. Ada banyak alasan yang menghentikan semua keinginan pulangnya. Jika itu alasan uang, mungkin sedikit benar, bagi Wiwik takkan pernah cukup, meski bagi beberapa orang uang yang dimiliki Wiwik saat ini sangat cukup untuk bekal pulang.

Alasan pembuktian sebuah cita-cita mungkin tidak juga, toh Wiwik kini menjabat di bagian penting dari perusahaan itu.

Mungkin Indra sebagai alasan. Hubungannya dengan Indra adalah sebuah kegelisahan baru yang ingin ditutupinya. Setelah Indra meninggal setahun lalu, Wiwik baru menyadari bahwa sesungguhnya dia mencintai Indra.

Masih jelas tergambar saat menerima berita kepergian Indra. Ditutupnya pintu kamar, gelap tanpa lampu, seharian menangis tanpa suara, hingga sakit memeluk erat di hati. Dan keesokannya berkerudung hitam, mengenakan kacamata hitam, Wiwik ke tempat pemakaman Indra. Tanpa terlihat, dia melihat istri Indra dan 2 anak mereka. Wiwik menangis diam bersama mereka dari kejauhan. Lirih mengucapkan selamat jalan kepada Indra.

Kembali menghela nafas.

Dua jam lagi akan tiba.  Wiwik kelelahan dalam kesedihan dan memutuskan untuk tidur. Perjalanan masih panjang.

Ibu, aku memanggilmu dalam rinduku...

Menggeliat. Wiwik bangun dari kelelahan. Sebentar lagi kereta api akan tiba di stasiun Tugu. Wiwik pun bersiap, mengemasi bawaan. Menurut Harno sahabatnya dari desa, perjalanan Wiwik diteruskan dengan bis TransJogja menuju terminal Jombor.

Kini sudah ada bis TransJogja. Wiwik telah melewatkan banyak hal. Bahkan bencana gempa dan letusan gunung pun hanya dibacanya dari koran nasional. Tanpa ada keinginan pulang.

Kereta api telah tiba. Wiwik mencoba mencari halte yang dimaksud Harno, dia mendapatkan dan beruntung jalur bis yang dimaksud tepat waktu. Nyaman.

Ibu telah meninggal, 3 tahun setelah Wiwik meninggalkan desa itu. Harno yang memberi kabar, dan juga memohonnya untuk pulang. “Kasihan Bapak,” katanya kepada Wiwik. Bersikeras. Entah mengapa dia selalu saja menahan keinginan untuk pulang.

“Ibu, aku juga rindu tapi aku tak sanggup pulang dan bersujud mencium kaki ibu. Aku terlalu kotor dan tak layak sebagai anak Ibu,” lirih dalam hati.

Aku pulang....

Bis TransJogja telah sampai di terminal Jombor. Wiwik pun telah keluar dari pintu terminal itu. Hari semakin sore.

“Den Wiwik?” sebuah suara dari andong yang tepat berhenti di depannya.

“Pakde Tarjo?” Wiwik mengenali laki-laki tua didalam andong itu. Dia bapaknya Harno, sahabatnya.

“Naik Den, saya antar. Harno memberitahu saya bahwa den Wiwik akan pulang,” Pakde Tarjo berucap dalam bahasa jawa yang halus. Wiwik pun segera naik.

“Den, saya ikut berbela sungkawa ya, Bapak den Wiwik meski sudah hampir 40 hari lalu.” Wiwik hanya terkesiap. Dia sudah tahu Bapak telah meninggal, tapi ucapan bela sungkawa dari Pakde Tarjo seolah membuka duka Wiwik yang dikubur.

“Terima kasih Pakde. Maaf sudah merepotkan Pakde dan Bude Tarjo, juga Harno. Oya, Pakde Bude dapat sungkem dari Harno,” Wiwik berkata juga dalam bahasa Jawa halus.

Perjalanan masih 30 menit lagi. Sebentar lagi dia pulang. Andong Pakde Tarjo yang mengantarkan ke rumahnya.

Dusun Cimpling. Tinggal sedikit lagi jarak yang membawanya. Rumahnya sudah terlihat. Kecil di tengah hamparan sawah yang menguning. Rumahnya masih sendirian, tetangga terdekat hanya Pakde Tarjo, itu pun berjarak hampir 150 m. Puncak gunung Merapi masih terlihat. Cantik.

“Hoooop...”Pak Tarjo menghentikan andongnya. Wiwik segera turun dan segera mengucap teri ma kasih.

“Den Wiwik, tidak apa-apa sendirian? Nanti malam biar simboknya Harno yang menemani, agar besok dapat membantu persiapan 40 hari Bapak ya.”

“Iya Pakde, terima kasih.”

Pakde Tarjo segera berpamitan dan berbalik kembali ke rumah.

Wiwik memandangi rumah kecilnya. Berkelebatan semua bayang kenangan masa kecil, masa keras kepalanya. Memasuki rumah seperti tersedot dalam arus lorong waktu. Ditelusurinya setiap ruang, membelai tiap dinding. Disentuhnya pigura foto Bapak dan Ibunya. Air mata yang tertahan, menggenang mengalir dalam kerinduan.  

“Andai saja aku pulang sebelum semuanya pergi, pasti aku bersujud memohon restu. Andai saat itu...”

Suara Ilahi memanggil dari kejauhan. Wiwik bergegas mengambil air Wudhu. Di tengah ruangan rumah dibentang alas. Sholat yang pertama ketika dia kembali ke rumah ini. Ada doa kerinduan bagi Bapak Ibu, memohon ampun. Juga bagi Indra. Cinta yang tak dimiliki.

“Bapak Ibu, Wiwik sudah pulang.”

untuk jejakubikel

Saturday, April 2, 2011

Dawai yang Membisu


Jika para dawai bergesek menyanyikan kemerduan dari hati, apakah yang terjadi?

“Hai Ella,” sebuah suara menyapa.

Terkejut. “Iya… Indra?”

Indra hanya tersenyum dan segera mengambil tempat disamping Ella. Sedikit beringsut. Bukan risih, tapi ada sesuatu yang yang harus dijaga.

Sambil meletakkan kotak biola Indra mencoba membuka percakapan. “Ikut serta latihan hari ini, Mas Adi memanggilmu juga kan?” sambil melirik pada sebuah kotak biola juga di samping Ella.

Gugup. Ella hanya mengangguk.

****

“Ella,” Indra berteriak memanggil terburu-buru membereskan alat musiknya, setelah latihan hari itu selesai.

Ella sejenak berhenti. Kembali bergegas pergi. Dia harus pergi dari tempat ini, sebelum Frid di rumah memarahinya karena tak tepat waktu.

Indra hanya dapat memandang dari kejauhan. Panggilan kerasnya seperti tak menghentikan langka Ella.

Dawai terluka yang bernyanyi dalam gelisah kesendirian. Perih.

Ella menghela nafas panjang. Untunglah  segera mendapat angkot pulang latihan hari ini tidak terlambat.

Semoga Frid tidak marah lagi. Doanya dalam hati, sambil meraba lengan kanan yang membiru lebam tertutup kemeja. Sakit yang tersisa semalam.  Semoga tak ada yang melihatnya.

Frid berubah sejak PHK dari tempat kerjanya.Mudah tersinggung, dan lebih memilih botol-botolnya. Tak peduli lagi dengan Ella, istrinya. Semalam Frid mabuk lagi, kembali Ella menjadi sasaran pelampiasan, dihempas, dipukul. Ciuman pun menjadi nafsu jalang, terburu-buru, kasar, dan menyakiti. Dan ada perempuan lain. Lebih binal.

Sudut dapur yang gelap, sembab mengalir tanpa suara. Bukan karena perempuan binal itu. Semoga luka-luka ini tak mengganggu latihan, hari pertunjukan semakin dekat, Mas Adi pasti lebih keras menuntut sempurna. Harus bisa, karena ini pekerjaannya untuk mendapatkan uang yang tak mungkin dari Frid lagi.

Dawai pun bernyanyi dalam kerinduan memanggil kekasihnya yang membisu.

“Ah, perempuan itu…Ella…,” Indra mendesah kecewa, mungkin saja panggilannya kurang keras.

Indra mengenalnya di studio Mas Adi. Seorang senior, tapi 2 tahun yang lalu tak pernah ikut latihan, baru 3 bulan lalu bergabung kembali. Indra pernah memergokinya bermain sendiri, indah, gesekan yang lembut, mengalun tapi seperti terluka. Bahkan jika saat itu ada seorang balerina, pasti akan terhipnotis menari dengan alun dawai gesek yang indah itu. Luar biasa, gesekan seorang maestro.

Dua tahun menghilang dan kini bergabung kembali. Indra tahu Ella telah menikah dengan Frid, tapi bukan pernikahan yang seindah gesekan dawainya. Perempuan yang cantik dengan mata dan dawainya yang seperti menyimpan luka.

Selesai latihan tadi, Indra berharap dapat mengajaknya bercakap-cakap, sekedar berkabar yang menghilang. Serta sebuah tanya  tentang lebam di lengan kanan Ella saat mengangkat busur biola tadi. Bisa saja mungkin karena terjatuh. Semoga bukan.. aaah Indra pun kembali membereskan alatnya. Menyimpan kembali pertanyaan itu.

Busur itu takkan melukai dawai, dia hanya menggesek agar dapat memberi nada yang indah.

Sore itu Indra sengaja menunggu Ella di depan gedung tempat mereka berlatih. Indra melihatnya turun dari sebuah angkot. Wajah Ella pucat, nampak tak sehat.

“Hai, sendiri? Tidak diantar Frid?”

Ella menggeleng sambil meneruskan langkah. Indra pun bergegas berjalan disampingnya. Tak sulit, karena Ella tak berjalan cepat, malahan terlihat sedikit limbung. Benar saja, ketika menaiki tangga depan, Ella hampir terjatuh. Sigap Indra menolong, lengan kanan Ella ditangkapnya erat.

“Aduh,” Ella meringis menahan sakit, pegangan Indra terlalu kuat dan membuka lebam yang tertutup rapat oleh lengan baju.

“Ella…. Luka ini… Kamu terjatuh?” terbata Indra bertanya.

“Indra, tolong lepaskan…. sakit,” kemudian Ella segera merapikan lengan bajunya, menutup rapat kembali luka itu. “Jangan bilang ya, aku hanya terbentur kemarin di pintu angkot.”

Indra menatap Ella. Diangkatnya wajah itu. “Frid yang melukaimu?”

Ella tersenyum, “Aku mencintainya.”

Mereka pun berjalan memasuki gedung, Indra mencoba melindungi Ella, tangannya menyentuh punggung Ella. Tapi ditolak dengan tersenyum, “ Tolong, jangan.”

Indra tahu, pasti ada luka lagi disana.

Bolehkah dawai itu menolak memberikan nada yang indah, jika busur itu semakin menyakitinya?

“Ella!!” Indra menghentikan mobilnya ketika dilihatnya Ella sedang menunggu angkot.

“Mau kemana? Ayo kuantar.”

Terlihat ragu. Tapi akhirnya Ella pun bersedia.

“Dari mana, mau kemana?” Indra membuka tanya. Ella hanya diam tak menjawab. “Mmm… kulihat kamu membawa kotak biolamu, hari ini tak ada latihan, jadi ada apa?”

Tetap diam tanpa jawab. Sebuah titik basah mengalir di pipi. Indra melihatnya. Dan segera mengulurkan selembar tissue.

“Oh Ella, ada apa denganmu? Baiklah, kuharap kamu tidak keberatan, ini yang terdekat adalah ke apartemenku, kita ke sana.” Indra pun memacu secepat mungkin.

Memasuki  apartemen Indra. Ella menangis tanpa suara. Mereka duduk di sofa itu. Indra mencoba memeluk Ella.

Sedikit menjauh berusaha menolak. Mereka saling berpandang. Indra memegang wajah Ella, menghapus air mata.  Ella tak menolak.

Ella perlahan melepas  pashmina yang menutup tubuhnya. Kemudian berbalik memunggungi Indra, diangkatnya geraian rambut panjangnya. “Indra, bukalah gaunku.”

“Tapi Ella….”

“Bukalah kau akan tahu,” suara Ella memohon dengan punggung menghadap Indra.

Indra pun menurut. Perlahan. Restliting itu dibuka. Ella hanya memejamkan mata, dan air mata yang semakin deras.

“Oh Ella… Fridkah yang melakukan ini?” terbelalak Indra, melihat semua parutan luka dipunggung Ella. Bekas luka, luka baru, luka akan sembuh, bahkan ada yang bernanah. Dibaliknya segera tubuh Ella, direngkuhnya dengan hati-hati tubuh itu ke dadanya, dan diciuminya rambut dan wajah Ella.

“Aku mencintainya Indra, aku sangat cinta. Apapun yang dia lakukan terhadapku aku terima, karena aku mencintainya,” dalam gugu Ella berusaha menjelaskan.

Indra menahan keinginan merengkuhnya lebih dalam . Ingin melindungi perempuan ini. Perempuan yang 2 tahun lalu dicintainya diam-diam.

Dalam diam jeda panjang mereka hanya berbincang dalam hati.

“Ella, di mana Frid sekarang?” tanya Indra masih memeluk Ella.

“Aku… aku mencintainya Indra, tapi aku harus melakukannya, aku harus pergi.”

Ella melepaskan diri. Digapainya kotak biolanya itu dan dibukanya. Sebuah biola Ella yang biasa dimainkan, tapi kini biola  itu retak, dan masih ada bercak darah segar serta beberapa lembar rambut yang tersangkut di retakan itu.

“Ada seorang bayi disini, dan itu cinta kami yang harus diselamatkan.”

Dawai pun tak sakit, tapi tak ada nada indah lagi. Membisu.


untuk jejakubikel

Saturday, March 19, 2011

Pesanan Emak

Kaki kecilnya setengah berlari, tersaruk di jalanan berdebu,  terik menyengat. Sesekali menoleh ke belakang. Aman.

Nafas memburu, berpeluh. Tangannya membekap bungkusan bubuk putih pesanan Emak  dibeli dari Babah Ang. Teringat pesan untuk berhati-hati dengan orang tak dikenal.

Merasa diikuti. Ketakutan. Untung rumah semakin dekat. Emak pasti menunggu.

****

Lelaki itu berusaha mengikuti langkah gadis kecil itu. “Sial, kemana dia tadi?” Lelaki itu mengatur nafas. Dari kejauhan kembali melihat bayang gadis kecil itu. “Hah, sama saja  akhirnya ke rumah si pembuat tahu itu, tak perlu mengejarnya.”

****

Mereka terkejut seorang laki-laki sudah didepan pintu rumah.

“Ini, kembalian yang tertinggal,” terengah-engah sambil menyerahkan uang. “Saya pesuruh Babah Ang.”

untuk jejakubikel

Thursday, March 17, 2011

Tetap Begini

"Indra, jika kelak aku meninggalkanmu lebih dahulu, apalagi dengan sakitku ini yang tak mungkin dapat disembuhkan, kuharap engkau mau memenuhi permintaanku ini. Dengar baik-baik ya, catatlah jika memang diperlukan."

Indra hanya mengangguk mengiyakan. Dia tahu temannya sakit keras, dan mungkin sebentar lagi dirinya pun akan sakit yang sama.

"Aku ingin kamu yang memandikan aku. Tak perlu buru-buru memberitahu keluargaku tentang kematianku, bahkan mengapa aku mati. Jika saatnya mereka tahu aku mati, jangan biarkan mereka melakukan otopsi atas diriku. Itulah aku menginginkan kamu yang memandikan aku, mendandaniku secantik seperti yang kau kagumi sebelum aku sakit."

Indra berusaha menahan air matanya.

"Satu lagi, di batu nisanku tetap tertatah Janiza Yuliwati, bukan Jaka Yuliawan."

untuk jejakubikel

Wednesday, March 16, 2011

Lampiran Surat

Sayangku, kekasihku

Siang yang terik tadi aku datang di kafe tempat kita biasa bertemu, seperti janji  semalam untuk bertemu lagi. Janji memadu kasih, mengurai simpul kerinduan di hati kita.

Aku menemukan dirimu, tapi kamu tak sendiri. Ada seorang perempuan satu lagi. Istrimu.

Sakit sayang, kamu hanya memandangku dari jauh. Matamu setajam pisau bedah yang mengiris jantungku. Mengiris kecil-kecil hingga serpihan terakhir layaknya seonggok daging cacah.

Kamu tak pernah tahu, ada sebilah pisau di dalam tasku. Ingin kuhancurkan wajah perempuan dan kamu. Kuambil jantung kalian dan kucacah.

Sakitkah sayang?

Jangan kuatir sayang. Jika kamu membaca ini, kulampirkan sebongkah daging cacah untukmu dan istrimu. Entah jantung siapa. Mungkin milikku.


Yang tersakiti

perempuanmu lain


Thursday, March 10, 2011

(sebuah) Kegagalan atau Keberhasilan

Hanya satu yang kuinginkan. Aku tak ingin mengenalmu lagi. Dan dia. Selamanya.


Sakit.
Ruri memutuskan untuk meninggalkan dari rumah harapan mereka, bunga-bunga koleksinya, kehangatan keluarga besar, dan dari Yoyo suaminya. Serta semua kenyamanan.

Pergi.
Satu keputusannya. Setelah Yoyo lebih memilih perempuan itu dan janin. Cukup. Ruri memilih pergi setelah semua pertengkaran, dan semua kesalahan kegagalan pernikahan dibebankan kepadanya.

Jika saja...
Ruri lebih cantik, Ruri lebih menarik, Ruri lebih bisa berdiskusi, Ruri lebih mengerti, Ruri lebih... lebih... Ruri lebih segalanya dari perempuan itu. Bahkan mempunyai anak. Ruri kembali menyalahkan diri sendiri.

****

Yoyo menghentakkan rambutnya, buku jarinya mengeras. Bodoh, bodoh berulang kali diucapkan. Pertengkaran sekaligus perpisahan dengan Ruri, perempuan yang dinikahinya selama 5 tahun. Tanpa keturunan.

Kini ada Wenny bersama bayi. Milik mereka. Bukan dari sebuah pernikahan dengan Ruri. Wenny yang diinginkannya. Dia mencintainya. Bahkan berharap selamanya.

Dua perempuan. Juga janin dari satu perempuan.

****
Wenny terpekur.
Test Pack telah menjadi bukti. Yoyo. Mereka saling cinta dan menginginkan. Tapi ada Ruri, perempuan lain. Istri Yoyo.

Aku juga perempuan.
Dan aku juga mencintai Yoyo. Berulang kali dilafalkan dari sebesar rasa bersalah di sebuah pernikahan. Dialah duri itu. Kini ada kehidupan di rahimnya, buah cintanya bersama Yoyo, suami Ruri.

****

Harapan.
Siapakah pemenangnya. Pernikahan atau seorang bayi?

untuk jejakubikel

Wednesday, March 9, 2011

Sebuah Rahasia

by Te@embunbeningpagi


Rosa menanti kelahiran bayinya. Kurang seminggu menurut dokter. Danny sang suami sangat menantikan kelahiran ini. Seorang bayi dari pernikahan bersama Rosa yang telah ditunggu selama sembilan tahun.

Sembilan tahun penantian dengan segala usaha dan doa. Kehadiran sang bayi sangat ditunggu.

Seorang laki-laki atau perempuan saat ini biarlah menjadi misteri bagi mereka, meski hasil USG sudah menyatakan jenis kelamin bayi tapi mereka saling berjanji apa pun itu semua adalah anugerah luar biasa. Biarlah nanti terjawab dan menjadi hadiah terindah bagi perkawinan mereka.

“Danny, aku ingin anakku jika perempuan kuberi nama dia Arum. Pasti cantik ya...,” dengan manja Rosa memeluk lengan suaminya.

“Hmmm... terserah kamu, dia anak kita. Kalau laki-laki?”

“Entahlah Dan, aku belum menemukan sebuah nama. Aku hanya merasa anakku ini perempuan. Mungkin jika laki-laki kuberikan nama Rangga.”

Danny tercekat mendengar nama itu. Seperti ada sesuatu yang tak setuju. Danny hanya bisa mengangguk menyetujui. Rosa tersenyum melihat anggukan Danny suaminya, dan kembali mengelus perutnya, seolah berbicara dengan anaknya.

 ****

Tiga hari menjelang kelahiran. Hari itu Rosa sedang duduk saja, perutnya mulas. Danny suaminya telah berangkat ke kantor. Mulas datang dan pergi. Gelisah mungkin sudah  saatnya.

Rosa sedang merencanakan sesuatu dan harus diselesaikan hari ini. Dibuka laptopnya. Power dinyalakan. Internet telah tersambung. Hendak ditulisnya sebuah email.

Berpikir dan menimbang. Bercampur resah dan gelisah. Jari-jarinya di atas tuts keyboard.  Sebuah kata “Hi” diketiknya. Tiba-tiba Rosa mengaduh, mulasnya datang lagi dan lebih sering. Segera dimatikan laptop, dan diraih telpon genggam. Memanggil Danny.

****

Pagi itu Danny mencium Rosa istrinya sebelum berangkat kerja. Sebuah pesan berhati-hati dan segera menelepon jika terjadi sesuatu.

Menggantung sebuah resah. Dan cemburu.

Ketika nama Rangga disebut oleh Rosa sebagai calon nama bayi mereka.

Danny tahu siapa Rangga. Nama seorang laki-laki yang sudah tidak ingin diingatnya lagi.

Sebuah masa lalu.

Siang yang tak sibuk, Danny menunda telepon ke Rosa, berharap semua baik saja. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk. Rosa.

****

Bayi perempuan. Mengusap peluh dan air mata tak henti diciuminya Rosa yang nampak tersenyum dan kelelahan. Saling memeluk dan menangis. Inilah hadiah terindah di pernikahan mereka. Arum.

Danny menggendong Arum, sederet doa diucapkan di telinga Arum yang kemerahan menangis kencang. Bayi perempuan yang cantik, sehat, dan kuat.

****

Esok hari air susu Rosa sudah keluar. Hari ini dia akan mencoba menyusui Arum untuk pertama kalinya. Kerinduan seorang ibu.

Perawat sudah datang membawa Arum. Nama yang cantik, secantik bayi perempuan. Digendongnya Arum dengan penuh kasih. Disusuin. Dipandangi wajah Arum.

Teringat sesuatu. Rosa bergegas mengambil  smartphonenya. Masih sambil menyusui, Rosa berpikir untuk menulis sebuah pesan.

~Rangga yang baik.

Pukul 13.11 tanggal 01 November 2010 telah lahir Arum. Anak perempuan, anakku, anak kita. Sehat dan berambut ikal.

Benih cinta yang kau tinggalkan untukku sembilan bulan lalu. Kini kunamai dia sama seperti keinginan kita saat itu.

Dia selalu bersamaku. Kamu hanya perlu tahu ini.

Dan dia berambut ikal dan bermata coklat. Mirip kamu.

Seorang Ibu yang berbahagia

Rosa


Selesai. Belum terkirim.

Melamun. Mempertimbangkan segalanya. Semua sudah terjadi.

****

Save as draft
Hanya ini yang Rosa lakukan.

Kembali dipandangi dengan kasih Arum yang masih menyusu.

“Arum, apa pun yang terjadi, selamanya kamu milik Ibu.”

untuk jejakubikel