Saturday, December 4, 2010

SUAKA


“Bundaaa!!” teriakku lepas siang sepulang sekolah.
“Tas sekolahku sobek, beliin baru Bunda, nanti sore,” paksaku

Bunda dari dapur buru-bur u keluar mendengar teriakku.

“Ya sayang, Bunda masih harus selesaikan pesanan Tante Ambar dan Tante Kiky.”
“Tiga hari lagi harus selesai.”
 Sabar ya Nak.”

Bunda membujukku.

“Gantilah baju, basuh muka, tangan, dan kaki, makan, dan segeralah istirahat.”

Dengan enggan aku lempar tas sekolah, sepatu, dan baju begitu saja. Bunda dengan segera mengemasi semua yang aku lempar.

Sudah 3 hari, Bunda belum juga membicarakan janji membelikan tas sekolah baru.  Aku kesal dan marah dengan Bundaku seperti 3 hari lalu.

“Bunda, dah gak sayang lagi,” batinku.
“Lebih aku pergi diam-diam, biar Bunda mengerti dan sayang lagi.”

Aku diam-diam pergi dari rumah itu ketika Bunda sedang asyik dengan pekerjaan jahitannya. Bundaku memang penjahit. Bapakku sudah lama meninggal. Aku berdua dengan Bunda, dan aku kelas 5 SD.

Perjalanan siang itu sangat panas, aku lapar dan haus.  Dan ternyata aku berada di jalan ke rumah sahabatku Anti. Aku menuju rumah Anti, siapa tahu dia mau kuajak bicara tentang kekesalanku pada Bunda.

“Hai Lia,” sapa Anti ketika aku sudah di depan rumahnya.
“Masuklah, dan duduk, tunggu sebentar ya.”

Aku duduk di ruang tamu itu. Kursinya sederhana sekali, dari plastik. Rumahnya kecil dan sempit. Sama dengan rumahku.

“Tumben Lia?”
“Ayo minum dulu.”

Aku segera minum.

“Iya, aku mau coba catat beberapa pelajaran yang kayaknya sih aku tertinggal tadi.” Aku beralasan.
“Aku pinjam, aku catat di sini saja ya.”

“Boleh Lia.” Jawab Anti.
“Kita di dalam kamar saja ya, tapi kamarku sempit,  aku harus berbagi dengan 3 adikku.”

Diajaknya aku masuk kamar Anti.

Sempit, dan ada 2 tempat tidur yang kecil pula. Lalu di sudut kamar ada meja belajar yang digunakan Anti berdua dengan adiknya.

“Ini Lia, catatlah yang kamu perlukan. Aku tinggal sebentar ya. “
“Aku mencuci baju dulu, lalu menyuapi 2 adikku lagi”
“Ibuku masih sibuk menggoreng gorengan untuk dijual nanti sore.”

Aku hanya mengangguk.

Kuamati kamar Anti yang kecil dan harus berbagi dengan saudaranya. Beda sekali dengan kamarku, meski kecil tapi aku tak perlu berbagi. Dan kamar Anti rapi, tidak seperti kamarku. Berantakan. Bunda yang selalu membereskan barang-barangku.

Dari kamar terdengar suara 2 adik Anti menangis keras. Berebut mainan. Terdengar pula suara Anti yang sabar berusaha melerai.

Kembali aku mencatat. Terdengar lagi suara Anti meminta adiknya untuk membantu membersihkan rumah.
Sibuk dan ramai rumah ini. Anti mengasuh dan memperhatikan kebutuhan adik-adiknya. Anti sabar dan tak mengeluh.

Beda sekali dengan aku. Bunda sangat memperhatikan aku. Padahal Bunda sibuk, tapi masih sabar memperhatikan kebutuhanku.

“Ah Bunda, pasti sedih tiba-tiba aku menghilang dari kamar.” Tersentak aku.

Padahal aku berencana ingin mengobrol seru dengan Anti, di kamarnya, bercanda, dan kalau mungkin aku ingin menginap di rumahnya. Tapi melihat kesibukan Anti, juga kamar yang sempit dan harus berbagi, aku merasa itu tidak mungkin.  Kasihan Anti.

“Sudah Lia?” tiba-tiba Anti masuk kamar.
“Jika sudah kita makan yuk,”
“Masih ada sedikit, bisa kita bagi aku, kamu, dan Ibuku. Adik-adikku sudah makan kok.”

Aku tersenyum.

“Anti, aku sudah selesai kok.”
“Terima kasih. Aku pamit pulang saja, Bunda pasti menungguku. Maaf ya Lia”

Buru-buru aku pamit.

Sampai rumahku sepi sekali, Bunda pasti di ruang kerjanya. Diam-diam aku masuk kamarku dan berbaring.

“Lia, kamu sudah bangun nak? Makan dulu sayang.” Bunda memanggilku dari ruang kerjanya.

Aku keluar dan ke ruang kerja Bunda. Kulihat Bunda masih menjahit dengan tekun.

“Aku sayang Bunda.” Pelukku dari belakang, dan kucium Bunda.
“Maafkan Lia, Bunda.”

Bunda berbalik dan menciumku.

“Bunda selalu sayang Lia. Kamu milik Bunda satu-satunya.”
“Kita makan yuk, Bunda sudah menunggu kamu bangun tadi.”

Dan kami pun makan bersama lagi. Aku bersyukur punya Bunda yang sabar dan baik. Bunda yang kumiliki. Aku pun tak lagi menagih tas baru pada Bunda.

untuk jejakubikel

No comments:

Post a Comment